Tag Archive | PG

FF/Drabble/So That’s Chen/PG

= So That’s Chen =

Title: So That’s Chen (Drabble)

Author: Taemznuna

Cast:

  • Someone
  • Chen
  • EXO Members

Author’s note:

ide FF ini muncul setelah saya nonton interview EXO-M di Yinyuetai. Entah kenapa nglompat langsung aja gitu idenya waktu liat Chennie :’) FF ini juga jadi FF pertama saya yang main cast-nya Chen (sebelumnya Chen cuma jadi cameo di Nuna’s Diary). Karena drabble, jadi isinya bener2 dikit. Juga karena ide di kepala uda lompat2 duluan, sementara jari ga bisa ngimbangi selagi ngetik, kata2 nya jadi banyak yang aneh. tapi ga bisa ngedit saya nya mah. ga tau mau di edit gimana juga. Pengen bikin yang dramatis *ceileh* tapi hasilnya jadi begini.

Di baca aja deh ya 😀

oh iya, tinggalin komen doong bagi yang uda baca~ kan saya pen tau juga pendapat riders mengenai ff dadakan saya ini. 🙂

gomawo~^^;;

PS: Taeminie masi tetep no 1 kok *ppoppo tmin*

= = =

Foreword:

‘Aku’ adalah wanita kelahiran tahun 1989 yang menjadi pengurus rumah tangga di dorm EXO. Saat itu EXO-K dan EXO-M masih belum terbentuk, jadi keduabelas anggota EXO masih tinggal di dorm yang sama. Hanya ada mereka bertigabelas di dorm itu, 12 anggota EXO dan ‘aku’.

Suatu waktu, 11 anggota EXO kecuali Chen pergi keluar dorm untuk suatu urusan. Chen yang belum sembuh benar dari sakitnya ditinggalkan oleh 11 anggota lain saat dia sedang tertidur. Hanya ada Chen dan ‘aku’ di dorm saat itu. Karena hanya tinggal berdua, Chen dan ‘aku’ saling berbagi cerita.

Chen yang selama ini dikenal sebagai anak yang pendiam membuat terkejut ‘aku’ karena tiba-tiba menjadi anak yang ceria. ‘Aku’ juga baru menyadari bahwa Chen berubah menjadi anak yang atraktif sekali jika dia sedang bersemangat. Perubahan mendadak ini membuat ‘aku’ menjadi tertarik pada Chen. Chen yang selama ini tidak terlalu diperhatikan oleh ‘aku’ dibandingkan dengan 11 anggota EXO lain langsung menyedot perhatian ‘aku’ dalam sekejap.

= = =

– So That’s Chen –

Chen terus berbicara panjang lebar sementara aku terus memperhatikan bibir tipisnya. Alisnya yang kalem bisa berubah bentuk dalam sekejap meski dia hanya mengerutkannya sedikit. Aku tak mengerti, tetapi asal kata-kata baru melompat dari mulutnya, seperti ada dorongan untuk lebih mendekat kepadanya yang terjadi dalam diriku.

Aku benar-benar tertarik pada anak ini, entah kenapa. Sebelumnya tak pernah aku memperhatikan dia, biasanya di mataku selalu Luhan yang ceria. Entahlah, mungkin karena anak ini terlalu pendiam sehingga dia tak masuk ke pandangan mataku dibanding 11 anak menarik lainnya. Dia ikut tertawa saat Baekhyun, Lay atau Chanyeol memberi lelucon ketika 12 anak-anak ini berkumpul, hanya itu yang aku perhatikan dari dirinya selama ini. Tapi setelah dia berbincang banyak hari ini di saat kami hanya berdua di dorm, dia benar-benar terlihat berbeda.

Bibir tipis itu terus bergerak sementara cerita-cerita baru mengalir dari mulutnya. Terkadang dia merapatkan bibirnya atau sekadar membasahkannya dengan lidah. Saat tersenyum atau tertawa, bibir itu makin tipis. Sungguh, anak ini ternyata benar-benar menarik.

“nuna?”

Panggilannya membuatku tersadar. Entah sejak kapan wajah Chen jadi sedekat ini. Matanya tepat di depan mataku, napasnya juga bisa aku rasakan di kulit wajahku.

Aku jadi bingung. Apa aku secara tak sadar terus mendekatinya saat dia bercerita tadi? Mungkin tanpa sadar, dorongan yang menyuruhku untuk terus mendekatinya tadi memaksa tubuhku untuk benar-benar mendekati anak ini. Entahlah, mungkin itu yang terjadi.

Chen tampak gugup, terlihat dari sorot matanya. Sedetik kemudian, Chen menelan ludahnya.

“warna matamu ternyata coklat juga.” Alihku sambil menjauhkan diri. Jantungku berdegup cepat sekali.

Warna mata! Bagus! Pemikiran cepat yang bagus! Mungkin dia percaya, mungkin juga tidak.

Butuh waktu beberapa detik bagi Chen untuk memahami kata-kataku. Bukan karena dia tidak mengerti, tapi mungkin karena dia terlalu terkejut saat aku mendekatinya tadi. Namun setelah itu senyumnya mengembang lebar dan matanya menyipit setelah satu dengusan tawa pelan. Tangan kanannya meraba dadanya.

“wah, aku terkejut,” Ujarnya sambil terus tersenyum lebar. Bagian samping matanya berkerut. “kukira nuna mau menciumku atau apa.”

Itu dia. Itu kata sandinya. Seperti yang sudah aku katakan, setiap lompatan kata yang keluar dari mulutnya menghasilkan sebuah dorongan dari dalam tubuhku untuk mendekatinya.

Kali ini bukan dengan tak sadar lagi. Kali ini otakku sendiri yang menyuruh tubuhku untuk sekali lagi mendekatinya, mendekati anak ini, menempatkan wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Lagi.

Lagi-lagi Chen terdiam. Namun tak ada sedikitpun rona terkejut yang terpancar di wajahnya. Anak ini malah tersenyum dengan bibir tipisnya itu. Seperti sudah siap.

Hanya sebentar sekali setelah senyum tipis itu, kami saling menyilangkan kepala. Aku hampir tak percaya bahwa orang pertama yang aku cium di antara ke-12 anak-anak ini adalah Chen, anak yang selama ini paling tidak aku perhatikan. Tapi bibir tipis ternyata lincah juga.

Kami bertatapan setelah ciuman itu selesai. Senyumku mengembang, meski kepalaku masih berkutat tentang bagaimana ini bisa terjadi. Semuanya seperti berjalan cepat sekali.

“selama ini hanya aku saja yang selalu memperhatikan nuna. Mulai sekarang, giliran nuna yang harus membalas semua perhatian dariku.” Bibir tipis itu mulai menari lagi di mataku, “arachi?”

Aku mendengus pelan, dan diikuti dengan senyumku yang mengembang makin lebar. Kata ‘arachi’ dengan alis berkerut dan mimik meminta persetujuan dengan setengah memaksa begitu, siapa yang bisa menolak?

“geurae, aku milikmu sekarang.” Ujarku sambil menaikkan salah satu alis. Anak ini ternyata benar-benar menarik. Tak butuh waktu lama bagiku untuk langsung terpaku padanya. “maaf karena aku terlalu cepat mencintaimu.” Tambahku lagi.

Senyum Chen mengembang lagi, kali ini dengan lidah yang digigitnya. Manis.

= = =

PPS: Komen yaaa~ 😀

Advertisements

FF/Taemin’s Diary (Don’t Cry, Noona…)/PG

= Taemin’s Diary =

SubTitle: Don’t Cry, Noona

Rating: PG

Author’s note: Short one, haha! enjoy ;D

= = =

Nuna sudah pulang. Aku tahu itu karena mulai berisik di luar. Dari tadi aku berada di kamar sambil membaca majalah.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki nuna yang mendekati kamarku. Pasti sebentar lagi nuna masuk.

Cklek!

“taemnie~” panggil nuna.

“hmm?” aku sengaja tidak menoleh ke nuna dan terus pura-pura fokus dengan majalah.

“taemnie~” pintu kamarku tertutup lalu nuna mendekatiku. Aku tahu itu meskipun aku sedang menelungkup, tapi aku masih tak mau menoleh. “taemnie~” panggil nuna lagi. Kali ini sambil menarik-narik ujung bajuku. Ada yang tidak beres, suara nuna serak seperti mau menangis. Aku langsung melihat nuna. Benar saja, mata nuna sudah berair.

“nuna kenapa?” tanyaku sambil duduk menghadap nuna. Nuna hanya melihatku dengan bendungan air mata yang hampir jebol.

“aku dimarahin” ujar nuna sambil merengek, berbarengan dengan air mata pertama-nya yang jatuh. Hanya dua yang bisa membuat nuna menangis, saat nuna merasa kecewa dan kalau nuna merasa sangat bersalah.

“dimarahkan siapa, nuna?” tanyaku. Aku jadi ikut sedih dan jadi ingin menangis. Selalu begini, kalau nuna menangis, aku juga pasti akan menangis.

Nuna tak menjawab. Dia hanya memandang ke bawah, nyaris menutup matanya, dan mencoba sekuat tenaga menahan isakannya. Kemudian nuna menggeleng.

“nuna jangan menangis lagi~” suruhku sambil menghapus air mata nuna. Nuna menggeleng lagi. Aku tak tahu maksudnya apa. Nuna hanya meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Sementara itu air mata nuna terus mengalir.

Aku tak tahan, tak mungkin aku tak berbuat apa-apa.

“nuna jangan menangis~” akhirnya aku peluk nuna. Saat badan kami menempel, barulah nuna mengeluarkan isakannya. Nuna menangis seperti anak kecil sambil memelukku erat-erat. Aku menenangkan nuna dengan menggosok punggungnya, hal yang sering nuna lakukan padaku kalau aku menangis.

Nuna menangis hanya sebentar. Setelah itu nuna melepaskan pelukannya. Wajah nuna sudah basah dengan air mata, dan nuna masih saja melihat ke bawah, mungkin tak berani melihat wajahku, mungkin nuna malu.

Aku mengelus pipi nuna, menghapus bekas air mata yang ada di sana. Nuna akhirnya memandangku, setelah elusan-ku yang ketiga di pipi nuna. Baru aku sadar kalau wajah nuna begitu dekat. Bibirnya sedikit maju karena dia memberengut. Kalau dekat begini aku jadi tak tahan.

Aku menempelkan bibirku ke bibir nuna setelah dagu nuna sedikit kuangkat dengan menggunakan jari telunjukku. Nuna tidak menolak, malah tadi nuna yang duluan menutup mata. Bibir nuna lembut, tapi sedikit asin. Mungkin karena bekas air mata tadi.

Aku menarik dagu nuna sedikit ke bawah agar bibir nuna terbuka, dan kemudian aku mulai meraupnya. Nuna merespon, nuna juga meraup bibirku. Lembut sekali. Kami melakukannya dengan perlahan dan hati-hati.

Setelah berapa lama, aku menyudahi ciuman itu. Nuna tiba-tiba memelukku lagi.

“nuna jangan menangis lagi~” ujarku lagi. Hanya itu yang bisa aku katakan dari tadi.

Nuna mengangguk.

“gomawo, taemnie” ujar nuna kemudian.

Aku mengangguk. Aku senang bisa jadi sumber kekuatan bagi nuna.

= = =

FF ㅡ 나 어떡해? (What should I do?)

= FF =

Title: What should I do?

Rating: PG

Main Cast: Nuna & Kai & Taemin

Support Cast: Seora (someone) as Nuna’s friend

Author’s note:

salahkan kai yang tampan sangat di MV History (argh)

tapi saya ga selingkuh dari taemin, taemin tetap yg nomer satu kok^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin*

>tmin: nunaa~~!! huweee~~~ *cambuk kai pake benang*

ini saya bikinnya sebenernya sambil ngebayangin nuna+tmin di nuna’s diary, jadi ceritanya ff ini rada nyambung gitu, tapi saya ngarep nya rider sekalian pada ga bayangin hal yang sama, soalnya saya ga mau tmin ngambek beneran kalo saya terusin ceritanya nuna pacaran ama kai. jadi yah, 여기까지만 ff nyaa hehe^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin lagi*
oke dah,
happy reading 🙂

= = =

-Nuna’s PoV-

“nuna, cepat pulang~ aku bosan sendirian di rumah~”

Hatiku terenyuh mendengar rengekannya, jadi rindu adikku.

“ne, sebentar lagi aku pulang.” Jawabku dengan senyuman. Padahal aku tahu dia tak akan bisa lihat karena kami berbicara melalui telepon, tapi tetap saja aku tersenyum.

“sebentar itu berapa lama, nuna~?”

Dia merengek lagi.

Haah~ tak tega juga.

“ini aku sudah mau pulang. Seora sedang keluar kamarnya, kalau dia sudah masuk nanti aku langsung pamit—nah, itu dia sudah masuk. Aku akan segera pulang. Tunggu saja. Aku matikan, ya“

Klik!

Seora melihatku dengan sebelah alis terangkat.

“adikmu?” tanyanya sembari duduk di atas tempat tidurnya.

“ng” jawabku singkat. Aku meraih jaket-ku dan mulai memasangnya.

“sudah mau pulang?” tanyanya lagi.

“ne, dia menyuruhku pulang.” Jawabku lagi. Tasku sudah aku lingkarkan di badanku. “aku pamit. Gomawo tehnya” ujarku sambil melirik ke gelas di atas meja kecil di tengah ruangan. Seora menjawabnya dengan anggukan kecil.

“kapan kau mau main lagi?” tanyanya.

“molla.” Aku sudah memegang kenop pintu kamar seora, “nanti aku hubungi lagi”

“oke” seora mengikutiku keluar ruangan.

Setelah aku berpamitan dengan orangtua seora, seora mengantarku sampai pintu depan.

“kau tahu jalannya kan?” tanya seora saat aku memasang sepatu.

“mm,” aku berpikir sebentar, “mudah-mudahan aku ingat.” Cengiran lebar melengkapi jawabanku.

“ah, aku yakin kau bisa pulang dengan selamat.”

“baiklah. Aku pulang dulu. Daah”

Seora melambaikan tangannya saat aku membuka pintu depan rumahnya.

Udara di lorong apartemen terasa dingin. Di lorong ini tidak diberi penghangat.

Aku terus berjalan sendirian. Kompleks sekitar apartemen tempat tinggal seora masih terasa asing bagiku. Daerah ini cukup jauh dari rumahku.

Sambil merapatkan lenganku ke badan, aku menapaki jalan turunan dengan langkah yang dipercepat. Seram juga rasanya jalan sendirian di jalanan sepi begini. Kalau ada orang mesum bagaimana?

Tiba-tiba dari rumah di sebelah kiri, aku mendengar suara berisik. Rumah itu tak terlalu besar tapi tak bisa dibilang kecil juga dan masih sepuluh meter di depanku, tapi aku bisa mendengar suara teriakan perempuan dari dalamnya saat pintu depannya terbuka. Sedetik kemudian, pintu itu menutup dengan suara ‘blamm’ keras dan saat itu juga suara teriakan perempuan itu teredam dan kemudian disusul oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

Jantungku langsung berdetak cepat, mengira-ngira apa yang terjadi.

Sebuah sosok cepat-cepat membelok ke kiri, menjauhi dari mana arah aku datang dan tempat sekarang di mana aku berdiri mematung. Sosok itu baru saja keluar dari halaman rumah yang aku sebutkan tadi. Sosok itu seperti sosok yang kukenal. Aku tak mungkin lupa sepatu itu. Sepatu itu selalu bisa aku tandai karena modelnya sama dengan model sepatu kesukaan adikku, hanya saja beda warna. Postur tubuhnya juga aku sangat mengenalnya.

Aku coba menyusul orang itu dengan mempercepat langkahku. Saat sudah cukup dekat, baru aku berani memanggil.

“kai?”

Sosok itu berhenti dan membalikkan badannya. Ternyata benar dia kai.

Kai melihatku dengan pandangan nanar. Meski gelap, aku masih bisa melihat airmata di wajahnya.

Saat kai melihatku, ekspresinya perlahan melunak. Dia kemudian menunduk dan pundaknya bergetar makin kencang. Isakannya mulai terdengar. Dia hanya berdiri diam di sana, dengan tangan dan kaki rapat. Meski aku baru beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku tahu kalau saat ini anak ini butuh pelukan.

Aku mendekatinya dan memeluknya. Terkadang aku muak kenapa aku terlalu pendek dibandingkan orang-orang. Tapi paling tidak aku tahu kalau pelukanku meringankan bebannya dari isakannya yang makin keras.

Aku mencoba menepuk punggungnya dan membelai kepalanya.

Kai hanya menangis sebentar. Dia kemudian melepaskan pelukannya dariku.

“mianhae, nuna” ujarnya. Suaranya masih bergetar dan dia menunduk, tak berani melihatku.

Aku tak tega membiarkan anak ini sendiri. Dia sahabat adikku.

“kau mau cerita?” tanyaku.

~~~

Aku dan kai sedang berada di taman kecil tak jauh dari tempat aku bertemu dengan kai tadi. Kami duduk di salah satu bangku. Kai masih terus menunduk, dengan kedua siku di atas lututnya.

Tiba-tiba aku teringat pada adikku yang menyuruhku pulang cepat. Dia harus dikabari kalau aku mungkin sedikit terlambat.

 

Taemin, aku ada urusan mendadak. Mungkin aku pulang sedikit lebih lama

 

Setelah pesan itu terkirim, aku memasukkan handphone-ku ke tas dan memandang kai lagi.

“jadi, kau mau cerita dari mana?” tanyaku padanya.

Kai menceritakan semua keluh kesahnya padaku. Masalahnya cukup kompleks. Aku terus membiarkannya bercerita. Anak itu terlihat lemah. Saat dia tak tahan dan kemudian terisak keras lagi, aku kembali memeluknya. Aku percaya pelukan bisa meringankan beban batin seseorang. Pelukan selalu bekerja untuk taemin saat dia sedang sedih.

Kali ini kai menangis lebih lama. Mungkin setelah dia bercerita panjang lebar, dia merasa sedikit lebih dekat denganku.

Gara-gara hal ini aku jadi teringat taemin. Dua anak ini sama, pantas saja mereka bersahabat. Sok terlihat kuat, tapi sebenarnya lemah di dalam.

Aku terus menenangkan kai dengan menggosok punggungnya dengan perlahan. Isak kai sudah hilang, tapi sepertinya dia masih ingin seperti ini. Aku sudah bilang, pelukan itu ampuh.

Tak lama kemudian, kai melepas pelukannya. Paling tidak tadinya aku kira dia akan melepas pelukannya. Tapi kemudian, ternyata kai menciumku. Aku terkejut dan tak bisa berbuat apapun.

Ini begitu tiba-tiba. Bibir kai terasa dingin.

Apa yang harus aku lakukan? Membalasnya?

Kai menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mataku dan sedetik kemudian menatap bibirku, lalu kemudian kembali menciumku setelah memindahkan posisi kepalanya.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Getarannya sangat keras sampai bunyi getarannya terdengar.

Aku langsung menjauhkan diri dari kai dan meraih tasku.

Baru saja aku baru membuka tas untuk menjawab telpon, kai menggenggam kedua tanganku dan kemudian diletakkannya melingkar di pinggangnya.

Aku seperti terhipnotis saat kai sekali lagi menempelkan bibirnya di bibirku.

Getaran handphone-ku akhirnya berhenti. Digantikan oleh bibir kai yang mulai bergerak di seberang bibirku.

Terlalu hangat, aku tak bisa menolaknya.

Setelah beberapa lama, kai menjauhkan bibirnya dan dia memelukku lagi.

Aku membuka mata dan menatap jauh ke depanku. Pikiranku masih penuh dengan tanda tanya.

“nuna, kumohon jadi pacarku” bisik kai kemudian. Pelukannya di tubuhku semakin erat saat dia bicara seperti itu.

~~~

Aku baru ingat kalau tadi handphone-ku bergetar saat aku berada di atas kereta. Aku merogoh handphone-ku dan melihatnya.

Satu panggilan tak terjawab dari taemin. Lalu enam buah sms, juga darinya.

 

Nuna pulang jam berapa?? Jangan lama-lama~

 

Itu dikirim sebelum dia menelpon, sms-sms selanjutnya dikirim setelah dia menelponku tadi.

 

Nuna, kenapa tidak diangkat? Huwee~~

 

Nuna, kenapa tidak balas sms-ku? Urusannya penting sekali, ya?

 

Nuna, kalau urusannya sudah selesai dan sudah mau pulang, bilang aku yaa. Jangan lupa.

 

Nuna, ini sudah malam sekali. Urusan apa, sih?

 

Nuna, kenapa belum pulang juga?

 

Setelah membaca semua, aku segera membalas sms taemin.

 

Aku sudah di kereta. Sudah tidur?

 

Terkirim.

Aku menghembuskan napas berat. Pandanganku terlempar keluar jendela kereta. Hanya bayangan gelap yang ada karena ini kereta bawah tanah. Tapi di depan mataku sepertinya kejadian saat aku dan kai berdua di taman tadi terulang lagi.

Saat kai mengajakku berpacaran, aku menjawabnya dengan anggukan. Entah apa yang aku pikirkan tadi. Tapi anak itu sepertinya benar-benar butuh topangan. Aku tak bisa menolaknya pada saat seperti tadi. Tidak bisa.

Handphone yang ada di tanganku bergetar pelan. Taemin sudah membalas lagi.

 

Belum tidur, aku menunggu nuna. Nuna benar-benar membuat aku khawatir. Cepat pulang.

 

Aku membalas sms itu dengan ‘ne’ singkat. Kemudian aku memandangi lantai kereta.

Mungkin aku nuna terburuk yang pernah ada. Selama ini taemin berusaha berpacaran denganku. Dia sampai sakit entah berapa kali. Apa yang akan dia katakan kalau tahu aku berpacaran dengan kai?

Aku benar-benar bodoh.

= = =

FF/Somewhere Somewhen with Taemin

= Somewhere Somewhen with Taemin =

Random Nuna & Taemin Story

= = =

“kau capek?” tanyaku pelan.

Taemin bergumam dan mengangguk pelan sebagai jawaban.

Entah apa yang merasukiku hingga membiarkannya meletakkan kepalanya di atas dadaku. Aku bersandar ke dinding dan dia duduk di depanku, saat dia menjatuhkan tubuhnya tadi, letak kepalanya tepat di atas dadaku. Entahlah, sepertinya dia menjadikan itu sebagai bantal.

“berat tidak, nuna?” tanyanya setengah tak sadar.

Aku menggeleng, tapi langsung menyadari kalau taemin sedang menutup mata dan tak mungkin bisa melihatku, “aniya” kataku kemudian.

Setelah itu kami diam. Taemin tetap pada posisinya sekarang, meletakkan kepalanya di atas dadaku. Dan aku hanya terpaku menatap langit-langit ruangan itu.

Setelah beberapa lama, kepala taemin terasa semakin berat. Aku jadi sedikit susah bernapas.

Tiba-tiba taemin mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata yang setengah terpejam. Lalu dia menciumku.

“ck!”

Ciuman itu berakhir dengan cepat.

“kenapa kau menciumku?” tanyaku.

“nuna jadi susah bernapas karena menahan kepalaku, jadi aku memberikan napas buatan” jawab taemin polos, masih dengan keadaan setengah sadar.

“buh” aku mendengus dan tersenyum melihatnya. Bahkan dalam keadaan seperti ini dia masih terlihat imut.

Aku menarik taemin lebih dekat dan meletakkan kepalanya di atas pundakku.

“tidurlah.” Suruhku dengan lembut.

Taemin tak menjawab. Dia hanya melingkarkan tangannya di pinggangku dan mulai mendengkur.

= = =

FF/S/Nuna’s Diary (page …-…) [LOST PAGES “Finally We Realize”]/PG

(from author: untuk keterangan lebih lanjut mengenai ‘lost pages’ klik di sini)

 

= Nuna’s Diary =

Page: …-… (lost pages)

SubTitle: Finally We Realize

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

Rated: PG

= = =

Aku tersentak oleh bunyi bel rumah. Saat kulihat jam dinding, sudah hampir tengah malam. Akhirnya dia pulang.

Dengan perasaan marah bercampur gelisah, aku berjalan cepat menuju pintu depan. Dengan satu sentakan pintu itu terbuka, memperlihatkan taemin yang berdiri di belakangnya. Hanya satu detik yang aku perlukan untuk menyadari apa yang kira-kira telah terjadi padanya.

“APA YANG KAU LAKUKAN??” ujarku berang. Aku berteriak, tak hanya karena dia sudah pulang lewat jam malam yang telah aku berikan, tapi juga karena keadaannya sekarang. Jelas sekali dia mabuk, dengan masih mengenakan seragam sekolahnya dibalik jaket tipis abu-abunya.

Mata taemin terlihat merah dan dia tersenyum tipis padaku.

Sedetik kemudian dia ambruk. Untung tanganku cepat menahannya sebelum dia menyentuh lantai. Taemin benar-benar tampak lemah. Kepalanya terjatuh tepat di pundak kananku.

“nuna~” bisiknya lirih.

Aku cepat-cepat memperbaiki posisinya dan menutup pintu depan. Dengan susah payah aku membawa taemin ke ruang keluarga, tempat terdekat di mana aku bisa membaringkannya. Tak ada gunanya juga marah dengannya dalam keadaaan seperti ini.

Taemin hanya bisa pasrah dan berbaring lemah di sofa kecil itu. Kuraba rambut dan pipinya sembari meletakkan lututku di lantai. Sebenarnya apa yang terjadi dengan adikku? Kenapa dia seperti ini?

“nuna~” taemin berbisik lagi, setengah mengigau.

“aku di sini” jawabku seadanya. Beberapa tetes airmataku sudah mengalir. Aku tak tahan melihatnya seperti ini.

Taemin membuka matanya perlahan dan menatapku. Dia benar-benar tampak tak bertenaga.

“mianhae” bisiknya lagi.

“kau kenapa?” tanyaku lagi, nada suaraku bergetar.

Taemin hanya menggeleng dan tersenyum. Bibirnya bergerak, membentuk sebuah kata yang terlihat seperti ‘gwaenchanha, tidak apa-apa’. Aku benar-benar tak tahan melihatnya seperti itu. Aku merasa gagal, gagal sebagai kakak yang seharusnya bisa menjaga adiknya, adik satu-satunya. Di saat itu juga aku meraung di atas tubuhnya yang lemas.

“nuna, mianhae~” bisik taemin lagi, “gwaenchanha, nuna. Ulji ma~”

Aku menurutinya. Aku hapus airmataku dan mulai membuka bajunya.

“nuna, wae—“

“kau muntah, taemin. Bajumu basah.” tebakku, dan aku yakin benar itu memang terjadi, taemin juga tak membantahnya. Dia tak bisa bohong padaku.

Taemin membiarkanku yang terus membuka bajunya. Setelah itu, aku mengumpulkan bajunya dan meletakkannya di ember baju kotor, dan dengan terburu-buru aku mengambil baju rumah taemin di dalam kamarnya dan kembali ke ruang keluarga secepat aku bisa.

“nuna, mianhae~” ujar taemin ketiga kalinya saat aku memasangkan baju kaosnya.

Aku tak ingin menanggapinya. Paling tidak sebelum aku tahu apa sebenarnya yang membuatnya mabuk seperti ini.

“kau tunggu di sini. Aku akan buatkan susu”

“perutku tak enak, nuna—“

“kau HARUS minum susu” ujarku memotongnya. Dia tidak dalam keadaan bisa membela diri sekarang ini.

Taemin hanya diam, dan membiarkanku berjalan ke dapur.

Saat aku kembali, taemin masih berbaring.

“minum ini” ujarku saat sampai di depannya. Aku membantunya duduk.

Taemin mulai minum sementara aku duduk di sebelahnya sambil memperhatikannya. Setelah dia menghabiskan susu itu, dia berbaring lagi.

“kau harus tidur di kamar” aku menatapnya tajam. Asing rasanya melihat taemin yang seperti ini.

“di sini saja” ujarnya keras kepala.

Aku tak mau membantahnya sekarang. Percuma.

Sebentar kemudian dengkur taemin terdengar, dan aku melanjutkan tangisku lagi. Terlalu banyak hal dalam pikiranku akhir-akhir ini dan taemin menambahnya dengan ini. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang.

***

Saat aku terbangun, aku menemukan selimut yang diselimutkan padaku. Taemin juga sudah tak ada lagi di sofa. Dengan mata masih berat, aku mencoba mencarinya.

“taemin?” panggilku dengan suara serak.

Taemin keluar dari kamar mandi dan menatapku sebentar kemudian. Dia lalu berjalan memutari sofa dan duduk di sebelahku. Wajahnya masih terlihat kusut, tapi aku harus mengetahui semua yang terjadi padanya kemarin. Matanya yang masih merah mengobarkan lagi kemarahanku yang belum dilepaskan tadi malam.

“sekarang jelaskan padaku” ujarku dingin.

Taemin tak langsung melihatku. Dia menunduk memandangi sesuatu di bawah kakinya.

“aku ingin dipeluk” ujarnya pelan.

“kau tak akan mendapatkannya sebelum kau jelaskan semua.” suaraku benar-benar sedingin es sekarang.

Taemin menarik napas panjang sebelum menghembuskannya kembali.

“yeonha mengajakku”

DEG!

Yeonha mengajaknya?? Bagaimana bisa—?? Padahal aku percaya dengan anak itu, bagaimana bisa??

“mianhae, nuna”

Aku masih belum bisa menyatukan semua ini. Maksudnya, si yeonha ini yang menjerumuskan adikku, begitu??

“dia mengajakmu minum??” tanyaku dengan nada tinggi.

Akhirnya taemin berani melihatku. Tatapannya tampak benar-benar bersalah.

“bukan, dia tidak mengajakku minum,” Jawab taemin gelisah. 

Sebentar, tidak mengajak minum jadi apa?? Kenapa taemin sampai mabuk begini??

Mungkin taemin melihat tampangku yang masih kebingungan, dia melanjutkan ceritanya.

“dia mengajakku melakukan ‘itu’, nuna”

DEG!!

Kali ini detakannya lebih keras. Aku tak tahu kenapa.

Aku mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, menyiapkan diri untuk menerima cerita lanjutannya.

“lalu?” tanyaku pelan, “kenapa kau bisa mabuk?”

Taemin menunduk lagi.

“aku pergi minum sendiri karena aku hampir melakukannya”

Aku mulai tak mengerti lagi sampai di sini.

“kau hampir? Jadi kau belum—?”

Taemin memotongku dengan sebuah gelengan. Setelah itu dia menatapku lagi. Tatapannya terasa dalam.

“aku hanya memikirkan nuna. Mianhae, nuna. Aku tak bisa melanjutkannya”

Aku tak memberikan respon apapun. Otakku masih belum bisa menerima semuanya.

“meski nuna yang menyuruhku berpacaran, memohon pada yeonha agar kami pacaran,” taemin melanjutkan, “mianhae, nuna. Aku sudah mencoba, tapi aku tak bisa” suara taemin terdengar makin pelan hingga kata terakhir.

“aku sudah mencoba, nuna. Aku sudah pegangan tangan, makan bersama, kiseu, tapi aku selalu memikirkan nuna. Aku tak bisa,” kali ini taemin menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan dia mulai terisak, “mianhae~” ujarnya lagi.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain memeluknya. Itu tadi yang dipintanya dan itu yang benar-benar ingin aku lakukan sekarang; memeluknya. Aku benar-benar memeluknya erat. Aku kira dia akan bahagia menemukan wanita lain selain aku di hidupnya, tapi ternyata ini hasilnya. Aku sudah menghancurkan adik kecilku. Aku gagal.

“mianhae, taemin” ujarku pelan sambil memeluknya makin erat, “mianhae~”

Kemarahanku sudah berubah menjadi kesedihan dan penyesalan sekarang. Aku biarkan saja airmataku terus jatuh.

Taemin membalas pelukanku dan kami sama-sama menangis.

“aku sayang nuna~” kata taemin disela isakannya, “saranghae~ aku tak bisa tanpa nuna. Mianhae, nuna~”

“jangan begini lagi, taeminie~ jangan pernah begini lagi~” bayangan taemin yang kutemukan mabuk tadi malam membayang lagi di depan mataku. Semuanya gara-gara aku.

“tidak akan, nuna~ aku minta maaf~ mianhae~~”

Taemin menjauhkan tubuhnya dariku dan menatapku. Aku melihat wajahnya yang sudah basah oleh airmata dan aku mencoba menghapusnya.

“aku mau nuna, aku tak mau yang lain” ucap taemin dengan pelan. Setetes airmata jatuh lagi ke pipinya yang memerah.

Aku memejamkan mata dan mengangguk. Tak ada gunanya lagi menyembunyikannya sekarang. Aku tak bisa bohong lagi kalau aku juga menginginkannya.

Dengan duduk berhadapan dan dengan wajah yang masih basah dengan airmata, kami berciuman. Ciuman terlarang antara dua saudara, tapi kami tak peduli, aku tak peduli. Kenyataannya memang ini yang terjadi. Dia menginginkanku, dan aku menginginkannya. Apa lagi yang harus disembunyikan? Kejadian yang terjadi akhir-akhir ini menyadarkanku, kalau aku juga tak bisa tanpanya. Tak mungkin juga aku membohongi diriku sendiri selamanya.

“apa aku harus mabuk dulu agar bisa menyadarkan nuna?” tanya taemin tiba-tiba.

Aku membuka mata dan mata taemin yang berjarak sangat dekat yang langsung kulihat.

“mianhae~ aku selama ini tak tahu~ aku—“

Perkataanku terpotong oleh ciuman taemin lagi. Airmataku mengalir turun lagi. Meski aku akhirnya sadar kalau ini yang aku inginkan tapi kenapa airmata ini terus jatuh? Apa tubuhku masih menolak hubungan ini dan memberontak di luar kesadaranku?

“nuna tak pernah salah. Nuna hanya butuh waktu. Dan aku benar-benar bahagia sekarang mengetahui kalau nuna sudah menyadarinya. Saranghae, nuna” kata taemin sebentar kemudian.

Aku hanya bisa mengangguk dengan airmata yang terus mengalir.

“sudah, nuna. Ulji ma~”

Taemin menarikku ke dalam pelukannya dan menggosok-gosok punggungku, mencoba menenangkanku.

= = =