Tag Archive | Minho

Lee Taesung hyung-nya Minho SHINee (?)

“ini siapa?? minho SHINee?? masa?? kok rada beda mukanya?? hyung-nya ya??mirip bangeeettt!!”

hehe, ada yang mikir gitu ga? *admin ngarep*

jadi sebenernya, bagi yang rada bingung itu hyung-nya minho shinee ato bukan, jawabannya adalah BUKAN pemirsa…

abang tampan di atas itu aktor korea juga, namanya Lee Taesung (이태성). nih biodata singkatnya:

  • Name: 이태성 / Lee Tae Sung (Lee Tae Seong)
  • Profession: Actor
  • Birthdate: 1985-Apr-21
  • Height: 183cm
  • Weight: 74kg
  • Star sign: Taurus
  • Blood Type: B-
  • Hobby: Sports
  • Special skill: Tuning cars, baseball
  • Family: Younger brother/singer Sung Yoo Bin

nah, saya nemu abang itu dari drama Playful Kiss, dia meranin jadi Bong  Joon Gu. perannya sih rada aneh di drama itu, awal2 nya aja saya rada ilfil..

tapi setelah beberapa episot pertama, saya mikir, “kenapa abang ini di bberapa angle dia rada mirip menong yak?”. tapi meski saya mikir gitu, saya terusin aja nonton sambil ngakak ngikik liat kelakuannya si abang dalam drama itu sambil dlm hati entar berharap abangnya rada berubah jadi keliatan tampannya di drama itu.

dan doa saya terkabul! 😀

setelah beberapa episot lagi, si abang berubah jadi prince charming gitu >///<

saya otomatis langsung treak “kyaaaaakkkk abaaaaaanggg~~!!!!” begitu ngeliat perubahan si abang. jadi tampan begituu~~ *mupeng


yang dua di atas scene dari playful kiss^^

meski kadang si abang perannya bikin ilfil:

tapi tetep aja tampaaaannnn >.<!!!

bang taesuuuuunggg~~~!!! *ileran

dan ternyata bukan saya aja yang beranggapan kalo abang taesung mirip ama abang mino. saya cari di naver, emang uda banyak yang bilang kalo lee taesung mirip ama choi minho.

yg di atas itu puto taesung-minho bersaudara (:p) yang diambil dari twitter-nya Lee Taesung. bagi yang mau follow, silakan lgsung follow @TAE_SAMA 😀

di puto itu rada ga mirip yak taesung-mino. spt yang saya bilang tadi, taesung mirip ama mino nya cuma beberapa angle  namanya juga emang bukan ade kakak ==”

semoga si abang taesung sering2 aplot puto bareng mino deh hihihihi

kasi bonus deh 🙂

hehee^-^v

= = =

Posted by: Taemznuna

Source:

wiki.d-addicts.com

naver.com

lee-taesung.jp

Advertisements

FF ㅡ Minho/Don’t push me any far (stuck)

annyeong~

ini ff ke 2 yang tadi saya bicarain di sini

ga mau banyak ngmg lagi, ini ff stuck dan sialnya saya terlanjur suka ama ceritanya tapi ga tau mau lanjutin gmna~ T^T saya kebiasaan mulai bikin ff dari adegan apa yg saya penginin ada d ff itu sih, bukan bikin alur ama plot nya dulu =_=~ ini ff ceritanya kepotong gitu di tgh2, jadi rada gaje. mudah2an rider ngerti yee maksut nya ini cerita apa

sekali lagi, ini ff stuck, dan saya ga tau bakal bisa lanjutin ato nggak. dimohon kritik dan sarannya. kalo uda baca harap komen mengenai ini ff yang ga seberapa. gomawo~~ *bow*

oh beneran deh saya suka ceritanya

-Taemznuna-

= FF =

Title: Don’t push me any far

Status: stuck

Rating: PG

Main Cast: (someone) & SHINee Minho

= = =

-Someone PoV-

Minho menatapku lekat.

“aku pulang, ya” ujarnya. Aku mengangguk meng-iya-kan.

Minho tak bergeming. Dia masih terus menatapku.

Minho pov—

Apa aku tak bisa mengecupnya sekali saja sebagai salam perpisahan untuk hari ini?

Aku ingin sekali. Rasanya benar-benar ingin turun dari motor ini dan melangkah ke arahnya. Ciuman singkat di pipi pasti sudah akan membuatku puas. Sayang, pasti dia tak akan mau. Tapi kenapa bibirku ini rasanya seperti ingin mencium sesuatu? Baiklah, udara kosong mungkin sudah cukup.

 -Someone PoV-

“muah”

Minho memajukan bibirnya seolah-olah mengecup udara. Setelah itu dipasangnya helm-nya dan pergi.

Aku menghembuskan napas berat.

Sebenarnya hatiku tergerak untuk memberinya sedikit kecupan, benar-benar ingin. Tapi itu tak boleh.

 -Someone PoV-

“kau tahu ‘kan, kalau wanita itu memiliki nafsu Sembilan kali lebih banyak dari pria?” tanyaku padanya.

“yeah, aku tahu.”

“jangan pancing kalau begitu” ujarku singkat.

“apa kau juga merasakannya?”

“merasakan apa?” tanyaku meyakinkan.

Minho memperbaiki posisi duduknya. Dia membersihkan tenggorokannya.

“kau tahu,” katanya, dia tampak sedikit tidak nyaman dengan pembicaraan ini, “saat kita bersama—kita sedang berdua, maksudku, entah kenapa rasa ingin menyentuhmu begitu besar.” Minho membersihkan tenggorokannya lagi, “yah, rasa seperti itu maksudku.” tambahnya dengan sedikit canggung.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“tentu saja ada. Nafsuku Sembilan kali lebih besar dari nafsumu, ingat?”

Minho mendelik padaku.

“itu berarti kau Sembilan kali lebih ingin menyentuhku?”

“emm..” aku berpikir sebentar, mencari kata yang cocok, “mungkin tidak sembilan, tapi ya, sepertinya yang aku rasakan lebih besar daripada yang kaurasakan.”

Minho memperbaiki posisinya lagi dengan canggung.

“kenapa tak kita coba saja, kalau begitu?” tanyanya sedikit ragu.

“coba apa?”

Minho tampak sedang merangkai kata untuk dikatakan selanjutnya.

“mencoba melakukan hal yang lebih dalam, ciuman misalnya?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

Aku tertawa ringan.

“apa kau yakin kau bisa menahannya agar tak terseret ke tahap selanjutnya?” tanyaku.

Minho mengangkat bahunya.

“kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu—“

“kalau kau tanya pertanyaan itu padaku, jawabanku adalah: aku tak bisa,” potongku, minho tampak sedikit terkejut dengan perkataanku. “mengerti? Aku tak bisa melawannya. Jadi, daripada aku terlanjur meneruskannya, lebih baik kita tak memulainya sama sekali. Setuju?”

Minho menggeleng tidak yakin.

“dengar, kalau kita membatasi diri mungkin kita bisa—“

“ya ampun, minho! Nafsuku Sembilan!” aku memotong kalimatnya lagi. Nadaku meninggi, aku tahu itu, “aku bisa saja sekarang menerjangmu dan melumat habis bibirmu itu, kalau aku mau. Kau tak pernah tahu bahwa bibirmu benar-benar menggoda di mataku! Aku selalu mengira-ngira bagaimana rasa bibirmu, apakah kenyal, sedikit basah atau apa! Kau tak pernah tahu betapa aku susah menahan perasaan itu. Dan rahangmu—ya ampun!” aku berhenti sebentar untuk menunduk. Susah payah aku menahan emosiku, menahan mulutku untuk tidak mengatakan semua yang aku pikirkan tentangnya. Aku menghembuskan napas panjang dan menatapnya lagi.  Saat bicara, nada suaraku yang tinggi sudah jauh berkurang, “kalau aku teruskan, kau akan terkejut karena mengetahui bahwa otakku ternyata sedemikian kotor. Dan aku tak mau itu terjadi.”

Minho tersenyum sambil menatapku.

“aku senang kau jujur,” katanya, “sedikit terkejut sebenarnya, mengenai pikiranmu terhadapku—kau benar ingin melumat habis bibirku?” minho tampak kehabisan kata-kata dan jelas kali terlihat di wajahnya kalau dia sedikit tak percaya dengan yang aku katakan. Minho mencoba menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan cepat, sebentar kemudian dia menggeleng kecil sambil tersenyum, seperti sedang menertawakan sesuatu yang lucu dalam kepalanya. “kau tahu? Sedikitnya, aku juga berpikiran sama tentangmu. Apa kau mau mendengarnya?” tambahnya lagi.

“tidak,” ujarku tegas sambil mengangkat sebelah tanganku, “beberapa pikiran kotor sudah lumayan mengisi otakku, aku tak mau menambahnya lagi. Terima kasih”

Minho tertawa makin keras begitu mendengar jawabanku.

“bisa kita lanjutkan belajarnya?” tanyaku setengah memaksa.

Minho mengangkat bahu. Sambil tersenyum dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap meja lagi.

“aku tak bisa mengalahkanmu untuk urusan seperti ini,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Aku hanya mendengus pelan. Menit-menit berikutnya, kami terlalu sibuk untuk bicara.

(stuck)

= = =

FF ㅡ Minho/Bite Me (stuck)

annyeong~~~

another stuck ff to publish.. ==

ini ceritanya uda lama ada d lptp saya, tapi baru keinget nya sekarang. dan berhub u/ bulan ini saya dikit nge-pablis ff, jadi nya saya pablis yang ini aja.. itung2 ngisi blog *elahhh~ ==”

ini ff masi stuck dan saya juga belum ada ide buat nyambungin nya. jujur sih belum ada niatan buat nerusin, tapi saya lumayan suka ide ceritanya sih, gmn dong? #autorgalau

mungkin waktu ntu saya lagi kesemsem ama abang mino kali ya, jadi nya saya bikin nya 2 ff yang ceritanya beda sangat. tadinya saya bingung apa 2 2 nya di pablis dalam post-an yg sama ato dibedain. akirnya setelah mikir dikit saya putusin d pablis nya dlm 2 post berbeda aja biar seru 😀 padahal kalo mau jujur nih, ntu ff 2 2 nya panjangnya ga nyampe 3 hlm word wkwkwk~ saya nge-galau sih jadinya d pablis aja 2 2 nya. kaga ade yang protes gini :p

mengenai ff yang ini, mungkin rider rada bingung ngebacanya soal nya ntar nya rider bakal nemuin kata2 ‘versi 1’ ama ‘versi 2’. itu maksutnya gini rider, saya kan bikin cerita noh, trus entah kenapa saya punya 2 cerita berbeda sbg sambungannya, jadi nya saya bikin 2 versi.. versi yg 1 cerita nya begini, versi yg 2 cerita nya begitu (apaan begini begitu yak?) pokoknya gtu deh. entar kalo uda dibaca, trus dikomen pada lbh suka versi yg mana yaa. mana tau saya jadi semangat lanjutin :p

okeh dah, kebanyakan ngomong sayanya.

eh iya 1 lagi, spt nya rate nya ini ff PG deh.. jadi yg belum cukup umur, panggil dulu orang tua nya sblm baca ini ff, okeey? 😉 /plakk

happy reading~ 🙂

-Taemznuna-

= FF =

Title: Bite Me

Status: stuck

Rating: PG

Main Cast: SHINee Minho (other casts are fake)

= = =

-Minho PoV-

Dia menatapku lama sebelum berkata, “aku ingin menggigitmu.”

Aku tersenyum simpul padanya.

“gigit saja.” kataku pura-pura tak acuh.

Dia tersenyum malu-malu mendengar pernyataanku. Aku jadi tak tahan untuk menjewer hidungnya yang merah. Dia menutup matanya sebentar karena kegelian dan kemudian memandangku lurus.

“aku benar-benar ingin menggigitmu, choi minho. Aku serius.”

Aku membulatkan bibirku, pura-pura berpikir. Detik berikutnya aku membalas tatapannya.

“gigit aku.” Ujarku singkat.

Dia tak berbuat apapun setelahnya, hanya menatapku dalam diam. Pandangannya menusuk pupilku, membuat dadaku makin bergemuruh karena bening matanya. Lingkaran hitam di sekitar matanya menggoda tanganku untuk menyentuh bagian itu dan mengecupnya. Aku kemudian menelusuri bagian wajahnya dengan bibirku. Aku tahu dia menutup matanya, merasakan tiap gesekan bibirku dengan permukaan kulitnya.

Aku berhenti di depan telinganya, menghirup napasku dalam-dalam dan berbisik, “gigitlah,”

Dia tak bergeming. Aku tersenyum puas.

“ayo gigit aku,” tantangku.

“jangan goda aku, choi minho,” ujarnya pelan.

Aku mengecup cuping telinganya.

“aku tercipta untuk menggodamu,” bisikku halus, “sekarang gigitlah aku. Jebal.”

Versi1:

Dia masih diam, tak merespon setiap kecupan yang kulayangkan ke tulang rawan telinganya.

“atau aku saja yang menggigitmu?” tawarku.

Suara dengusan pelan terdengar menyusul pertanyaanku barusan. Dengusan pelan yang terdengar meremehkan.

“kalau tak salah dari tadi kau sudah mencoba menajamkan gigi-gigimu dengan menggigit telingaku. Benar begitu, minho ssi?” katanya sambil memaksa wajahku untuk menghadapnya. Jarinya yang lembut dan dingin menyusuri kulit wajahku, mulai dari pelipis sampai pangkal rahangku. Sekali lagi kami beradu pandang.

“kau begitu.. sempurna untuk disia-siakan. Aku tak tega menggigitmu. Tak akan pernah tega. Kulit ini..,” dia berhenti untuk merapa pipiku dengan jempolnya, “begitu halus untuk ukuran manusia.” Dia berhenti sebentar, kembali meneliti wajahku dengan mata tajamnya yang lembut itu. “Aku selalu mencoba lebih keras untuk meyakinkan diriku bahwa kau bukanlah salah satu dari kami.

“buktikan bahwa aku manusia, kalau begitu. Gigitlah aku.”

Aku menatapnya dalam. Mencoba membulatkan setiap kata yang aku keluarkan agar terlihat benar-benar yakin. Sumpah, aku rela memberikan apapun untuk wanita ini. Bahkan darahku.

Versi2:

Bibir hangatnya yang kemudian aku rasakan di pangkal rahangku, dekat dengan telingaku. Aku menutup mata saat giginya menyentuh sedikit kulitku dan mulai menjepitnya. Dia tak terlalu kuat menggigit, hanya menjepit sedikit kulitku dan segera melepaskannya.

Dia mendorongku pelan agar bisa menatap wajahku.

“aku ingin menggigit hidungmu sebenarnya, atau bibirmu, atau lidahmu,” dia berhenti sebentar sebelum melanjutkannya, “atau lehermu, jika diperbolehkan.” Dia melirik leherku, hanya sepersekian detik dan kemudian menatap mataku lagi.

Aku mengecup bibirnya pelan.

“kau terlalu banyak minta,” ujarku sambil menyentil pelan hidungnya.

Dia memberengut manja. Aku tersenyum melihatnya.

“gigit semuanya, bagian apapun yang kau mau,” kataku kemudian. Senyumnya langsung mengembang.

“lidahmu saja,” ujarnya singkat. Aku tertawa mendengarnya. Pancingan yang aneh.

Aku menempelkan bibirku di bibirnya dan mengeluarkan lidahku di dalam mulutnya. Dia tak menggigitnya, hanya membalas menekan bibirku dengan bibir merahnya.

 (stuck)

===

FF – SHINee/Missing Onew (stuck)

annyeong~~

ini ff sebenar ny saya buat ny ada 5. masing2 tokoh utama ny anak SHINee. kali ini, tokoh utama ny Onew. yang tokoh utama nya Minho uda dipablis dan bisa diliat di sini. untuk ff yang Minho itu ber-genre yaoi dan (sejauh ini) ga NC (kkk). untuk 3 ff lainnya bakal saya post lain waktu krna ff2 ntu sndiri masi tll dikit buat dipablis, plot ny jga masi blum kebaca. dan sekedar informasi, ff2 yg dsebut di atas masi stuck lima-lima nya.. wkwkwk

mengenai ff SHINee/Missing Onew ini, tadinya mau saya ikutin lomba ff SHINee menjelang ultah ke-3 mereka. tapi karna saya sibuk kuliah plus ide ny stuck buat lanjutin, jadi ny saya ga jadi ngikutin nh ff ke lomba itu. naah, dari pada berjamur di lptp saya, mending d pablis d sini. dsamping itu smua, saya tau nh ff kesan ny cepet2, soalny emg dasarny jga saya cpt2 nyelesein ny karna kmrn itu lomba ny pake batas waktu.

trus juga, karna nh ff masi stuck, mgkin kalo ada waktu (plus ada ide buat nerusin), kmungkinan besar episot selanjut ny itu semua ny onew pov, jdi d sana dijelasin semua ny tentang apa yg terjadi dari awal nh ff ampe ending ny.

terakir, makasi buat rider yang uda baca plus ninggalin jejak 🙂

잘 읽어보세요~~

= FF =

Title: Missing Onew

Episode : 1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Onew (Main Cast)
  • other member of SHINee
  • other casts are fake

= = =

Author PoV—

Seorang pria berbadan besar menutup handphone-nya. Dia memandang temannya dengan tatapan khawatir.

“Kita salah orang,” ujarnya pelan.

Sang teman balas menatapnya dengan mata terbelalak. Dia tahu temannya itu tak bercanda.

“Eotteohke?” jawabnya dengan nada gusar.

Pria pertama menggeleng sambil mengangkat bahu. Keduanya tampak gelisah. Mereka mengalihkan pandangan ke sesosok pemuda yang terbaring lemah di tengah ruangan. Dari bagian kanan kepalanya mengalir darah segar yang masih baru. Wajahnya yang tampan dan putih kontras sekali dengan ruangan kumuh itu.

“Kita apakan dia? Bunuh?” tanya pria kedua, masih ada nada ragu dalam suaranya.

“Andwae, itu akan menyebabkan lebih banyak masalah.” jawab pria pertama. Pria itu mulai mondar-mandir, memegang dagunya sambil berpikir. Tiba-tiba dia menjentikkan jarinya.

“Kalau tak salah, di perjalanan ke sini aku melihat sungai. Kita buang saja dia di sana!” ujarnya kemudian.

“Apa itu tak terlalu beresiko?” tanya pria kedua bimbang.

Pria pertama menatap temannya, wajahnya benar-benar gelisah.

“Tak ada cara lain.” katanya akhirnya setelah beberapa saat berpikir, “Gaja!”

Sekali lagi kedua pria berbadan besar itu mengangkat badan si pria muda yang tak sadarkan diri.

~~~

Ga-eul meregangkan otot-ototnya. Dilihatnya mentari yang sudah makin tinggi dengan senyumnya.

“Sepertinya hari ini akan cerah,” ujarnya pada diri sendiri.

Ga-eul melangkahkan kakinya di rumput yang halus, berjalan terus menelusuri tepian sungai tempat dia biasa menyendiri. Sungai ini indah, tapi sejak Ga-eul menemukannya dia tak pernah melihat seorang pun mendatangi tempat ini selain dirinya sendiri. Ga-eul selalu menghabiskan waktu luangnya di pinggir sungai ini, dia merasa tenang di sini.

“Uugh~”

Langkah Ga-eul terhenti. Jelas sekali baru saja dia mendengar suara erangan manusia berasal dari daerah pepohonan di sebelah kanannya. Ga-eul menyipitkan matanya ke balik pepohonan, mencoba melihat siapa yang berada di sana selain dia.

Ga-eul memberanikan diri memasuki pepohonan itu. Kalau dari asal suaranya, Ga-eul yakin orang ini berada tak jauh dari pinggir sungai.

Seorang pria sedang duduk sambil memegang kepalanya saat Ga-eul melihatnya. Pria ini menatap Ga-eul dengan pandangan menyipit, dia tampak tak sehat. Ga-eul dapat melihat aliran darah kering yang menodai pelipis kanan pria ini dari tempatnya berdiri sekarang. Ga-eul terdiam menatapnya. Pria ini tampan. Benar-benar tampan.

“nuguseyo?” tanya Ga-eul padanya. Beberapa pertanyaan lain di otaknya mendesak keluar.

Pria ini melihatnya dengan pandangan bingung. Sesaat kemudian dia menggeleng.

 

Ga-eul PoV

Lahap sekali dia makan. Nasinya sampai berceceran ke pipinya.

Kutopang daguku dengan tangan.

Pria ini benar-benar aneh. Tampan, kelaparan dan hilang ingatan. Dan aku sama sekali belum pernah melihatnya di desa ini. Tak ada petunjuk apapun mengenainya, kartu identitas pun tidak.

“Kau benar-benar lupa dengan dirimu?” tanyaku tiba-tiba.

Pria ini menghentikan suapannya di udara. Dia melihatku dengan tatapan bingung dan mengangguk. Dia kemudian memasukkan suapannya ke dalam mulutnya dengan rakus. Benar-benar seperti orang bodoh.

“Namamu?” tanyaku lagi.

Dia menggeleng kuat-kuat, kali ini tak menyia-nyiakan waktunya untuk melihatku terlebih dahulu, dia masih sibuk dengan nasinya.

“Mulai sekarang namamu Kangga kalau begitu, tepi sungai.” jelasku.

Dia hanya mengangguk kuat-kuat sebagai balasan pernyataanku.

“Ayam ini enak sekali” katanya kemudian dengan mulut penuh.

Author PoV—

“Aku tak mau pulang! Aniya!! Lepaskan aku!!”

Key meronta dari pegangan erat Minho yang membelenggu lengannya. Wajah Key merah, menahan amarah sekaligus tangisan yang dipendamnya dari tadi. Usahanya untuk melepaskan diri dari Minho tak membuahkan hasil, tenaga Minho terlalu kuat untuknya.

“Hyung..” Minho menatap harap pada manajer mereka. Tangannya terasa sakit karena menahan kedua lengan Key yang terus meronta.

Manajer mereka membalas tatapan Minho dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Key.

“Ya! Kibum! Dengarkan aku!” teriaknya.

“Ani, Hyung! Aku tak akan pulang! Aku akan menemukannya! Lepaskan aku, sialan!!” umpatan Key ditujukan pada Minho, tangannya terus meronta. Dia menatap Minho dengan tatapan tergarang yang pernah dibuatnya.

“KEY!! SHINee KEY!! Kau harus profesional!!”

Amarah sang manajer tak bisa ditahan. Dia berteriak tepat di depan wajah Key.

Key sontak terdiam, matanya yang sudah merah menatap mata manajer di depannya. Kata ‘SHINee Key’ yang dilontarkan manajernya membuatnya tak bisa berkata-kata, dua kata mujarab itu menyadarkannya.

Tangan Key sudah berhenti meronta, tapi Minho belum berani melepaskan pegangannya di tangan Key. Minho takut Key tiba-tiba kabur dari ruangan itu dan bertindak bodoh, seperti yang biasa Key lakukan jika dia sedang kalap.

Manajer menarik napasnya dalam-dalam sebelum menatap Key lagi.

“Kuharap kau bisa profesional, Kibum. Kita sudah kehilangan satu, dan perusahaan tak akan mau menerima laporan bahwa dua member SHINee tidak kembali ke Seoul setelah pemotretan kali ini, kau harus mengerti itu. Dan, Jonghyun,” Manajer mengalihkan pandangannya ke arah Jonghyun yang berdiri di sebelah kiri ruangan, “Kau menggantikan posisi Jinki sampai kami menemukan dia, kau yang paling tua sekarang. Aku minta tanggung jawabmu untuk sementara waktu.”

Jonghyun mengangguk pelan, wajahnya tertunduk, sama seperti tiga member lainnya.

“percayalah, aku juga amat berharap Jinki segera ditemukan dan semua hal berat ini segera berakhir. Aku minta kalian kuat sampai saat itu tiba,” manajer menambahkan kata-katanya. Sejenak kemudian dia keluar dari ruangan itu, meninggalkan empat member SHINee di dalamnya.

“lepaskan aku,” ujar Key pelan dengan kepala masih tertunduk.

Minho mengendurkan pegangannya, dia masih menatap Key cemas. Saat Key menjatuhkan tubuhnya di kursi, barulah Minho berani menjauhinya.

Key menutup wajahnya. Sebuah hantaman keras baginya mengetahui bahwa Onew hilang di desa kecil ini. Beberapa pikiran penuh penyesalan memenuhi benaknya. Andai saja malam itu dia yang menggantikan Onew membeli jus di mini market terdekat. Andai saja dia mengesampingkan sedikit sifat egoisnya dan tidak dengan hati puas menyuruh Onew yang kalah dalam permainan kecil yang mereka lakukan malam itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Akan lebih baik bagi SHINee kalau dia yang hilang, bukan Onew.

[Desa ㅇㅇㅇ]

Ga-eul PoV—

“Aku pulaang~”

Suara Sunggi terdengar dari ruang depan. Hal yang terdengar kemudian adalah derap langkahnya yang cepat-cepat.

“Nuna, aku pulang!” teriaknya saat membuka pintu geser ruang keluarga kami.

“Ye! Ara!” ujarku ketus tanpa mengalihkan pandanganku dari rajutanku.

Adik laki-lakiku, Sunggi, masih berumur duabelas tahun dan bersekolah di satu-satunya sekolah dasar di desa kami.

“Nuna! Tadi aku menang main bola melawan kelas sebelah!” ujarnya dengan keras.

“Oh, ya?” tanyaku sedikit bersemangat dan akhirnya menoleh padanya, “Berapa skorny—OMOO~!!!!”

Mataku terbelalak saat melihat Sunggi. Baju seragam sekolahnya penuh lumpur, hitam di sana-sini. Begitu juga dengan wajah, tangan dan kakinya.

“Ya!! Kau habis main bola atau habis main dengan babi??!!” bentakku, “Siapa yang akan mencuci bajumu, memangnya, hah?? Aku! Aissh~!! Lepas bajumu!!”

Sunggi hanya nyengir.

“Hehe~ yang penting aku ‘kan menang, nuna~ Ini bunga untuk nuna.”

Sunggi menyerahkan lima tangkai bunga mawar kepadaku. Emosiku sedikit melunak begitu melihat bunga segar itu. Beginilah dia, menyebalkan, tapi selalu bisa membuatku tersenyum.

“Kau menyogokku ya?” tanyaku dengan pandangan sinis. Aku menerima bunga-bunga itu dari tangannya, “Gomawo~”

“Aku tahu nuna akan suka” katanya lagi. Sunggi melepas bajunya dan berlari cepat-cepat menjauhiku.

“Aku mandi dulu, ya, nuna~!” teriaknya sambil berlari.

Aku terdiam sebentar sebelum teringat sesuatu.

“Ya!! Di kamar mandi masih ada Kangga!!”

Percuma saja, Sunggi pasti tak bisa mendengar kata-kataku.

Biarlah, sesama lelaki ini, pikirku dalam hati.

Aku menyebrangi ruangan, mengambil gelas tinggi, mengisinya dengan air dan meletakkan lima tangkai mawar itu ke dalamnya. Aku letakkan gelas beserta mawar itu di atas meja makan kami. Sambil tersenyum, aku menatanya sedikit.

“GYAAA~~~ NUNAAAA~~~~!!!!!”

Aku tersentak. Itu suara Sunggi.

Aku langsung berlari ke halaman belakang dengan panik.

Apa yang terjadi dengannya?

“Sunggi-ya! Gwaenchanhayo?” aku tersandung-sandung di halaman rumah yang berbatu-batu. Kulihat Sunggi yang menunjuk-nunjuk ke dalam bilik kamar mandi.

“Ada alien, Nuna!” ujar Sunggi dengan wajah takut.

Sedetik kemudian Kangga keluar dari dalam bilik.

“Di mana ada alien?” tanyanya bingung.

“Gyaa~~ Aliennya muncul~!! Nuna!! Selamatkan aku!” Sunggi berlari ke belakang punggungku dan melihat Kangga dengan wajah takut.

“Babo! Dia manusia! Kau sebodoh apa, sih?” aku menjitak kepala Sunggi pelan. Kangga hanya menatap kami dengan bingung.

“Manusia? Jeongmalyo?” tanya Sunggi polos, “Kenapa tampan sekali?”

Kangga tampak sedikit terkejut saat mendengar perkataan Sunggi, mukanya bersemu merah.

“O? gamsahamnida.” ujarnya pelan sambil menggaruk sedikit bagian belakang kepalanya. Dia tampak salah tingkah dan terlihat makin tampan.

“Kangga-ssi, ini adikku.” Aku memperkenalkan mereka berdua, “Sunggi-ya! Beri salam!”

“Annyeonghaseyo, Sunggi imnida~” ujar Sunggi, dia masih terlihat takut.

“A-annyeonghaseyo~” Kangga ikut memberi salam dan sedikit membungkukkan badannya.

“Kangga-ssi, apa kau mau istirahat? Kau bisa berbagi kamar dengan Sunggi.” kataku pada Kangga yang masih tampak kebingungan. Kasihan sekali, pasti benturan di kepalanya sangat keras sampai dia tampak seperti orang linglung begitu.

“Ye, gamsahamnida~” Kangga mengangguk dan berjalan mendahuluiku. Aku memperhatikannya sampai dia masuk ke dalam rumah.

Tarikan di bajuku mengalihkan pandanganku dari Kangga. Saat aku lihat ke bawah, Sunggi sedang menatapku dengan senyum lebarnya.

“Mwora?” tanyaku ketus.

“Pacar nuna, ya?” tanya Sunggi sambil memainkan alisnya.

Aku langsung menjitaknya.

“Aissh~! Bukan! Nanti aku ceritakan!” ujarku sedikit kesal, “Sudah, mandi sana!”

[Kantor SME]

Author Pov—

BRAKK!!!

“Jangan macam-macam!! Apa yang kalian lakukan selama di sana, hah??!  Dengan mudahnya kau mengatakan kalau salah satu member SHINee hilang saat pemotretan!! Kau tahu kalau acara ulang tahun SHINee yang ketiga akan diadakan tiga minggu lagi!! Kau ingin kantor kita diserbu fans-nya??!! Aissh~!!”

Direktur utama SM entertainment murka di seberang meja kerjanya yang hitam berkilat. Manajer SHINee hanya tertunduk di depannya. Dalam hati dia mengutuk, tapi entah mengutuk siapa dia pun tak tahu.

“Dengar! Ini hal serius! Kuharap berita ini tak sampai ke telinga Netizen atau media manapun. Hal ini harus ditutupi, kau mengerti?!” ancam direktur utama kepada manajer SHINee.

“Ne. Algesseumnida, Sajangnim” ujar manajer SHINee sambil menggangguk, “Saya permisi.” Dia tak mau lagi berlama-lama di ruangan panas itu. Kepalanya sudah cukup pusing saat mengetahui bahwa Onew hilang di tempat pemotretan lima jam yang lalu saat mereka masih di sana.

Sekarang seluruh member SHINee, minus Onew, sudah kembali ke Seoul. Jadwal SHINee makin padat menjelang ulang tahun mereka yang ketiga ini dan semuanya harus dilakukan tanpa kehadiran sang leader.

[Desa ㅇㅇㅇ]

Ga-eul PoV—

“Kau yakin, Sunggi?” bisikku pada Sunggi. Sunggi mengangguk kuat-kuat sebagai jawaban.

“Aku yakin sekali, nuna. Dia onew SHINee. Temanku tadi membawa majalah dari kota dan aku lihat ada Kangga hyung di dalamnya. Aku yakin, Nuna, aku tak mungkin salah orang. Jeongmalyo!” Sunggi ikut berbisik dengan bersemangat.

Aku menatap Kangga yang sedang berjemur di halaman rumah kami. Sudah dua minggu lebih Kangga tinggal bersamaku dan Sunggi dan baru hari ini kami mendapat info tentang dia. Itu pun karena kebetulan ada teman Sunggi yang membawa majalah dari kota.

Tiba-tiba, Kangga menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku menggerakkan tanganku, menyuruh dia mendekati aku dan Sunggi yang sedang duduk di beranda rumah. Aku harus memberitahunya mengenai hal ini.

“Waeyo?” tanya Kangga saat sudah berdiri di depan kami.

Aku mengedipkan mata beberapa kali sambil berpikir. Mungkin Sunggi benar. Dia tampan, bisa jadi dia memang artis.

“Emm.. pembicaraan ini sedikit serius.” ujarku padanya. Kangga mengangguk dan kemudian duduk di sebelahku. Dia tampak benar-benar ingin tahu apa yang akan aku katakan. “Kami sudah tahu siapa dirimu sebenarnya,” aku mulai bicara, melirik Sunggi sebentar lalu menatap Kangga lagi, “Kau artis” sambungku.

Kangga tampak terkejut saat aku berkata seperti itu, mulutnya sedikit terbuka.

“Na?” katanya tak percaya. Dia menunjuk dirinya sendiri.

Aku mengangkat bahu sebagai jawaban. Sejujurnya, aku juga masih belum yakin sepenuhnya kalau dia benar-benar orang terkenal. Aku menggigit bibir sambil terus berpikir.

“Kalau memang benar kau artis..” kataku, “kita harus secepatnya menelpon ke agensi-mu”

Kangga memandangku dengan tatapan aneh, aku tak bisa mengartikan pandangannya itu. Aku mencegah kontak mata dengannya dengan melihat Sunggi lagi.

[Kantor SME]

Author PoV—

Manajer SHINee berjalan cepat menuju ruangan kerja utama kantor SME. Sebuah berita bagus menunggunya di sana.

“Annyeonghaseyo” sapa menejer SHINee saat memasuki ruangan, beberapa karyawan yang sedang bekerja mengangkat kepala mereka sedikit untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan dan kemudian sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka lagi. Manajer SHINee langsung bergerak ke meja seorang wanita yang berada di sudut ruangan, meja dengan tulisan ‘informasi’ di atasnya.

“Annyeonghaseyo, Hyuna-ssi,” sapanya lagi, “Bagaimana kabar terakhirnya?” tanyanya bersemangat.

“Telpon itu dari desa di sekitar tempat SHINee terakhir mengadakan pemotretan. Empatpuluh kilometer dari lokasi pemotretan. Gadis itu mengaku bernama Shim Ga-eul dan mengatakan bahwa Onew sedang bersamanya.” Jelas wanita itu sebelum menejer SHINee memintanya.

“Lalu?” kata manajer SHINee tak sabar.

“Dia mengatakan kalau Onew hilang ingatan saat dia menemukannya. Kami sudah mengirim orang untuk menjemputnya. Kira-kira besok pagi Onew sudah kembali ke tangan kita.” Kata wanita itu lagi sambil tersenyum.

Manajer SHINee menghembuskan napas lega saat mendengar berita itu. Wanita itu tertawa kecil melihatnya.

“Haha~ kau benar-benar stres, ya?” katanya. Menejer SHINee membalas senyum wanita itu.

“Tak perlu ditanyakan lagi. Jantungku benar-benar mau copot saat tau Onew hilang, belum lagi emosi member yang tak teratur selama leader mereka tidak ada—Omo! Aku lupa memberitahu mereka! Mereka pasti senang mendengar kabar ini! Aku akan pergi sekarang. Hubungi aku kalau ada info selanjutnya. Geureom~”

Manajer SHINee tersenyum sambil sedikit membungkuk pada wanita itu sebelum bergegas keluar ruangan. Bebannya sudah hilang sekarang. Acara perayaan ulang tahun ke-tiga SHINee yang diadakan kurang dari seminggu lagi mungkin akan sukses setelah mereka menemukan Onew.

Ga-eul PoV—

Setelah menutup telpon, aku menghembuskan napas panjang. Sambil menatap jendela rumahku, aku termenung memikirkan pembicaraan di telpon barusan. Sepertinya aku hanya mengucapkan beberapa kalimat dan tiba-tiba saja mereka mengatakan malam ini akan tiba di sini untuk menjemput Kangga. Semuanya terjadi dengan sangat cepat.

Aku berdiri dari tempat dudukku dan melangkahkan kakiku ke kamar Sunggi, tempat di mana Kangga sekarang sedang beristirahat. Setelah aku mengatakan padanya bahwa dia seorang artis tadi siang, dia mengeluh kepalanya sakit dan meminta waktu untuk beristirahat.

Aku mengetuk pintu pelan dan melongok ke dalam. Kulihat Kangga yang sedang duduk di tepian tempat tidur sambil memegang kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangannya.

“Kangga-ssi? Gwaenchanhayo?” tanyaku sedikit cemas sembari melangkah mendekatinya. Kangga menoleh ke arahku saat aku masuk. Dia menatapku dengan sedikit aneh. Ada keringat yang mengalir di pelipisnya saat aku cukup dekat untuk melihatnya.

“Ga-eul-ssi..” ujarnya pelan, “…aku sudah ingat semua”

Taemin PoV—

Kami berempat sedang berada di dalam mobil setelah jadwal pemotretan hari ini berakhir.

“Jinjja?? Itu benar-benar dia?? Kau tidak bercanda ‘kan, Hyung??”

Aku melirik Key hyung yang sedang menelpon dengan suara keras.

“Kenapa dia?” tanya Jonghyun hyung pada Minho hyung. Jonghyun hyung yang berada di kursi depan di samping supir melirik ke kursi tengah, tempat di mana Key hyung dan Minho hyung duduk. Aku sendirian di kursi belakang. Kursi di sebelahku kosong karena Onew hyung tak ada.

“Molla. Tapi sepertinya berita bagus.” Jawab Minho hyung sambil terus menatap aneh pada Key hyung. Aku hanya mengangkat bahu dan meletakkan tanganku di sandaran kursi tengah dan menaruh daguku di atasnya. Kami bertiga menatap Key hyung dengan wajah penasaran.

“Ne, hyung! Aku akan memberitahu mereka.” Ujar Key hyung mengakhiri telponnya.

Jujur saja, aku merasa penasaran melihat ekspresi Key hyung yang gembira seperti itu. Sejak Onew hyung hilang tak pernah sedikit pun aku melihat senyum tulus yang dilontarkan Key hyung selain kepada Shawol. Oh! Apa mungkin ini memang berita tentang Onew hyung??

Key hyung menutup ponsel lipatnya, setelah itu dia memandang kami bertiga sambil tersenyum misterius, “Oh, Minho~ aku cinta kau~~” Key hyung setengah melompat memeluk Minho hyung yang sedang duduk di sebelahnya.

“ya! Lepaskan aku!” Minho hyung mencoba melepaskan diri dari dekapan Key hyung. Aku hanya tertawa melihatnya.

“ya! Kibum! Ada berita apa? Apa tentang Onew?” sela Jonghyun hyung. Aku langsung memandang Key hyung dengan wajah ingin tahu.

Key hyung tersenyum lebar begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jonghyun hyung. Lagi-lagi dia menatap kami satu-persatu. Aku tahu dia sengaja menunda waktu agar kami semakin penasaran. Dia selalu begitu.

“Ne! dia sudah ditemukan.” ujar Key hyung akhirnya.

Aku langsung tersenyum mendengar perkataannya. Itu kata-kata terindah yang aku dengar selama dua minggu belakangan.

“Ah! Akhirnya~!” teriakku sambil menghempaskan badanku ke sandaran kursi di belakangku. Jonghyun  hyung dan Minho hyung juga berteriak mengekspresikan kebahagiaan mereka. Sebentar saja keadaan mobil menjadi ramai. Padahal isi mobil ini hanya lima orang, kami berempat dan seorang ajeossi yang mengendarai mobil.

“Di mana dia selama ini?” tanya Jonghyun hyung.

“Ajik mollayo. Nanti kita bisa tanyakan sendiri pada orangnya. Manajer hyung bilang, besok si chicken maniac itu sudah akan ada di dorm sebelum jadwal pertama kita.”

“Sekarang dia ada di mana?”

Minho hyung yang ganti bertanya setelah itu. Aku hanya mendengarkan percakapan mereka sambil menutup mata di kursi belakang. Aku benar-benar merasa lega. Dua minggu lebih tanpa Onew hyung, SHINee benar-benar di luar kendali. Mungkin kami memang terlihat biasa saja saat bekerja, tapi di dorm emosi kami benar-benar tak bisa dikontrol, terlebih lagi Key hyung. Aku senang semuanya akan berakhir, paling tidak sampai besok pagi.

Aku terus menutup mataku. Mungkin kalau aku tidur sebentar, mimpiku akan indah kali ini.

= TBC =