Tag Archive | Onew

FF – SHINee/Missing Onew (stuck)

annyeong~~

ini ff sebenar ny saya buat ny ada 5. masing2 tokoh utama ny anak SHINee. kali ini, tokoh utama ny Onew. yang tokoh utama nya Minho uda dipablis dan bisa diliat di sini. untuk ff yang Minho itu ber-genre yaoi dan (sejauh ini) ga NC (kkk). untuk 3 ff lainnya bakal saya post lain waktu krna ff2 ntu sndiri masi tll dikit buat dipablis, plot ny jga masi blum kebaca. dan sekedar informasi, ff2 yg dsebut di atas masi stuck lima-lima nya.. wkwkwk

mengenai ff SHINee/Missing Onew ini, tadinya mau saya ikutin lomba ff SHINee menjelang ultah ke-3 mereka. tapi karna saya sibuk kuliah plus ide ny stuck buat lanjutin, jadi ny saya ga jadi ngikutin nh ff ke lomba itu. naah, dari pada berjamur di lptp saya, mending d pablis d sini. dsamping itu smua, saya tau nh ff kesan ny cepet2, soalny emg dasarny jga saya cpt2 nyelesein ny karna kmrn itu lomba ny pake batas waktu.

trus juga, karna nh ff masi stuck, mgkin kalo ada waktu (plus ada ide buat nerusin), kmungkinan besar episot selanjut ny itu semua ny onew pov, jdi d sana dijelasin semua ny tentang apa yg terjadi dari awal nh ff ampe ending ny.

terakir, makasi buat rider yang uda baca plus ninggalin jejak 🙂

잘 읽어보세요~~

= FF =

Title: Missing Onew

Episode : 1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Onew (Main Cast)
  • other member of SHINee
  • other casts are fake

= = =

Author PoV—

Seorang pria berbadan besar menutup handphone-nya. Dia memandang temannya dengan tatapan khawatir.

“Kita salah orang,” ujarnya pelan.

Sang teman balas menatapnya dengan mata terbelalak. Dia tahu temannya itu tak bercanda.

“Eotteohke?” jawabnya dengan nada gusar.

Pria pertama menggeleng sambil mengangkat bahu. Keduanya tampak gelisah. Mereka mengalihkan pandangan ke sesosok pemuda yang terbaring lemah di tengah ruangan. Dari bagian kanan kepalanya mengalir darah segar yang masih baru. Wajahnya yang tampan dan putih kontras sekali dengan ruangan kumuh itu.

“Kita apakan dia? Bunuh?” tanya pria kedua, masih ada nada ragu dalam suaranya.

“Andwae, itu akan menyebabkan lebih banyak masalah.” jawab pria pertama. Pria itu mulai mondar-mandir, memegang dagunya sambil berpikir. Tiba-tiba dia menjentikkan jarinya.

“Kalau tak salah, di perjalanan ke sini aku melihat sungai. Kita buang saja dia di sana!” ujarnya kemudian.

“Apa itu tak terlalu beresiko?” tanya pria kedua bimbang.

Pria pertama menatap temannya, wajahnya benar-benar gelisah.

“Tak ada cara lain.” katanya akhirnya setelah beberapa saat berpikir, “Gaja!”

Sekali lagi kedua pria berbadan besar itu mengangkat badan si pria muda yang tak sadarkan diri.

~~~

Ga-eul meregangkan otot-ototnya. Dilihatnya mentari yang sudah makin tinggi dengan senyumnya.

“Sepertinya hari ini akan cerah,” ujarnya pada diri sendiri.

Ga-eul melangkahkan kakinya di rumput yang halus, berjalan terus menelusuri tepian sungai tempat dia biasa menyendiri. Sungai ini indah, tapi sejak Ga-eul menemukannya dia tak pernah melihat seorang pun mendatangi tempat ini selain dirinya sendiri. Ga-eul selalu menghabiskan waktu luangnya di pinggir sungai ini, dia merasa tenang di sini.

“Uugh~”

Langkah Ga-eul terhenti. Jelas sekali baru saja dia mendengar suara erangan manusia berasal dari daerah pepohonan di sebelah kanannya. Ga-eul menyipitkan matanya ke balik pepohonan, mencoba melihat siapa yang berada di sana selain dia.

Ga-eul memberanikan diri memasuki pepohonan itu. Kalau dari asal suaranya, Ga-eul yakin orang ini berada tak jauh dari pinggir sungai.

Seorang pria sedang duduk sambil memegang kepalanya saat Ga-eul melihatnya. Pria ini menatap Ga-eul dengan pandangan menyipit, dia tampak tak sehat. Ga-eul dapat melihat aliran darah kering yang menodai pelipis kanan pria ini dari tempatnya berdiri sekarang. Ga-eul terdiam menatapnya. Pria ini tampan. Benar-benar tampan.

“nuguseyo?” tanya Ga-eul padanya. Beberapa pertanyaan lain di otaknya mendesak keluar.

Pria ini melihatnya dengan pandangan bingung. Sesaat kemudian dia menggeleng.

 

Ga-eul PoV

Lahap sekali dia makan. Nasinya sampai berceceran ke pipinya.

Kutopang daguku dengan tangan.

Pria ini benar-benar aneh. Tampan, kelaparan dan hilang ingatan. Dan aku sama sekali belum pernah melihatnya di desa ini. Tak ada petunjuk apapun mengenainya, kartu identitas pun tidak.

“Kau benar-benar lupa dengan dirimu?” tanyaku tiba-tiba.

Pria ini menghentikan suapannya di udara. Dia melihatku dengan tatapan bingung dan mengangguk. Dia kemudian memasukkan suapannya ke dalam mulutnya dengan rakus. Benar-benar seperti orang bodoh.

“Namamu?” tanyaku lagi.

Dia menggeleng kuat-kuat, kali ini tak menyia-nyiakan waktunya untuk melihatku terlebih dahulu, dia masih sibuk dengan nasinya.

“Mulai sekarang namamu Kangga kalau begitu, tepi sungai.” jelasku.

Dia hanya mengangguk kuat-kuat sebagai balasan pernyataanku.

“Ayam ini enak sekali” katanya kemudian dengan mulut penuh.

Author PoV—

“Aku tak mau pulang! Aniya!! Lepaskan aku!!”

Key meronta dari pegangan erat Minho yang membelenggu lengannya. Wajah Key merah, menahan amarah sekaligus tangisan yang dipendamnya dari tadi. Usahanya untuk melepaskan diri dari Minho tak membuahkan hasil, tenaga Minho terlalu kuat untuknya.

“Hyung..” Minho menatap harap pada manajer mereka. Tangannya terasa sakit karena menahan kedua lengan Key yang terus meronta.

Manajer mereka membalas tatapan Minho dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Key.

“Ya! Kibum! Dengarkan aku!” teriaknya.

“Ani, Hyung! Aku tak akan pulang! Aku akan menemukannya! Lepaskan aku, sialan!!” umpatan Key ditujukan pada Minho, tangannya terus meronta. Dia menatap Minho dengan tatapan tergarang yang pernah dibuatnya.

“KEY!! SHINee KEY!! Kau harus profesional!!”

Amarah sang manajer tak bisa ditahan. Dia berteriak tepat di depan wajah Key.

Key sontak terdiam, matanya yang sudah merah menatap mata manajer di depannya. Kata ‘SHINee Key’ yang dilontarkan manajernya membuatnya tak bisa berkata-kata, dua kata mujarab itu menyadarkannya.

Tangan Key sudah berhenti meronta, tapi Minho belum berani melepaskan pegangannya di tangan Key. Minho takut Key tiba-tiba kabur dari ruangan itu dan bertindak bodoh, seperti yang biasa Key lakukan jika dia sedang kalap.

Manajer menarik napasnya dalam-dalam sebelum menatap Key lagi.

“Kuharap kau bisa profesional, Kibum. Kita sudah kehilangan satu, dan perusahaan tak akan mau menerima laporan bahwa dua member SHINee tidak kembali ke Seoul setelah pemotretan kali ini, kau harus mengerti itu. Dan, Jonghyun,” Manajer mengalihkan pandangannya ke arah Jonghyun yang berdiri di sebelah kiri ruangan, “Kau menggantikan posisi Jinki sampai kami menemukan dia, kau yang paling tua sekarang. Aku minta tanggung jawabmu untuk sementara waktu.”

Jonghyun mengangguk pelan, wajahnya tertunduk, sama seperti tiga member lainnya.

“percayalah, aku juga amat berharap Jinki segera ditemukan dan semua hal berat ini segera berakhir. Aku minta kalian kuat sampai saat itu tiba,” manajer menambahkan kata-katanya. Sejenak kemudian dia keluar dari ruangan itu, meninggalkan empat member SHINee di dalamnya.

“lepaskan aku,” ujar Key pelan dengan kepala masih tertunduk.

Minho mengendurkan pegangannya, dia masih menatap Key cemas. Saat Key menjatuhkan tubuhnya di kursi, barulah Minho berani menjauhinya.

Key menutup wajahnya. Sebuah hantaman keras baginya mengetahui bahwa Onew hilang di desa kecil ini. Beberapa pikiran penuh penyesalan memenuhi benaknya. Andai saja malam itu dia yang menggantikan Onew membeli jus di mini market terdekat. Andai saja dia mengesampingkan sedikit sifat egoisnya dan tidak dengan hati puas menyuruh Onew yang kalah dalam permainan kecil yang mereka lakukan malam itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Akan lebih baik bagi SHINee kalau dia yang hilang, bukan Onew.

[Desa ㅇㅇㅇ]

Ga-eul PoV—

“Aku pulaang~”

Suara Sunggi terdengar dari ruang depan. Hal yang terdengar kemudian adalah derap langkahnya yang cepat-cepat.

“Nuna, aku pulang!” teriaknya saat membuka pintu geser ruang keluarga kami.

“Ye! Ara!” ujarku ketus tanpa mengalihkan pandanganku dari rajutanku.

Adik laki-lakiku, Sunggi, masih berumur duabelas tahun dan bersekolah di satu-satunya sekolah dasar di desa kami.

“Nuna! Tadi aku menang main bola melawan kelas sebelah!” ujarnya dengan keras.

“Oh, ya?” tanyaku sedikit bersemangat dan akhirnya menoleh padanya, “Berapa skorny—OMOO~!!!!”

Mataku terbelalak saat melihat Sunggi. Baju seragam sekolahnya penuh lumpur, hitam di sana-sini. Begitu juga dengan wajah, tangan dan kakinya.

“Ya!! Kau habis main bola atau habis main dengan babi??!!” bentakku, “Siapa yang akan mencuci bajumu, memangnya, hah?? Aku! Aissh~!! Lepas bajumu!!”

Sunggi hanya nyengir.

“Hehe~ yang penting aku ‘kan menang, nuna~ Ini bunga untuk nuna.”

Sunggi menyerahkan lima tangkai bunga mawar kepadaku. Emosiku sedikit melunak begitu melihat bunga segar itu. Beginilah dia, menyebalkan, tapi selalu bisa membuatku tersenyum.

“Kau menyogokku ya?” tanyaku dengan pandangan sinis. Aku menerima bunga-bunga itu dari tangannya, “Gomawo~”

“Aku tahu nuna akan suka” katanya lagi. Sunggi melepas bajunya dan berlari cepat-cepat menjauhiku.

“Aku mandi dulu, ya, nuna~!” teriaknya sambil berlari.

Aku terdiam sebentar sebelum teringat sesuatu.

“Ya!! Di kamar mandi masih ada Kangga!!”

Percuma saja, Sunggi pasti tak bisa mendengar kata-kataku.

Biarlah, sesama lelaki ini, pikirku dalam hati.

Aku menyebrangi ruangan, mengambil gelas tinggi, mengisinya dengan air dan meletakkan lima tangkai mawar itu ke dalamnya. Aku letakkan gelas beserta mawar itu di atas meja makan kami. Sambil tersenyum, aku menatanya sedikit.

“GYAAA~~~ NUNAAAA~~~~!!!!!”

Aku tersentak. Itu suara Sunggi.

Aku langsung berlari ke halaman belakang dengan panik.

Apa yang terjadi dengannya?

“Sunggi-ya! Gwaenchanhayo?” aku tersandung-sandung di halaman rumah yang berbatu-batu. Kulihat Sunggi yang menunjuk-nunjuk ke dalam bilik kamar mandi.

“Ada alien, Nuna!” ujar Sunggi dengan wajah takut.

Sedetik kemudian Kangga keluar dari dalam bilik.

“Di mana ada alien?” tanyanya bingung.

“Gyaa~~ Aliennya muncul~!! Nuna!! Selamatkan aku!” Sunggi berlari ke belakang punggungku dan melihat Kangga dengan wajah takut.

“Babo! Dia manusia! Kau sebodoh apa, sih?” aku menjitak kepala Sunggi pelan. Kangga hanya menatap kami dengan bingung.

“Manusia? Jeongmalyo?” tanya Sunggi polos, “Kenapa tampan sekali?”

Kangga tampak sedikit terkejut saat mendengar perkataan Sunggi, mukanya bersemu merah.

“O? gamsahamnida.” ujarnya pelan sambil menggaruk sedikit bagian belakang kepalanya. Dia tampak salah tingkah dan terlihat makin tampan.

“Kangga-ssi, ini adikku.” Aku memperkenalkan mereka berdua, “Sunggi-ya! Beri salam!”

“Annyeonghaseyo, Sunggi imnida~” ujar Sunggi, dia masih terlihat takut.

“A-annyeonghaseyo~” Kangga ikut memberi salam dan sedikit membungkukkan badannya.

“Kangga-ssi, apa kau mau istirahat? Kau bisa berbagi kamar dengan Sunggi.” kataku pada Kangga yang masih tampak kebingungan. Kasihan sekali, pasti benturan di kepalanya sangat keras sampai dia tampak seperti orang linglung begitu.

“Ye, gamsahamnida~” Kangga mengangguk dan berjalan mendahuluiku. Aku memperhatikannya sampai dia masuk ke dalam rumah.

Tarikan di bajuku mengalihkan pandanganku dari Kangga. Saat aku lihat ke bawah, Sunggi sedang menatapku dengan senyum lebarnya.

“Mwora?” tanyaku ketus.

“Pacar nuna, ya?” tanya Sunggi sambil memainkan alisnya.

Aku langsung menjitaknya.

“Aissh~! Bukan! Nanti aku ceritakan!” ujarku sedikit kesal, “Sudah, mandi sana!”

[Kantor SME]

Author Pov—

BRAKK!!!

“Jangan macam-macam!! Apa yang kalian lakukan selama di sana, hah??!  Dengan mudahnya kau mengatakan kalau salah satu member SHINee hilang saat pemotretan!! Kau tahu kalau acara ulang tahun SHINee yang ketiga akan diadakan tiga minggu lagi!! Kau ingin kantor kita diserbu fans-nya??!! Aissh~!!”

Direktur utama SM entertainment murka di seberang meja kerjanya yang hitam berkilat. Manajer SHINee hanya tertunduk di depannya. Dalam hati dia mengutuk, tapi entah mengutuk siapa dia pun tak tahu.

“Dengar! Ini hal serius! Kuharap berita ini tak sampai ke telinga Netizen atau media manapun. Hal ini harus ditutupi, kau mengerti?!” ancam direktur utama kepada manajer SHINee.

“Ne. Algesseumnida, Sajangnim” ujar manajer SHINee sambil menggangguk, “Saya permisi.” Dia tak mau lagi berlama-lama di ruangan panas itu. Kepalanya sudah cukup pusing saat mengetahui bahwa Onew hilang di tempat pemotretan lima jam yang lalu saat mereka masih di sana.

Sekarang seluruh member SHINee, minus Onew, sudah kembali ke Seoul. Jadwal SHINee makin padat menjelang ulang tahun mereka yang ketiga ini dan semuanya harus dilakukan tanpa kehadiran sang leader.

[Desa ㅇㅇㅇ]

Ga-eul PoV—

“Kau yakin, Sunggi?” bisikku pada Sunggi. Sunggi mengangguk kuat-kuat sebagai jawaban.

“Aku yakin sekali, nuna. Dia onew SHINee. Temanku tadi membawa majalah dari kota dan aku lihat ada Kangga hyung di dalamnya. Aku yakin, Nuna, aku tak mungkin salah orang. Jeongmalyo!” Sunggi ikut berbisik dengan bersemangat.

Aku menatap Kangga yang sedang berjemur di halaman rumah kami. Sudah dua minggu lebih Kangga tinggal bersamaku dan Sunggi dan baru hari ini kami mendapat info tentang dia. Itu pun karena kebetulan ada teman Sunggi yang membawa majalah dari kota.

Tiba-tiba, Kangga menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku menggerakkan tanganku, menyuruh dia mendekati aku dan Sunggi yang sedang duduk di beranda rumah. Aku harus memberitahunya mengenai hal ini.

“Waeyo?” tanya Kangga saat sudah berdiri di depan kami.

Aku mengedipkan mata beberapa kali sambil berpikir. Mungkin Sunggi benar. Dia tampan, bisa jadi dia memang artis.

“Emm.. pembicaraan ini sedikit serius.” ujarku padanya. Kangga mengangguk dan kemudian duduk di sebelahku. Dia tampak benar-benar ingin tahu apa yang akan aku katakan. “Kami sudah tahu siapa dirimu sebenarnya,” aku mulai bicara, melirik Sunggi sebentar lalu menatap Kangga lagi, “Kau artis” sambungku.

Kangga tampak terkejut saat aku berkata seperti itu, mulutnya sedikit terbuka.

“Na?” katanya tak percaya. Dia menunjuk dirinya sendiri.

Aku mengangkat bahu sebagai jawaban. Sejujurnya, aku juga masih belum yakin sepenuhnya kalau dia benar-benar orang terkenal. Aku menggigit bibir sambil terus berpikir.

“Kalau memang benar kau artis..” kataku, “kita harus secepatnya menelpon ke agensi-mu”

Kangga memandangku dengan tatapan aneh, aku tak bisa mengartikan pandangannya itu. Aku mencegah kontak mata dengannya dengan melihat Sunggi lagi.

[Kantor SME]

Author PoV—

Manajer SHINee berjalan cepat menuju ruangan kerja utama kantor SME. Sebuah berita bagus menunggunya di sana.

“Annyeonghaseyo” sapa menejer SHINee saat memasuki ruangan, beberapa karyawan yang sedang bekerja mengangkat kepala mereka sedikit untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan dan kemudian sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka lagi. Manajer SHINee langsung bergerak ke meja seorang wanita yang berada di sudut ruangan, meja dengan tulisan ‘informasi’ di atasnya.

“Annyeonghaseyo, Hyuna-ssi,” sapanya lagi, “Bagaimana kabar terakhirnya?” tanyanya bersemangat.

“Telpon itu dari desa di sekitar tempat SHINee terakhir mengadakan pemotretan. Empatpuluh kilometer dari lokasi pemotretan. Gadis itu mengaku bernama Shim Ga-eul dan mengatakan bahwa Onew sedang bersamanya.” Jelas wanita itu sebelum menejer SHINee memintanya.

“Lalu?” kata manajer SHINee tak sabar.

“Dia mengatakan kalau Onew hilang ingatan saat dia menemukannya. Kami sudah mengirim orang untuk menjemputnya. Kira-kira besok pagi Onew sudah kembali ke tangan kita.” Kata wanita itu lagi sambil tersenyum.

Manajer SHINee menghembuskan napas lega saat mendengar berita itu. Wanita itu tertawa kecil melihatnya.

“Haha~ kau benar-benar stres, ya?” katanya. Menejer SHINee membalas senyum wanita itu.

“Tak perlu ditanyakan lagi. Jantungku benar-benar mau copot saat tau Onew hilang, belum lagi emosi member yang tak teratur selama leader mereka tidak ada—Omo! Aku lupa memberitahu mereka! Mereka pasti senang mendengar kabar ini! Aku akan pergi sekarang. Hubungi aku kalau ada info selanjutnya. Geureom~”

Manajer SHINee tersenyum sambil sedikit membungkuk pada wanita itu sebelum bergegas keluar ruangan. Bebannya sudah hilang sekarang. Acara perayaan ulang tahun ke-tiga SHINee yang diadakan kurang dari seminggu lagi mungkin akan sukses setelah mereka menemukan Onew.

Ga-eul PoV—

Setelah menutup telpon, aku menghembuskan napas panjang. Sambil menatap jendela rumahku, aku termenung memikirkan pembicaraan di telpon barusan. Sepertinya aku hanya mengucapkan beberapa kalimat dan tiba-tiba saja mereka mengatakan malam ini akan tiba di sini untuk menjemput Kangga. Semuanya terjadi dengan sangat cepat.

Aku berdiri dari tempat dudukku dan melangkahkan kakiku ke kamar Sunggi, tempat di mana Kangga sekarang sedang beristirahat. Setelah aku mengatakan padanya bahwa dia seorang artis tadi siang, dia mengeluh kepalanya sakit dan meminta waktu untuk beristirahat.

Aku mengetuk pintu pelan dan melongok ke dalam. Kulihat Kangga yang sedang duduk di tepian tempat tidur sambil memegang kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangannya.

“Kangga-ssi? Gwaenchanhayo?” tanyaku sedikit cemas sembari melangkah mendekatinya. Kangga menoleh ke arahku saat aku masuk. Dia menatapku dengan sedikit aneh. Ada keringat yang mengalir di pelipisnya saat aku cukup dekat untuk melihatnya.

“Ga-eul-ssi..” ujarnya pelan, “…aku sudah ingat semua”

Taemin PoV—

Kami berempat sedang berada di dalam mobil setelah jadwal pemotretan hari ini berakhir.

“Jinjja?? Itu benar-benar dia?? Kau tidak bercanda ‘kan, Hyung??”

Aku melirik Key hyung yang sedang menelpon dengan suara keras.

“Kenapa dia?” tanya Jonghyun hyung pada Minho hyung. Jonghyun hyung yang berada di kursi depan di samping supir melirik ke kursi tengah, tempat di mana Key hyung dan Minho hyung duduk. Aku sendirian di kursi belakang. Kursi di sebelahku kosong karena Onew hyung tak ada.

“Molla. Tapi sepertinya berita bagus.” Jawab Minho hyung sambil terus menatap aneh pada Key hyung. Aku hanya mengangkat bahu dan meletakkan tanganku di sandaran kursi tengah dan menaruh daguku di atasnya. Kami bertiga menatap Key hyung dengan wajah penasaran.

“Ne, hyung! Aku akan memberitahu mereka.” Ujar Key hyung mengakhiri telponnya.

Jujur saja, aku merasa penasaran melihat ekspresi Key hyung yang gembira seperti itu. Sejak Onew hyung hilang tak pernah sedikit pun aku melihat senyum tulus yang dilontarkan Key hyung selain kepada Shawol. Oh! Apa mungkin ini memang berita tentang Onew hyung??

Key hyung menutup ponsel lipatnya, setelah itu dia memandang kami bertiga sambil tersenyum misterius, “Oh, Minho~ aku cinta kau~~” Key hyung setengah melompat memeluk Minho hyung yang sedang duduk di sebelahnya.

“ya! Lepaskan aku!” Minho hyung mencoba melepaskan diri dari dekapan Key hyung. Aku hanya tertawa melihatnya.

“ya! Kibum! Ada berita apa? Apa tentang Onew?” sela Jonghyun hyung. Aku langsung memandang Key hyung dengan wajah ingin tahu.

Key hyung tersenyum lebar begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jonghyun hyung. Lagi-lagi dia menatap kami satu-persatu. Aku tahu dia sengaja menunda waktu agar kami semakin penasaran. Dia selalu begitu.

“Ne! dia sudah ditemukan.” ujar Key hyung akhirnya.

Aku langsung tersenyum mendengar perkataannya. Itu kata-kata terindah yang aku dengar selama dua minggu belakangan.

“Ah! Akhirnya~!” teriakku sambil menghempaskan badanku ke sandaran kursi di belakangku. Jonghyun  hyung dan Minho hyung juga berteriak mengekspresikan kebahagiaan mereka. Sebentar saja keadaan mobil menjadi ramai. Padahal isi mobil ini hanya lima orang, kami berempat dan seorang ajeossi yang mengendarai mobil.

“Di mana dia selama ini?” tanya Jonghyun hyung.

“Ajik mollayo. Nanti kita bisa tanyakan sendiri pada orangnya. Manajer hyung bilang, besok si chicken maniac itu sudah akan ada di dorm sebelum jadwal pertama kita.”

“Sekarang dia ada di mana?”

Minho hyung yang ganti bertanya setelah itu. Aku hanya mendengarkan percakapan mereka sambil menutup mata di kursi belakang. Aku benar-benar merasa lega. Dua minggu lebih tanpa Onew hyung, SHINee benar-benar di luar kendali. Mungkin kami memang terlihat biasa saja saat bekerja, tapi di dorm emosi kami benar-benar tak bisa dikontrol, terlebih lagi Key hyung. Aku senang semuanya akan berakhir, paling tidak sampai besok pagi.

Aku terus menutup mataku. Mungkin kalau aku tidur sebentar, mimpiku akan indah kali ini.

= TBC =

Advertisements

FF – THE ONE (1/?)-(stuck)

= FF =

Title: THE ONE

Episode: 1 of ?

Status: Stuck

Cast:

  • Choi minho (SHINee Minho)
  • Kim Sunhi (someone)
  • Cho hyunhee (someone)
  • Park jungsoo (Super Junior Leeteuk)
  • Lee jinki (SHINee Onew)
  • Kim kibum (SHINee Key)
  • Kotani Yoshikazu

Genre: Family, Romance

= = =

Author PoV–

“sydney!!”

Key merentangkan tangannya lebar-lebar seolah dia ingin memeluk udara dingin disekitarnya. Napasnya beruap saat tertawa melihat pemandangan di depannya. Diletakkannya kedua tangannya di pagar pembatas. Hatinya puas melihat gedung opera itu. Sudah bertahun-tahun key ingin ke sydney, kota yang baru-baru ini diketahuinya sebagai kota kelahirannya. Panjang ceritanya sebelum key tahu bahwa kota megah ini adalah tempat dimana dia lahir.

Kotani berjalan mendekati key, berdiri di sebelahnya, ikut menikmati pemandangan indah yang disuguhkan di depan mata mereka.

“setelah berjuang keras, eh?” kata kotani pada key.

“haha, hyung,” kata key, kepalanya menunduk, airmatanya menetes, “setelah perjuangan keras. Ya, akhirnya aku di sini” katanya membenarkan kata-kata temannya itu. Senyumnya mengembang.

Kotani melirik key.

“kau menangis? Aissh~ jinjja,” katanya sambil mendengus. Samar-samar didengarnya perkataan beberapa wanita yang lewat di belakang mereka.

“what happen to him?” bisik wanita yang satu pada temannya. Kotani mendelik sebentar ke arah wanita-wanita itu.

“hapus airmatamu. Kau membuatku malu,” kata kotani pada key.

Key menghapus airmatanya dengan tangannya.

Kotani membalikkan badannya, bersandar pada pagar pembatas sementara key tetap menikmati indahnya gedung opera yang berdiri megah di depannya.

“mau sampai kapan kita di sini?” tanya kotani akhirnya. Dia sudah bosan berada di tempat itu.

Key tak menjawabnya. Matanya menerawang.

“aku akan menemukannya di sini, hyung,” ujar key yakin, “pasti”

Kotani menaikkan kancing tarik jaketnya.

“tidak sekarang, tapi. Kau akan mati kedinginan dengan baju itu jika tak kembali ke penginapan sekarang. Jujur saja, aku tak mau mengurus orang sakit di sini.” kotani beranjak dari posisinya dan mulai berjalan menjauhi key.

Key memandang gedung itu untuk terakhir kalinya. Dia tak akan datang ke sini lagi. Waktunya di negara ini hanya sebentar dan dia harus mencari seseorang sebelum dia kembali ke korea. Kim sunhi, kembarannya yang belum pernah ditemuinya.

“aku akan menemukanmu, sunhi,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Key lalu berjalan mengikuti kotani, meninggalkan jejak tangannya yang hangat di pagar pembatas.

~~~

Ting tong!

Minho beranjak dari kursinya. Tak ada seorang pun di rumah, dia harus membuka pintu.

Ting tong!

“tunggu sebentar!” ujar minho sedikit keras agar seseorang di balik pintu dapat mendengarnya. Dia menggaruk hudungnya yang gatal sebelum membuka pintu. Seseorang yang dilihatnya di balik pintu membuatnya terkejut.

“sunhi-ssi?” katanya sambil melihat gadis itu, alisnya berkerut.

Mata gadis itu melebar. Dia juga terkejut dengan orang yang ditemuinya.

“choi minho?” tanyanya, “ini rumahmu?”

“ne,” jawab minho singkat, “ada apa?”

“aku mengantarkan ini,” kata sunhi sambil mengangkat bungkusan berukuran sedang. Di depan bungkusan itu tertulis ‘cheong-gyeolhan loundry’. Minho menerima bungkusan itu.

“oh, kau bekerja di sini?” tanya minho. Dia sedikit takjub. Tak disangkanya teman sekelasnya ini sekolah sambil bekerja.

“ne,” jawab sunhi, “ada masalah?”

“ani,” ujar minho sambil menggeleng, “jangan salah paham dulu, aku bukan mengejekmu”

Sunhi mengangguk tanda mengerti.

“baiklah, aku permisi dulu” kata sunhi sambil membalikkan badannya.

Minho menutup pintu. Dia meletakkan bungkusan itu di atas meja kecil di ruang keluarga. Bayangannya melayang lagi saat dia melihat sunhi saat membuka pintu tadi.

Kim sunhi. Teman sekelasnya yang mendapat beasiswa selama tiga tahun di sekolahnya. Murid terpintar di kelas, nilai-nilainya selalu sempurna. Minho hanya sekali berinteraksi dengannya waktu itu, saat mereka mendapat tugas kelompok dan kebetulan berada dalam grup yang sama. Minho susah mendekati gadis pendiam seperti sunhi, makanya dia tak banyak omong dengannya.

“siapa yang datang?” tanya seseorang. Minho langsung menoleh.

“omma ada di rumah? Bukannya sedang pergi?” tanya minho kemudian kepada wanita itu.

“aniya,” jawab wanita bernama hyunhee itu sambil mengikat rambutnya. Dia membuka kulkas, mengeluarkan sayur untuk dimasak. “siapa yang datang?” tanyanya lagi pada minho.

Hyunhee, ibu minho, seorang wanita yang usianya sudah pertengahan kepala tiga tapi tetap tampak cantik. Hyunhee sering dikira kakak minho bila mereka jalan berdua.

“temanku,” jawab minho, “dia mengantarkan laundry”

“temanmu?” ulang hyunhee, “dia bekerja?”

“hm,” minho mengangguk. Dia memperhatikan pakaian ibunya. “mau kemana?” tanyanya curiga.

“tak kemana-mana,” jawab ibunya sambil tersenyum, “hanya saja jinki sebentar lagi akan ke sini”

Rahang minho mengeras. Pria itu lagi, pikirnya.

“aku akan pergi kalau begitu,” katanya tajam.

“waeyo?! Dia kemari karena ingin lebih dekat denganmu. Dua bulan lagi dia akan jadi ayahmu, minho!”. Intonasi hyunhee meninggi. Semenjak dia bercerai dengan ayah minho—jungsoo, anaknya itu jadi lebih jauh dengannya.

“aku ada urusan,” kata minho sambil memasang jaket hitam kesayangannya. Pintu depan sedikit dibantingnya saat dia keluar.

Udara dingin menyapu wajahnya saat minho mempercepat jalannya di jalanan yang sepi. Hatinya panas. Hidupnya terasa berantakan sejak lima bulan yang lalu, saat ayah dan ibunya bercerai. Sekarang semuanya terasa suram bagi minho. Tak ada yang menyayanginya. Dia anak tunggal, tak ada tempat baginya untuk berbagi kesedihan. Dan sekarang ibunya sudah menemukan pengganti ayahnya, seorang guru sekolah dasar bernama lee jinki. Entah apa yang ada dipikiran ibunya sampai bisa jatuh cinta pada pria yang jauh lebih muda dari usianya itu. Sementara itu, ayahnya sudah hidup dengan wanita lain, wanita yang dihamilinya bahkan sebelum dia bercerai dengan hyunhee.

BUGH!

Minho meninju batang pohon terdekat.

Bugh! Bugh! Bugh!

Minho meninju pohon itu berkali-kali. Melampiaskan kekesalannya. Hatinya pedih dan airmatanya terus mengalir.

“ugh~” erang minho.

Dari buku jarinya mengalir darah segar. Dia tak peduli pada darah itu. Dia tak peduli pada seseorang yang datang mendekat, yang melihatnya menangis—seorang remaja laki-laki berbadan tinggi menangis. Dia tak peduli. Dia tak mau peduli.

“choi minho?”

Sebuah suara memanggil namanya. Minho mengangkat kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya.

~~~

Minho menghirup kopi yang ada di tangannya. Sunhi yang membelikan kopi itu. Selama dua jam mereka duduk di bangku taman, dan selama itu juga minho tak berkata apapun pada sunhi.

Hari sudah gelap sekarang. Mereka hanya diterangi lampu taman yang temaram.

“gomapta,” kata minho akhirnya. Dia menoleh pada sunhi.

Sunhi yang sedang memperhatikan minho terkejut karena tiba-tiba minho berbicara padanya.

“a-ani, gwaenchanha” kata sunhi sedikit tergagap, dia mengalihkan pandangannya ke ayunan taman.

Mereka terdiam lagi. Sesekali sunhi melirik minho yang lagi-lagi berdiam diri.

Minho menghembuskan napas berat. Dipegangnya tangan kanannya yang terbungkus kain. Sunhi yang memanggilnya dan membantu mengobati lukanya tadi. Entah kenapa sunhi masih berkeliaran di sekitar rumahnya, minho tahu laundry tempat sunhi bekerja lumayan jauh dari rumahnya.

“kau tadi sedang apa, di sana?” tanya minho pada sunhi.

Sunhi melirik minho dan tersenyum terpaksa.

“aku tersesat” ujar sunhi malu.

Minho mengerutkan alisnya.

“tersesat? Yang benar saja?”

Minho hampir tak percaya masih ada orang yang tersesat di zaman sekarang.

“untuk apa aku berbohong?” ujar sunhi sedikit kesal, “kalau aku bisa pulang dari tadi, aku pasti sudah berbaring di kamarku yang hangat sekarang,” sunhi menggosok-gosok tangannya dan membenamkan tangannya lagi ke dalam saku jaketnya. Dia meniup napasnya dan uap hangat keluar dari mulutnya. Sunhi meniup dan meniup lagi, dia bermain-main dengan uap itu.

Minho memandang tanah. Bagaimanapun dia harus berterimakasih pada sunhi.

“mau kuantar?” kata minho tiba-tiba.

Sunhi mendelik pada minho dan tersenyum.

“kalau kau mau mengantarkanku sampai keluar dari komplek ini saja aku akan berterimakasih sekali. Setelah itu aku akan pulang sendiri,” jelasnya.

“baiklah,” ujar minho sambil beranjak dari bangku taman. Dia lalu berjalan keluar dari taman, sunhi mengikutinya.

Sepanjang perjalanan, mereka tak berbicara apapun. Sunhi lagi-lagi bermain-main dengan uap yang keluar dari mulutnya. Minho meliriknya.

“kau suka musim dingin?” tanya minho memulai pembicaraan.

Sunhi mengangguk dan tersenyum.

“sangat,” jawabnya.

“wae?” tanya minho lagi.

“tak ada alasannya. Aku hanya suka musim dingin,” sunhi melipat tangannya, “kau suka musim apa?”

Minho tak segera menjawab. Dia menghembuskan napas lagi.

“musim gugur, mungkin,” katanya sambil menoleh pada sunhi.

“wae?” ulang sunhi.

Minho tersenyum.

“tak ada alasannya. Hanya suka saja”

“ya!! Kau mengulang jawabanku!” ujar sunhi.

Minho tertawa pelan mendengarnya.

“sejak kapan kau bekerja begini?” tanya minho lagi.

“di laundry maksudmu? Baru seminggu,” jawab sunhi, “sebelumnya aku bekerja di restoran cina selama  sebelas bulan, tapi begitu mereka tahu kalau aku masih bersekolah aku langsung dikeluarkan,” jelas sunhi sambil mengibaskan tangannya, seolah-olah dia dibuang begitu saja.

Minho mengerutkan alisnya.

“lalu di tempat laundry ini? Apa mereka juga tak tahu kalau kau masih bersekolah?”

“tahu,” jawab sunhi enteng, “tapi sepertinya mereka membutuhkanku, karena itu aku diterima. Atau mereka punya alasan lain. Entahlah,” ujar sunhi lagi sambil menaikkan bahunya.

Minho mengangguk-angguk.

“eh? Ini sudah di luar komplek ‘kan? “, kata sunhi sambil melihat ke sekeliling. Mereka sudah sampai di jalan besar. “aku sampai di sini saja. gomawo sudah mengantarkan,” ujar sunhi lagi sambil sedikit membungkukkan badan.

“aku juga berterima kasih, tadi ini..”, minho mengangkat tangannya yang terbungkus kain.

“gwaenchanha~,” kata sunhi sambil tersenyum, “senang bisa membantumu. Annyeongi gyeseyo,” sunhi membalikkan badannya dan berjalan menjauh.

Minho tersenyum dan berjalan pulang ke rumahnya. Kain yang membalut tangannya terasa hangat.

~~~

“WHAT???!!” key berteriak kepada seorang pria, “apa yang anda maksud dengan ‘pindah’??”

Pria itu menulan ludah, tak disangkanya lelaki berdarah oriental yang terlihat cantik ini bisa berteriak seperti itu. Kotani melirik key, takut temannya itu lepas kontrol dan melakukan hal yang tidak-tidak.

“saya sudah bilang pada anda, nona kim sunhi sudah pindah,” ujar pria itu.

Key menghembuskan napasnya dengan hati-hati. Dia tak mau meledak lagi, dia ke sini untuk mencari adiknya, bukan untuk melampiaskan kekesalannya pada orang asing tak dikenal.

“baiklah,” kata key akhirnya, “kemana dia pindah?”

Pria itu menaikkan kacamatanya yang melorot dan melihat sebuah buku yang ada di tangannya.

“menurut keterangan di sini,” kata pria itu, “nona kim sunhi sudah pindah ke korea selatan”

Key menatap pria itu tak percaya.

“korea sela—“key tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Pencarian dan perjuangannya selama ini tak membuahkan hasil. Orang yang dicarinya malah berada di negaranya sendiri, korea selatan.

Key tak bisa membendung airmatanya. Dia segera pergi dari ruangan itu.

Kotani mencoba menahannya, tapi tak bisa. Kotani jadi merasa tak enak pada pria berkulit putih itu.

“maafkan kami,” kata kotani dengan bahasa inggris yang fasih, “Sudah tiga tahun dia mencari adiknya. Saya harap anda bisa mengerti atas perlakuannya tadi”

“oh, it’s okay, no problem. Saya rasa saya bisa mengerti,” kata pria itu sambil menoleh ke pintu tempat key keluar tadi.

“maaf, tapi apakah anda punya alamat nona kim sunhi sekarang? Di korea selatan, maksud saya,” kata kotani lagi.

Pria itu menghembuskan napas berat sambil melepas kacamatanya.

“we’re very sorry, kami tak punya alamat nona sunhi,” katanya, “tapi kami punya nomor telpon panti asuhan tempat nona sunhi pindah. Ini dia,” pria itu memberikan selembar kertas yang berisi nomor telpon panti asuhan yang dimaksud. Kotani meraih kertas itu dengan wajah berbinar.

“arigatou go—I mean, thank you very much, sir. I’m sure this is very useful for us”, kotani berdiri dan mengulurkan tangannya.

Pria itu menyambut tangan kotani.

“you are welcome,” ujarnya sambil tersenyum.

Kotani membungkukkan badannya sedikit saat dia pergi. Budaya timur yang satu itu tak pernah bisa hilang dimanapun dia berada.

Kotani keluar dari panti asuhan itu dan berjalan menuju mobil yang mereka sewa selama berada di australia. Key tak ada di dalam mobil itu. Kotani melihat ke sekeliling dan menemukan key yang sedang berjongkok di bawah pohon rindang, kepalanya tenggelam di balik tangannya. Kotani menghampiri temannya itu dan memegang bahunya. Dia tahu key sedang menangis.

“key-ah, sudahlah~” ujar kotani.

Key mengangkat kepalanya. Wajahnya bersimbah airmata.

“aku mencarinya kemana-mana, hyung. Banyak yang aku perjuangkan—yang aku lakukan—untuk bertemu dengannya. Sudah kemana-mana aku mencarinya. Tapi ternyata? Dia di korea dan aku tak tahu itu. Hyung, andai kau tahu perasaanku bagaimana”

Kotani menatap key prihatin.

“ini,” katanya sambil menyerahkan kertas yang berisi nomor telpon itu pada key, “ini nomor telpon panti asuhan tempat dia pindah, barangkali bermanfaat untukmu”

Key langsung merampas kertas itu dan membacanya.

“tinggal satu langkah lagi untuk bertemu adikmu. Semoga berhasil,” kata kotani pada key.

FF – SHINee/Scholarship Boy (stuck)

annyeong~~

ini ff SHINee (total 5 buah ff dgn masing2 main cast ny para member shinee. ff dgn main cast Onew berjudul Missing Onew uda di-pablis. sementara 3 yang laen masi belum di-pablis), yang tokoh utama nya Minho *ngangkat mino*. ff yang ini ber-genre yaoi dan ga ada (atau belum ada) unsur NC. huohooo~ *snyumSetan*

naah, bagi rider yang ga hobi baca cerita yaoi, saya sarankan mundur perlahan, drpd ntar nya malah jiji sndiri trus lbh buruk lagi malah ng-bash saya lewat komen ato imel ato lewat manapun.  bagi yang suka yaoi~ silakan teruskan hwahaa:D

잘 읽어보세요~^ㅇ^

= FF =

Title: Scholarship Boy

Episode : 1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Minho (Main Cast)
  • other members of SHINee
  • other casts are fake

Genre: Friendship, Yaoi

= = =

Author PoV—

Taemin melihat ke sekeliling. Gedung tiga lantai yang berdiri kokoh di depannya membuatnya sedikit terpana. Dia memperhatikan gedung itu dari sisi barat ke timur. Matanya meneliti relief-relief rumit yang dipahat rapi di dinding gedung. Dua tiang besar menyangga sisi depan beranda gedung.

“jinjjayo?” bisik taemin sembari melangkahkan kakinya ke tangga yang menuju beranda gedung.

Taemin masih tidak percaya dia mendapat beasiswa di sekolah megah ini. Dia tahu dia dapat beasiswa di salah satu sekolah swasta khusus laki-laki satu-satunya di kota kecil ini, tapi taemin tak pernah tahu kalau gedung sekolah ini benar-benar terlihat mewah.

Taemin berdecak kagum sekali lagi saat memasuki lobi gedung. Meski terlihat kuno dari luar, interior gedung ini benar-benar modern. Air terjun buatan yang dilapisi kaca berada di sisi dinding di sebelah kirinya. Di sebelah kanan, seorang wanita paruh baya berdiri di belakang meja tinggi serupa meja resepsionis. Papan kecil di atas meja itu bertuliskan ‘informasi’. Taemin menghampiri wanita itu.

“sillyehamnida” ujar taemin seraya membetulkan letak tali tas yang sedang disandangnya di bahu kanannya, kopernya diletakkan berdiri di sampingnya.

Wanita itu mengalihkan pandangannya dari kertas di depannya untuk melihat taemin, dibetulkannya letak kacamatanya. Wanita itu mengangkat sedikit kepalanya sambil menatap taemin dengan angkuh. Taemin tersenyum singkat sambil menganggukkan kepalanya pada wanita itu sebelum melanjutkan perkataannya.

“saya murid baru di sini dan sudah memesan satu kamar di asrama…”, taemin bingung harus berkata apa lagi, “mm.. jadi..”. belum sempat taemin menyelesaikan kalimatnya, wanita itu menyodorkan selembar formulir padanya.

“isi ini” ujar wanita itu singkat.

Taemin mengisi formulir itu dengan sedikit bingung. Beberapa pertanyaan aneh membuat alisnya sedikit berkerut.

“kamarmu nomor 415” ujar wanita itu singkat saat taemin menyerahkan formulir yang sudah diisinya. Sebuah kunci diletakkannya di atas meja. Taemin mengambil kunci itu dan memandang wanita itu bingung.

“gamsahamnida” ujarnya pelan sambil sedikit membungkukkan badan.

Minho pov—

Aku benci musim panas. Tubuhku jadi cepat berkeringat dan terasa lengket.

Kubuka t-shirt abu-abuku. Di kamar hanya ada aku, jadi tak perlu malu. Sebuah tempat tidur lain di ruangan ini masih kosong, masih belum ada yang menempati.

Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan menyambar notebook-ku. Tampilan desktop-nya tampak kabur, aku lupa memakai kacamata. Dengan malas aku berdiri dan mengambil kacamataku yang berada di atas meja. Dan saat itulah pintu kamarku terbuka. Aku langsung menoleh dan segera menyambar t-shirt-ku lagi begitu tahu siapa yang membuka pintu kamarku.

Seorang yeoja! Seorang yeoja berada di salah satu asrama di sekolah khusus putra ini. Seorang yeoja berdiri di depan pintu kamarku!

“annyeonghaseyo,” katanya ramah sambil tersenyum. Dia membungkukkan badannya.

Aku buru-buru memasang t-shirt-ku.

“ada yang bisa saya bantu?” tanyaku kaku.

Dia tersenyum lagi padaku.

“lee taemin imnida~ mulai hari ini aku akan tinggal di kamar ini.” katanya padaku sambil tersenyum.

Seorang namja?? Yang benar?

Aku membatin. Kucoba lihat dadanya untuk memastikan apakah benar dia seorang namja.

Rata. Berarti benar dia seorang namja.

Aku jadi kikuk. Kamarku berantakan. Oke, kamar kami karena mulai sekarang aku harus berbagi kamar dengannya. Tapi paling tidak semua barang-barang yang bertebaran ini semuanya barangku.

“ah ye. Silakan. Tempat tidurmu yang itu.” ujarku sambil menunjuk ke kasur yang berada di sebelah kiri ruangan. Sedikit rasa canggung menderaku.

“apa kau kelas satu juga?” tanyanya padaku saat dia masuk. Dilemparkannya ranselnya ke kasur itu dan dia mulai membongkar kopernya.

“ani, aku kelas dua.” jawabku sekenanya.

Mata taemin membesar dengan seketika.

“oh sunbae, mianhamnida.” katanya sambil membungkukkan badan.

“namaku minho. Choi minho.” kataku memperkenalkan diri.

“mannaseo bangapseumnida.” ujarnya sambil membungkuk lagi.

Aku tertawa melihatnya.

“haha, santai saja.” kataku padanya sambil memukul pundaknya pelan.

Dia mengangguk pelan dan tampak sedikit bersalah.

Aku duduk di tempat tidurku sementara dia membereskan barang-barangnya.

Kkotminam namja. Dia bahkan tampak cantik dengan setetes keringat di pelipisnya.

Choi minho! Dia namja! Kendalikan otakmu!

Aku bertengkar dengan otakku sendiri.

“kau masuk divisi apa?” tanyaku padanya untuk mengenyahkan pikiran-pikiran gilaku.

“piano klasik,” jawabnya singkat, “hyung apa?” tanyanya balik sambil menoleh ke arahku. Tangannya masih sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari pakaiannya.

“cello,” ujarku, “beasiswa?” tanyaku lagi padanya.

“ne,” jawabnya sambil mengangguk pelan, “dari mana hyung tahu?”

“murid beasiswa selalu datang lebih cepat dari pada murid reguler,” kataku.

Taemin mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian meneruskan pekerjaannya yang tadi terhenti.

Kami terdiam lagi.

“apakah semua kamar di sini ditempati murid yang berbeda kelas dan divisi?” tanyanya kemudian memecah keheningan. Tertangkap oleh mataku lemarinya yang sudah penuh dengan pakaiannya.

“ani,” jawabku, “bisa dari divisi yang sama, seperti dua orang temanku—“

“choi minho~~~,”

Perkataanku terpotong oleh suara key. Pintu kamar ku—maaf, aku selalu lupa—pintu kamar kami menjeblak terbuka saat dia masuk. Jonghyun mengikuti di belakangnya. Mata key membesar saat melihat taemin.

“omona~~ gwiyeowo~~,” key langsung menghambur ke arah taemin dan menciumnya.

Ya, menciumnya. Tepat di bibir.

Aku—dan tentunya jonghyun—dapat melihat mata taemin yang membesar dari balik wajah key. Dia tampak terkejut dan berusaha keras melepaskan dirinya dari key. Anak malang.

Decakan keras terdengar saat key melepas bibirnya dari bibir taemin.

“lembut juga bibirmu, baby~,” kata key sambil menepuk pelan pipi taemin. Key kemudian berjalan ke ujung ruangan, tempat di mana cermin berada dan mulai mematut diri.

“aissh~ bajuku kusut,” gumamnya. Aku mengacuhkannya.

“anak baru?” tanya jonghyun padaku. Taemin masih terlihat syok, karena itu jonghyun bertanya padaku.

“hm,” aku mengangguk, “namanya lee taemin.”

Kulihat taemin yang masih memandang kosong ke dinding di depannya. Aku merasa sedikit iba padanya. Jonghyun mengikuti arah pandanganku. Sementara itu, taemin mulai menggeleng-geleng pelan seperti orang tak sadar.

“kasihan,” ujar jonghyun lagi. Dikeluarkannya lollipop yang dari tadi bersarang di mulutnya. Jonghyun lalu mengintip ke bawah kasurku. Dia mengambil majalah-majalah dewasa yang kuletakkan tepat di bawah kasurku. Sengaja aku buat laci kayu kecil yang menggantung di bawah kasurku untuk meletakkan barang-barang seperti itu.

“tak ada koleksi baru?” ujarnya sambil memeriksa majalah-majalah itu satu-persatu.

“menurutmu?” ujarku sinis.

Jonghyun balas memandangku dengan matanya yang besar. Sedetik kemudian dia mengangkat bahu. Tak lama kemudian, dia mulai menarik napas dalam-dalam. Halaman majalah-majalah itu masih terus dibukanya.

“sepertinya aku butuh waktu sendiri,” kata jonghyun tiba-tiba. Dia segera beranjak dari kasur dan berjalan ke arah pintu.

“ya! Lakukan bersama!” ujar key sambil menyusul jonghyun.

Blam!

Pintu menutup. Meninggalkan aku dan taemin dalam keheningan.

Aku melirik taemin. Dia masih termenung. Mungkin sedang memikirkan nasibnya pada hari pertama di sini.

“itu tadi temanku yang aku mau ceritakan. Mereka dari divisi vokal dan tinggal satu kamar. Yang memakai baju dan vest namanya key dan yang memakai atasan tanpa lengan berwarna hitam namanya jonghyun. Mereka—“

“mianhae, hyung,” potong taemin tiba-tiba, “tapi apakah aku terlihat seperti yeoja separah itu?”

Lama aku baru bisa mencerna pertanyaan taemin. Tapi setelah beberapa detik, baru aku mengerti maksudnya.

“haha,” aku tertawa pelan, “Key adalah kisser terhebat di asrama ini. Dia akan mencium siapa saja yang dianggapnya menarik dan kurasa kau adalah salah satunya”

“apakah dia gay?” tanya taemin cepat.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“aniyo! Jangan salah paham dulu!” ujarku cepat, “begini, dia melakukannya hanya untuk kesenangan semata. Kisser dipilih oleh semua penghuni asrama dan tahun lalu key terpilih sebagai kisser di asrama ini. Di sini kisser, prince dan princess dipilih tiap tahun. Key hampir menduduki dua jabatan sekaligus tahun lalu. Hasil suara untuk princess dan kisser nya tertinggi di antara kandidat lainnya,” jelasku.

“princess??” tanya taemin.

Aku tersenyum mendengar nada suaranya yang terdengar heran.

“kau akan mengerti setelah berada cukup lama di sini,” kataku.

Dan kurasa kau yang akan jadi princess untuk tahun ini, taemin, lanjutku dalam hati sambil meliriknya. Wajah kusutnya terlihat sangat menarik.

“sepertinya aku butuh istirahat, hyung,” katanya sambil berjalan ke kasurnya.

“hm,” gumamku meng-iyakan. Kupandangi dia saat berjalan dan kemudian naik ke atas tempat tidurnya. Aku merasa geli sendiri. Mungkin dunia seperti ini dunia yang baru baginya, seperti apa yang kurasakan dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di sini.

-Flashback, Author PoV-

“ya! Choi minho!”

Minho berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Jonghyun setengah berlari mendekatinya.

“kupingmu itu tolong dibersihkan! Aku memanggilmu dari tadi, kau tak dengar juga!” ujar jonghyun kesal saat dia sudah sampai di depan minho.

“ada apa?” tanya minho tak peduli.
“kepala asrama menunggumu di ruang baca, sebaiknya kau segera ke sana.” jelas jonghyun.

Alis minho berkerut.

“kepala asrama?” ujarnya, “ada apa memangnya?”

=TBC=