Tag Archive | Romance

FF/Trainee (part2)

= Trainee =

Title: Trainee
Part: 2

Cast:
– Ha Yoonmi (OC, main cast)
– EXO Chen
– SM artists
– Other casts are OC

POV: Main cast (Yoonmi)

= = =
Aku menengadah ke jam dinding. Pukul 14.32. Masih 28 menit lagi dari waktu bimbingan vokal pertamaku. Aku meletakkan kedua tanganku di pinggang, melemparkan pandangan dari meja ke kasurku. Kemudian aku mulai mondar-mandir lagi. Sudah lima belas menit aku gelisah seperti ini di kamarku. Aku keluarkan handphone-ku dari kantong celana untuk memeriksa kembali sms yang aku terima siang tadi.

Yoonmi-ssi, bimbingan vokal anda akan dimulai pukul 15.00 hari ini. Latihan akan berlangsung selama 45 menit. Silakan datang ke ruang latihan 407 sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Aku perhatikan kembali sms itu. Pukul 15.00. Aku menengadah ke jam dinding lagi. 14.34. aku melihat layar handphone-ku lagi. Ruang latihan 407, berarti lantai empat. Aku sering melewati ruang latihan itu meski aku belum pernah masuk ke dalamnya. Aku meletakkan handphone-ku di atas meja kemudian menyambar tasku dan melihat ke dalamnya. Buku musik, sudah. Buku catatan, sudah. Alat tulis, sudah. Apa lagi yang aku butuhkan? Aku berhenti sebentar sambil melihat dinding untuk mengingat apa yang aku lupakan. Ah, air! Tapi tunggu, memangnya di ruang latihan boleh membawa air?
Aku berjalan keluar kamar. Byul dan Hyera eonni sedang mengobrol di ruang tengah, mungkin aku bisa bertanya pada mereka.
“Eonni~ Di ruang latihan boleh bawa air, tidak?” tanyaku pada mereka.
“Bawa saja,” jawab Byul eonni acuh tak acuh.
“Oke”
Aku berjalan kembali ke dalam kamar. Saat aku menutup pintu kamar, aku lirik sekilas jam dinding. 14.44. Dari dorm kami ke kantor paling hanya butuh 4 menit. Kalau aku ke mini market sebentar, mungkin tambah 3 menit, waktu total 7 menit. Saat sampai di sana aku akan tiba tepat waktu. Tapi sebaiknya aku cepat-cepat.
Aku langsung menyambar tasku dan bergegas keluar.
“Aku pergi dulu” ujarku sekilas kepada Byul eonni dan Hyera eonni.
Palli gatta wa~ (cepat kembali)” kata Hyera eonni.
“Ne~,” jawabku sambil tersenyum.
Hatiku semakin gelisah seiring langkahku menuju kantor.
Nanti aku akan berdua dengan Chen selama 45 menit. Berdua dengan Chen. Dengan Chen. Kyaa~!!
Aku menunduk agar tidak ketahuan sedang senyum-senyum sendiri oleh para pejalan kaki yang berpapasan denganku. Kemudian aku menertawai diriku sendiri. Dasar babo! Batinku sambil menjitak kepalaku.
Aku masuk ke mini market di dekat dorm kami, langsung menuju lemari pendingin dan menyambar salah satu botol air mineral di sana. Hanya ada satu pengunjung yang sedang membayar belanjaannya di kasir saat aku ikut mengantri. Mataku membelalak melihat belanjaannya. Satu keranjang penuh! Aku mengeluh dalam hati. Kalau begini bisa-bisa aku terlambat. Dengan alis berkerut, aku merogoh kantong celanaku untuk melihat jam di handphone. Handphone-ku tidak ada di kantong kanan, aku mencoba merogoh yang kiri. Juga tidak ada.
Di mana handphone-ku?
Aku makin gelisah merogoh kantong jaketku, mengaduk-aduk tasku. Tidak ada.
Tunggu. Aku mencoba mengingat-ingat lagi. Tadi aku selama berjalan ke sini tidak mengeluarkan handphone, di lift turun tadi juga aku tidak mengeluarkan handphone. Saat keluar rumah dan pamit tadi juga tidak. Saat di kamar… Ah! Handphone-ku aku taruh di atas meja di kamar!
Aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku se-babo ini, sih? Aku mengeluh pelan dan semakin tak sabar menunggu orang dengan belanjaannya di depanku ini.
Saat aku selesai membayar air mineral-ku, aku langsung berlari kembali ke dorm. Lift rasanya lambat sekali naik ke atas. Aku mengetuk-ketukkan kakiku ke lantai tak sabar. Akhirnya pintu lift terbuka dan aku langsung berlari ke pintu dorm kami.
Dengan terburu-buru aku membuka pintu setelah menekan tombol password, masuk ke dalam, dan aku berteriak. Byul eonni dan Hyera eonni sedang berciuman ketika aku masuk.
“Mwoya??” teriakku kaget. Di depan mataku, mereka berdua sudah melepaskan pelukan.
“Ani—Yoonmi—ini tidak seperti yang kau pikirkan—“ Hyera eonni mulai bicara, tapi kemudian berhenti setelah aku mengangkat tanganku agar dia berhenti.
“Nanti saja penjelasannya. Anggap saja aku tak lihat, oke?” aku yang kembali sadar tujuanku awalku kembali ke dorm segera menghambur ke dalam kamar dan menyambar handphone-ku. Jarum panjang di dinding sudah menunjukkan angka 12, tanda sudah pukul 15.00. Sial aku terlambat!
Aku berlari lagi keluar dorm, sengaja tak mau melihat dua eonni yang sudah aku kenal selama 6 bulan itu. Selama menunggu lift sampai ke lantai bawah, aku mulai memutar kembali kejadian yang aku lihat tadi. Jadi mereka lesbian??
Ting!
Pintu lift terbuka dan aku langsung menghambur ke luar dan kembali mulai berlari. Nanti saja memikirkan mereka, keadaanku sekarang lebih penting!
***
Aku mengatur napasku. Sekarang nomor ruang 407 sudah tertera di depanku. Aku melihat layar handphone yang dari tadi tak aku lepas dari tanganku. 15.03. aku menempelkan telingaku ke pintu kayu itu. Tak terdengar apapun.
Tentu saja, babo, ruang latihan kan kedap suara!, batinku menyalahkan diri sendiri.
Baiklah, aku akan masuk sekarang. Sambil menatap karpet di bawahku, aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan dan mengetuk pintu di depanku tiga kali.
= = =
(tbc)

FF/Trainee (part1)

= Trainee =

Title: Trainee

Cast:
– Ha Yoonmi (OC, main cast)
– EXO Chen
tumblr_mtg0pfUlju1rm8ut3o1_500
– SM artists
614914_430782063631300_1070014065_o
– Other casts are OC

POV: Main cast (Yoonmi)

= = =
“Vokalmu rendah dan itu benar-benar dibutuhkan dalam grup. Kau bisa mencapai nada rendah, tapi suaramu terlalu sayang kalau hanya diberi posisi rap, karena itu kami tetap memilihmu menjadi salah satu lead vocal,” ujarnya, “ meski begitu, kami yakin kau masih bisa mencapai nada-nada tinggi, yah mungkin tak bisa setinggi Seul, tapi kami yakin kau bisa mendekati nadanya.” Direktur memperbaiki posisi duduknya di kursi bersandaran tinggi yang terlihat nyaman itu. Aku masih tak berani menggerakkan pantatku, hanya jari-jariku saja yang saling meremas di atas pangkuanku sementara keringat dingin mengalir di punggungku.
Aku sadar hal itu, mengenai suaraku yang rendah. Seul eonni memiliki suara seperti Luna sunbaenim, suaranya benar-benar tinggi, bahkan untuk ukuran wanita. Dia bahkan bisa mencapai dua nada lebih tinggi dari pada Luna sunbaenim, aku pernah melihatnya saat kami latihan vokal bersama. Sedangkan suaraku, sebagian orang mengatakan suaraku satu warna dengan suara Taeyeon sunbaenim. Tapi Yang seonsaengnim mengatakan bahwa aku bisa mencapai nada yang lebih rendah daripada Taeyeon sunbaenim, bahkan lebih rendah daripada yang BoA sunbaenim atau J-Min sunbaenim bisa raih. Jadi kalau begini, siapa kira-kira sunbae yang akan membimbing vokalku?
Direktur menghembuskan napas berat sebelum beliau memulai lagi. Kedua tangannya bertaut di atas meja sementara dia menumpukan berat badannya ke depan, mencondongkan badannya ke arahku.
“Guru Yang sudah memberitahumu ‘kan, kalau kau bisa meraih nada rendah dibanding penyanyi wanita manapun di agensi ini?” tanyanya. Aku mengangguk sebagai jawaban. “Apa tanggapanmu tentang itu?” tanyanya lagi, terlihat sekali dia sedang mengetesku. Bahkan dari pancaran matanya, aku sedikit menangkap bahwa dia ragu padaku.
Aku menelan ludah. Salah jawab, bisa-bisa aku tidak jadi debut. “Saya… saya…” tenggorokanku tercekat. Aku berpikir keras. Jika aku ingin melucu dan menjawab ‘saya ragu apa seharusnya saya dilahirkan sebagai laki-laki’, mungkin saja bisa mencairkan suasana. Tapi mungkin tidak sekarang. Aku berdehem sebentar sebelum melanjutkannya lagi, “Saya mungkin saja bangga karena bisa mencapai nada rendah, tapi dibandingkan orang lain dan sunbaenimdeul yang memiliki rentang oktaf yang lebih lebar, saya bukan apa-apa. Setidaknya saya ingin seperti mereka—”
“Kau harus lebih dari mereka karena kau memang bisa,” potong direktur. Aku tak tahu harus memberi respon apa, jadi aku hanya melihat ke pinggiran meja dan menggangguk kecil. “Apa kau bisa berjanji dan bertekad untuk lebih dari mereka?” Tanya direktur lagi. Aku melihat matanya dan mengangguk yakin.
“Ye, saya rasa saya bisa.”
“Bisa apa?” direktur menaikkan sebelah alisnya.
“Saya berjanji dan bertekad akan bisa melebihi orang-orang yang selama ini membuat saya iri karena lebarnya oktaf vokal mereka. Saya yakin saya bisa lebih dari mereka dengan apa yang saya miliki. Saya akan mengasah kemampuan saya,” terangku panjang.
Senyum lebar tersungging di wajah direktur. Beliau menyandarkan kembali punggungnya di sandaran kursinya, kali ini terlihat lebih rileks. “Kalau kau sudah yakin dengan kemampuan dirimu seperti ini, kami tak bisa ragu lagi.” Direktur kemudian mengeluarkan tiga buah foto dari laci meja kerjanya dan meletakkan foto-foto itu berdampingan di atas meja. Aku memperhatikan tiga buah foto itu. Foto tiga orang pria dan aku mengenali mereka bertiga. Aku memperhatikan direktur lagi saat dia mulai bicara.
“Kami tak yakin bisa melepaskanmu pada penyanyi wanita yang bahkan tidak bisa mencapai nada lebih rendah darimu, karena itu dengan segala pertimbangan yang ada, kami memutuskan untuk memberimu pada penyanyi pria yang memiliki rentang oktaf lebar. Kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi di agensi ini—penyanyi pria membimbing penyanyi wanita—, tapi kami tak punya pilihan lain.” Direktur melanjutkan perkataannya sembari menunjuk masing-masing foto yang terpampang di depan mataku, “TVXQ Changmin, Super Junior Ryeowook, EXO Chen. Hanya mereka bertiga penyanyi pria yang memiliki rentang oktaf lebar di agensi ini.” Direktur melipat tangannya sambil memandangku misterius, senyumnya melebar ke samping kiri wajahnya, “Di antara mereka bertiga, yang mana yang kau inginkan untuk membimbing vokalmu?”
Aku memperhatikan ketiga foto itu sambil berpikir keras. Dimulai dari foto yang paling kiri, TVXQ Changmin, Max Changmin, Shim Changmin, orang yang menjadi bias-ku dulu saat aku masih menjadi Cassiopeia junior. Sosoknya jarang aku lihat di kantor, tapi tak diragukan lagi dia adalah laki-laki yang memiliki oktaf tertinggi yang aku tahu. Pernah suatu kali aku mencoba mengambil bagian teriakannya di lagu ‘Rising Sun’ dan aku rasa aku hampir merobek pita suaraku. Suaraku alto, tak akan bisa meraih nada itu, aku tahu batas kemampuanku. Mungkin pita suaranya itu berkah dari Tuhan yang tak bisa dibagi padaku.
Aku berpaling ke foto selanjutnya, Super Junior Ryeowook. Termasuk salah satu pria dengan vokal tinggi, namun tentu saja dia juga bisa mengambil nada rendah. Aku pernah mencoba menyanyikan bagian terendahnya di salah satu lagu Super Junior yang aku lupa judulnya apa dan aku tak mendapatkan kesulitan apapun saat menyanyikannya. Nada tertingginya juga tidak terlalu susah, masih di dalam range oktaf-ku. Kalau mau jujur, sunbae yang satu ini adalah kandidat terlemah di antara tiga orang yang ditawarkan direktur.
Keningku berkerut, ada yang kurang dari foto-foto ini. Aku tahu penyanyi pria lain yang memiliki range oktaf lebar di agensi ini. Penyanyi boyband SM yang debut setelah Super Junior dan sebelum EXO.
“Kenapa SHINee Jonghyun—“
“Tidak. Warna suaranya beda denganmu.” Direktur langsung memotongku. Aku mengeluarkan ‘ah’ pelan sambil mengangguk. Tatapanku kembali tertuju ke atas meja. Tentu saja, agensi pasti paling tahu siapa yang terbaik untukku, batinku.
Pandanganku berpaling ke foto terakhir. EXO Chen. Lead vokal di boyband yang sampai sekarang adalah boyband terakhir diterbitkan agensi. Usianya setahun di atasku. Suaranya tinggi, mungkin hampir sama dengan Changmin meski aku tak pernah membandingkan mereka. Dia juga bisa mencapai nada rendah, aku pernah melihatnya di salah satu Reality Show mereka. Nada itu belum pernah aku coba, terlalu rendah untuk vokalku yang alto.
Aku mengambil napas panjang dan menghembuskannya. Kuperhatikan lagi ketiga foto itu. Pilihan berat. Changmin sunbae memiliki oktaf yang terlalu tinggi, dia juga sudah lama menjadi artis, sudah pasti profesional. Bahkan hingga kini agensi masih mengagungkan mereka, baik para direktur maupun para staff. Levelnya terlalu tinggi untukku tapi aku ingin belajar darinya.
Ryeowook sunbae. Hmm.. aku sering mendengar bahwa dia adalah orang yang ramah dan sabar. Kepribadiannya lembut. Dia pernah menjawab salamku saat aku berpapasan dengannya dan menyapanya di kantor. Sebelumnya tak pernah sunbae lain membalas salamku, dia adalah yang pertama. Tapi sekarang, di sini, aku tak boleh subjektif. Aku membutuhkan guru untuk vokalku. Aku tak bilang kalau Ryeowook sunbae memiliki vokal lemah, tapi dibandingkan dengan dua orang lain yang ditawarkan direktur, aku tak mau bohong bahwa aku menginginkan guru yang memiliki range oktaf lebih lebar agar bisa membimbingku.
Chen sunbae yang belum lama debut dan memiliki usia yang tak jauh dariku adalah kandidat yang paling kuat jika dilihat secara personal. Tapi aku sedikit ragu untuk memilihnya. Dia adalah yang paling muda dan kurasa dia belum memiliki pengalaman membimbing vokal orang lain. Aku dengar, dia juga dibimbing oleh Ryeowook sunbae, tapi aku tahu bahwa range oktafnya lebih lebar daripada gurunya sendiri.
Aku menggigit bibir bawahku. Masih banyak pertimbangan lain yang memenuhi kepalaku. Mataku terus beralih dari foto satu ke foto yang lain.
“Bagaimana, Yoonmi-ssi? Siapa yang kau inginkan menjadi gurumu?” Tanya direktur lagi.
Aku tak punya banyak waktu dan harus segera memutuskan. Aku menatap tiga foto itu lagi dan menguatkan hatiku. Aku menarik napas panjang lagi agar membantuku yakin akan pilihanku. Setelah menghembuskannya perlahan, aku menengadah kepada direktur. Dan dengan tatapan yakin, aku menjawab lantang, “Chen. Saya memilih EXO Chen sebagai guru pembimbing vokal saya.”
***
Direktur tersenyum setelah mendengar jawabanku. Beliau kemudian membereskan ketiga foto tersebut dan meletakkannya kembali ke dalam laci meja kerjanya.
“Kau akan mulai bimbingan besok sore. Kami akan memberitahu Chen. Waktu dan tempat bimbingan akan kami beritahu selanjutnya. Tugasmu hanyalah mempersiapkan diri dan mental. Jika member-mu mendengar tentang hal ini, bisa jadi mereka iri padamu. Seperti yang aku bilang sebelumnya, kau penyanyi wanita pertama yang dibimbing penyanyi pria di agensi ini. Karena itu, kau harus menjaga hubungan baik dengan para member-mu. Kami tak ingin mendengar ada perseteruan di antara kalian bahkan sebelum kalian debut. Kalau kau sudah mengerti semua, kau boleh kembali ke ruang latihan.”
Aku mengangguk tanda mengerti dan berdiri dari tempat dudukku. Dengan sedikit membungkuk, aku pamit dan keluar dari ruangan direktur. Aku menghembuskan napas berat saat pintu menutup pelan di belakangku. Sambil berjalan pelan menuju ruang latihan, aku berpikir mengenai member grupku. Seul eonni, dia suka Luhan sunbae dan mereka cukup dekat. Songyi si maknae pernah bilang padaku kalau dia cukup menyukai D.O dan sejauh yang aku ingat, Byul eonni dan Hyera eonni tak pernah membicarakan tentang EXO sebelumnya. Mereka lebih tertarik dengan idol dari agensi lain.
Sementara aku? Aku suka Chen. Aku sudah menyukainya bahkan jauh sebelum aku ikut audisi agensi ini dan terpilih masuk sebagai salah satu trainee. Saat aku memilihnya tadi, aku bohong bahwa aku memilih mereka berdasarkan pemilihan objektif, memilih hanya demi mengasah kemampuan vokalku dengan guru yang kurasa cocok. Changmin memang bias-ku, tapi itu lima tahun yang lalu. Saat EXO mengadakan showcase, mataku langsung terpaku pada Kim Jongdae. Aku sudah gila kalau tidak memilihnya.
Pintu ruang latihan sudah berada di depanku. Direktur benar, aku harus mempersiapkan mentalku. Bukan untuk mengatasi member grup-ku, hal kecil itu bisa aku atasi, tapi untuk menata jantungku besok. Membayangkan hanya berdua dengan Jongdae di ruangan tertutup, hanya ada aku dan dia. Senyumku tak bisa kutahan.
Aku berdeham, menghirup napas dalam dan menghembuskannya untuk menenangkan emosiku. Kubuka pintu ruang latihan perlahan dan melihat keempat member grupku sedang duduk sambil membentuk lingkaran. Aku tersenyum pada mereka seolah tak terjadi apa-apa. Aku tak bisa memberitahu mereka tentang hal ini sekarang. Belum saatnya.
= = =
(tbc)

FF/비온그밤 (Taemin Ver. “That Man’s Coming”)

= 비온그밤 =

Title: 비온그밤 “The Rainy Night” (Taemin Ver.)
Subtitle: That Man’s Coming

Author: Taemznuna

Cast:

– Taemin (SHINee) (main point of view)
– Chen (EXO-M)
– Taemin’s noona, Yeong Mi (OC)

= = =
Nuna masih belum pulang. Kulihat jam sekali lagi untuk memastikan kalau aku memang tak salah lihat. Benar, sudah hampir jam 1 malam. Aku mulai gelisah.
Tadi nuna memang sudah bilang padaku kalau dia akan pulang larut. Tapi kami sama-sama tahu—meskipun tidak ada peraturan tertulis—kalau jam malam rumah ini adalah jam 11 malam. Ada konpensasi 15 menit jika dalam keadaan mendesak. Memang jam malam tersebut mungkin dianggap aneh dan terlalu ‘pagi’ bagi sebagian orang, tapi memang peraturan itu berlaku dari dulu. Aku dan nuna sudah tahu itu.
Dari luar suara guntur terus terdengar. Sudah jam segini nuna masih belum pulang, dan di luar sepertinya akan hujan. Aku makin gelisah.
Aku membuka inbox hp-ku lagi dan kembali membaca ulang 12 sms yang telah kukirim ke nuna selama 1 jam terakhir. Tak ada satu pun balasan. Aku menarik napas panjang, menutup mataku dan mencoba berpikir jernih. Tadi nuna bilang dia akan pergi ke noraebang bersama teman-temannya. Mungkin nuna keasyikan bernyanyi dan tidak sempat mengecek hp-nya. Ya, mungkin begitu.
DUARRR!!!
Suara guntur barusan menggetarkan jendela rumah. Kemudian, disusul oleh suara hujan yang tiba-tiba datang dengan derasnya.
Tidak, meski keasyikan tapi seharusnya nuna sudah pulang dari tadi. Ini sudah dini hari!
Aku memencet tombol 1, panggilan cepat ke hp nuna-ku. Sambil menempelkan hp di samping telinga, aku mulai berjalan mondar-mandir di depan sofa.
Suara hujan di luar semakin jelas, itu membuatku makin khawatir.
Kenapa nuna tidak mengangkat telponnya??
Aku sudah hampir memutus sambungan telpon dan berencana menelpon nuna lagi saat suara nuna dari ujung sana terdengar. Suara nuna kecil karena dikalahkan suara hujan yang juga terdengar dari tempat nuna berada.
[Yeoboseyo?]
“Nuna, eodiya?” tanpa basa-basi, aku langsung menyerang nuna. Nada suaraku sangat tidak santai sekali.
[Di mini market dekat rumah kita, sedang berteduh.]
“Sendiri?”
[Tidak, dengan teman.]
Teman? Siapa?, batinku. Aku mulai curiga.
“Siapa?”
Ada jeda sebentar sebelum nuna menjawabnya.
[Chen]
Deg!
Cowok itu lagi…
“Sepertinya hujannya akan lama. Langsung pulang saja. Sekarang! Aku tunggu.”
Aku tak menunggu jawaban nuna, aku langsung memutus telponnya. Kini aku semakin gelisah.
Chen. Nuna dengan chen. Cowok yang disukai nuna.
Aku berjengit. Bahkan mendengar hal itu dalam pikiranku pun aku tak suka. Aku mulai mondar-mandir lagi. Memikirkan ini dan itu. Rasanya sudah lama sekali nuna tidak menyebut-nyebut cowok itu, lalu tiba-tiba sekarang nuna akan pulang ke rumah dengannya. Aku tak menyukai itu.
Ting dong!
Itu pasti nuna. Aku segera berlari ke pintu depan untuk membukanya. Angin yang datang dari luar menghantamku ketika aku membuka pintu dengan lebar, begitu juga percikan-percikan hujan yang terbawa angin. Nuna langsung masuk, di belakangnya cowok itu mengikutinya. Tubuh mereka basah kuyup. Ternyata hujan di luar memang deras, bahkan lebih deras dari perkiraanku. Tega sekali aku menyuruh nuna segera pulang tadi.
“Taemin, ambilkan dua handuk bersih di lemariku. Di rak kanan atas,” ujar nuna kemudian. Aku langsung mengerjakannya. Dalam hati aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya aku tahu kalau mereka akan datang dalam keadaan basah dan seharusnya memang aku sudah menyiapkan handuk sebelum mereka sampai. Kasihan nuna-ku terlihat kedinginan seperti itu.
Aku kembali dengan membawa 2 buah handuk bersih dan memberikannya pada nuna. Nuna kemudian menyerahkan salah satu handuk itu pada cowok itu. Saat itu barulah aku perhatikan mereka berdua. Rambut cowok itu basah seluruhnya, begitu juga badan dan bajunya. Tapi tidak dengan nuna. Hanya bagian tubuh depan dan bawah nuna saja yang basah. Selain bagian itu hampir bisa dikatakan kering. Sepertinya tadi cowok itu melindungi nuna-ku dari hujan dengan jaketnya. Soalnya jaket yang sedang dipegang nuna—dan sudah pasti bukan punya nuna—memang terlihat basah.
“Sebaiknya kau membasuh badanmu, aku akan mengeringkan pakaianmu.” Kata nuna pada cowok itu. Kata-katanya sedikit kaku.
“Baiklah. Di mana kamar mandinya?” ujar cowok itu kemudian. Dia masih mencoba mengeringkan wajah dan rambutnya dengan handuk yang aku bawakan tadi.
Nuna masuk dan menunjukkan kamar mandi kami.
“Nanti akan aku bawakan pakaian ganti. Saat aku ketuk, tolong buka pintunya, ya.”
“Oke.” Dia menghubungkan jari telunjuk dan jempolnya dan kemudian menutup pintu kamar mandi.
Tanpa menoleh padaku, nuna bergegas ke kamarku dan mengaduk isi lemariku. Aku hanya mengikutinya.
“Taemin, pinjam bajumu,” izin nuna. Nuna tidak perlu jawabanku karena memang itu bukan masalah. Tak mungkin aku tak meminjamkan bajuku pada cowok itu. Aku tak sudi melihatnya telanjang di depan nuna-ku. Enak saja!
Nuna kembali lagi ke depan pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
“Chen? Ini baju gantimu.”
Aku tak suka mendengar namanya selalu disebut-sebut nuna seperti itu. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka sedikit dan memperlihatkan cowok itu yang mengintip dari baliknya. Aku baru sadar kalau matanya cukup besar.
“Gomawo.” Katanya sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil bajuku.
“Pakai saja sabun dan shampoo yang ada di dalam. Jangan sungkan.” Tambah nuna lagi.
“Eung.” Dia menjawab singkat sambil menutup pintu kamar mandi.
“Jamkkanman!” nuna tiba-tiba menahan pintu itu dan cowok itu mengintip lagi. Kali ini dia mengangkat kedua alisnya, terlihat sedikit bingung. Kenapa sih dia sok terlihat imut seperti itu?? “Mana pakaian basahmu? Biar aku keringkan.” Ujar nuna kemudian.
Cowok itu hanya ber-‘oh’ pelan tanda mengerti dan kemudian mengulurkan pakaian yang dikenakannya tadi kepada nuna-ku. Baru setelah itu dia menutup pintu lagi.
Aku menghirup napas panjang dan menenangkan diri. Pemandangan macam apa ini yang ada di depan mataku?? Aku benci keadaan seperti ini.
Setelah mengikuti nuna ke mesin cuci di dekat dapur dan memperhatikan nuna mengeringkan baju basah milik cowok itu, aku mengikuti nuna yang mulai berjalan ke kamarnya. Kali ini nuna mengaduk lemarinya dan mengeluarkan bed cover besar dan alas kasur. Rasa curigaku kembali muncul. Baru saja aku hendak bertanya, tiba-tiba nuna berkata sesuatu.
“Taemin, bantu aku ambilkan salah satu bantal di kasurku. Setelah itu bawakan ke kamarmu”
“Untuk siapa?” tanyaku penuh curiga. Aku sudah punya bantal dan aku tak perlu bantal tambahan.
Nuna menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. Akhirnya nuna melihat aku, akhirnya nuna sadar kalau aku juga ada, bukan hanya mereka berdua yang ada di rumah ini.
“Tentu saja untuk chen.”
Dia tidur di sini?” nadaku meninggi tanpa kusadari.
“Kita tak punya payung, aku meninggalkannya di rumah temanku dua hari yang lalu.” Kata nuna sambil menutup pintu lemarinya.
“Tunggu saja sampai reda.” Ujarku tak senang.
“Kau kira sudah jam berapa sekarang??” kali ini nada nuna yang meninggi. Aku mengerutkan keningku. Aku tak suka nuna marah padaku seperti itu hanya gara-gara cowok itu. “Dia akan tidur denganmu malam ini. Sekarang, bantu aku membawa bantalnya.” Nuna berkata seperti itu sambil kembali mendekap bed cover tebal dalam pelukannya.
“Aku tak mau tidur dengannya.” Ujarku egois.
Nuna yang sudah hendak berjalan tiba-tiba mematung sambil menatapku tajam. Nuna kemudian menaruh bed cover yang dipeluknya itu di atas tempat tidurnya.
“Kalau begitu dia tidur denganku.” Tantang nuna.
MWO???
“Andwae!!” aku langsung menentangnya dengan suara keras.
“Kalau begitu, bawakan bantalnya.” Nuna kembali berjalan ke kamarku tanpa menunggu responku.
Kenapa tidak aku saja yang tidur dengan nuna? Kenapa nuna memilih dia yang tidur dengan nuna??
Dengan mata sedikit berair, aku mengambil salah satu bantal di kasur nuna dan menyusul nuna. Ini bukan saat yang tepat bagiku untuk protes dan marah. Nuna terlihat capek dan sepertinya perasaannya bukan dalam keadaan baik sekarang.
Saat aku tiba di kamar, nuna sudah membentangkan alas kasur di atas karpetku dan memposisikan bed cover di atasnya. Aku menyerahkan bantal yang nuna suruh bawakan tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Aku harap kau nanti tak bersikap aneh-aneh, taemin.” ujar nuna kemudian setelah hening beberapa saat.
Hatiku sedikit sakit mendengarnya. Aku belum melakukan apa-apa saja nuna sudah berprasangka buruk seperti itu.
“Tak akan.” Ujarku singkat.
“Baiklah.” Nuna kemudian bangkit dan mulai berjalan keluar kamar. Aku mengikutinya lagi.
Saat aku keluar kamar, cowok itu juga keluar dari kamar mandi. Aku melihat dia tersenyum pada nuna. Aku juga melihat nuna membalas senyumannya.
“Giliranmu” katanya sambil menunjuk kamar mandi dengan jempolnya. Aku tak suka melihatnya. Sok keren.
“Sepertinya aku cukup membasuh wajah saja, aku tidak terlalu basah. Tempat tidurmu sudah aku siapkan di kamar Taemin. Mian, kau harus tidur di karpet.” Jelas nuna padanya.
“Gwaenchanha. Aku suka tidur di karpet.” Cowok itu membalasnya dengan cengiran.
“Kalau begitu duluan saja ke kamar, taemin akan menyusul setelah dia menggosok gigi. Taemin, ayo sini!” ujar nuna kemudian yang membuatku sedikit kaget. Aku kemudian mengikuti nuna masuk ke kamar mandi.
“Dari mana nuna tahu aku belum menggosok gigi?” tanyaku pada nuna dari pantulan cermin besar di dalam kamar mandi.
“Hanya tahu saja.” jawab nuna cuek. “Nih” nuna kemudian menyerahkan sikat gigiku yang sudah diberi pasta gigi. Nuna kemudian memberi pasta gigi di sikat giginya dan mulai menggosok giginya. Aku masih terus memperhatikan nuna dari pantulan cermin.
“nuna?” panggilku.
“eung?” nuna membalas tatapanku.
“namaku taeminie, bukan taemin.”
Nuna langsung tersenyum lebar begitu mendengar kata-kataku. Melihat itu, kesal yang kurasakan dari tadi langsung hilang dan aku juga jadi ikut tersenyum.
Kami selesai, dan nuna ikut mengantarkanku ke kamar. Cowok itu sudah berbaring di tempat yang sudah disediakan nuna tadi.
“Belum tidur?” tanya nuna padanya.
“Sedang mencoba.” Jawabnya singkat. Kemudian dia dan nuna berbincang sebentar.
Dalam beberapa menit aku merasa dianggap tidak ada lagi. Tapi begitu aku mengingat senyum lebar nuna di kamar mandi tadi, rasa kesalku padam. Aku merangkak ke atas kasur dan menarik selimut sampai leherku.
Setelah selesai mengobrol dengan cowok itu, nuna berdiri di ambang pintu kamarku sambil memperhatikan kami berdua.
“Besok pagi kalian akan aku bangunkan untuk sarapan,” kata nuna kemudian, “jal ja”
Pintu hampir tertutup saat aku panggil nuna lagi. Nuna kembali membuka lebar pintu kamarku.
“ada apa?” tanya nuna.
Nuna tadi sudah bilang agar aku tidak boleh macam-macam, tapi aku benar-benar ingin ini. Lagi pula ini memang agenda rutin kami tiap malam sebelum tidur.
“ppoppo?” ujarku jelas. Mata nuna langsung melotot mendengarnya. Aku melirik cowok itu, ternyata dia juga sedang melirikku. Keadaan jadi sedikit canggung.
“Aku akan menutup mataku,” ujar cowok itu tiba-tiba. Aku meliriknya sekali lagi. Dia benar-benar menutup matanya.
Nuna tak punya pilihan lain selain mendatangiku dan mengecup bibirku singkat. Aku merasa menang, tapi juga merasa kalah. Aku merasa belum dewasa karena apa yang aku lakukan, juga karena kata-katanya. Dan aku jadi kesal akan itu.
Nuna keluar dan menutup pintu. Baru dua detik nuna keluar, tiba-tiba cowok itu menyibakkan selimutnya dan menyusul nuna. Aku masih bisa mendengar kalimat yang dilontarkannya sebelum pintu kamarku tertutup.
“untukku tak ada?” tanyanya pada nuna di luar kamar.
Aku langsung duduk tegak. Jantungku berdegup kencang.
Apa dia juga minta ppoppo? Tidak! Dia pasti minta ppoppo!
Aku sudah ingin menyusul keluar saat cowok itu kembali masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum padaku sambil berbaring di karpet tempat dia tidur.
“mian, aku meminjam sebentar nuna-mu.” Katanya enteng. Dia tidak mencemoohku, kalimatnya tulus. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali kembali berbaring membelakanginya. Aku tak bisa marah. Aku tak boleh marah. Atau nuna akan lebih marah lagi padaku, bahkan lebih besar daripada kemarahanku.
Selama beberapa menit aku memikirkan apa yang terjadi di luar tadi saat cowok ini menyusul nuna-ku. Beberapa scene melintas di kepalaku. Ada yang baik, ada juga yang buruk. Sayangnya, lebih banyak scene buruknya.
Aku menarik dan menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. Apapun yang terjadi tadi, tetap saja aku tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali satu.
“Sampai aku melihatmu menjaganya dan menyayanginya lebih besar daripada yang bisa aku berikan kepadanya, aku tak akan melepaskannya padamu.” Gumamku dengan jelas. Terserah dia sudah tidur atau belum. Aku hanya ingin menyampaikannya.
“Mworago?” tanyanya. Ternyata dia belum tidur.
Aku malas mengulangi kalimat tadi lagi. Kalau aku ulangi, aku hanya terdengar seperti anak-anak. Lagipula sepertinya dia sebenarnya mendengar kata-kataku tadi, aku mengatakannya dengan cukup jelas.
“Aku menyayanginya.” Ujarku akhirnya. Kurasa kalimat singkat itu bisa mewakili kalimat panjangku tadi. Cowok itu diam saja. Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai bicara.
“Arasseo,” katanya, kemudian dia menambahkan lagi, “Aku juga menyayanginya.”
Aku mengepalkan kedua tanganku mendengar kalimat itu. Tapi sedetik kemudian, aku menenangkan diriku lagi dan menutup mataku sambil berkata dalam hati.
Nuna, semoga aku bisa tidur malam ini.
= = =

FF/Drabble/So That’s Chen/PG

= So That’s Chen =

Title: So That’s Chen (Drabble)

Author: Taemznuna

Cast:

  • Someone
  • Chen
  • EXO Members

Author’s note:

ide FF ini muncul setelah saya nonton interview EXO-M di Yinyuetai. Entah kenapa nglompat langsung aja gitu idenya waktu liat Chennie :’) FF ini juga jadi FF pertama saya yang main cast-nya Chen (sebelumnya Chen cuma jadi cameo di Nuna’s Diary). Karena drabble, jadi isinya bener2 dikit. Juga karena ide di kepala uda lompat2 duluan, sementara jari ga bisa ngimbangi selagi ngetik, kata2 nya jadi banyak yang aneh. tapi ga bisa ngedit saya nya mah. ga tau mau di edit gimana juga. Pengen bikin yang dramatis *ceileh* tapi hasilnya jadi begini.

Di baca aja deh ya 😀

oh iya, tinggalin komen doong bagi yang uda baca~ kan saya pen tau juga pendapat riders mengenai ff dadakan saya ini. 🙂

gomawo~^^;;

PS: Taeminie masi tetep no 1 kok *ppoppo tmin*

= = =

Foreword:

‘Aku’ adalah wanita kelahiran tahun 1989 yang menjadi pengurus rumah tangga di dorm EXO. Saat itu EXO-K dan EXO-M masih belum terbentuk, jadi keduabelas anggota EXO masih tinggal di dorm yang sama. Hanya ada mereka bertigabelas di dorm itu, 12 anggota EXO dan ‘aku’.

Suatu waktu, 11 anggota EXO kecuali Chen pergi keluar dorm untuk suatu urusan. Chen yang belum sembuh benar dari sakitnya ditinggalkan oleh 11 anggota lain saat dia sedang tertidur. Hanya ada Chen dan ‘aku’ di dorm saat itu. Karena hanya tinggal berdua, Chen dan ‘aku’ saling berbagi cerita.

Chen yang selama ini dikenal sebagai anak yang pendiam membuat terkejut ‘aku’ karena tiba-tiba menjadi anak yang ceria. ‘Aku’ juga baru menyadari bahwa Chen berubah menjadi anak yang atraktif sekali jika dia sedang bersemangat. Perubahan mendadak ini membuat ‘aku’ menjadi tertarik pada Chen. Chen yang selama ini tidak terlalu diperhatikan oleh ‘aku’ dibandingkan dengan 11 anggota EXO lain langsung menyedot perhatian ‘aku’ dalam sekejap.

= = =

– So That’s Chen –

Chen terus berbicara panjang lebar sementara aku terus memperhatikan bibir tipisnya. Alisnya yang kalem bisa berubah bentuk dalam sekejap meski dia hanya mengerutkannya sedikit. Aku tak mengerti, tetapi asal kata-kata baru melompat dari mulutnya, seperti ada dorongan untuk lebih mendekat kepadanya yang terjadi dalam diriku.

Aku benar-benar tertarik pada anak ini, entah kenapa. Sebelumnya tak pernah aku memperhatikan dia, biasanya di mataku selalu Luhan yang ceria. Entahlah, mungkin karena anak ini terlalu pendiam sehingga dia tak masuk ke pandangan mataku dibanding 11 anak menarik lainnya. Dia ikut tertawa saat Baekhyun, Lay atau Chanyeol memberi lelucon ketika 12 anak-anak ini berkumpul, hanya itu yang aku perhatikan dari dirinya selama ini. Tapi setelah dia berbincang banyak hari ini di saat kami hanya berdua di dorm, dia benar-benar terlihat berbeda.

Bibir tipis itu terus bergerak sementara cerita-cerita baru mengalir dari mulutnya. Terkadang dia merapatkan bibirnya atau sekadar membasahkannya dengan lidah. Saat tersenyum atau tertawa, bibir itu makin tipis. Sungguh, anak ini ternyata benar-benar menarik.

“nuna?”

Panggilannya membuatku tersadar. Entah sejak kapan wajah Chen jadi sedekat ini. Matanya tepat di depan mataku, napasnya juga bisa aku rasakan di kulit wajahku.

Aku jadi bingung. Apa aku secara tak sadar terus mendekatinya saat dia bercerita tadi? Mungkin tanpa sadar, dorongan yang menyuruhku untuk terus mendekatinya tadi memaksa tubuhku untuk benar-benar mendekati anak ini. Entahlah, mungkin itu yang terjadi.

Chen tampak gugup, terlihat dari sorot matanya. Sedetik kemudian, Chen menelan ludahnya.

“warna matamu ternyata coklat juga.” Alihku sambil menjauhkan diri. Jantungku berdegup cepat sekali.

Warna mata! Bagus! Pemikiran cepat yang bagus! Mungkin dia percaya, mungkin juga tidak.

Butuh waktu beberapa detik bagi Chen untuk memahami kata-kataku. Bukan karena dia tidak mengerti, tapi mungkin karena dia terlalu terkejut saat aku mendekatinya tadi. Namun setelah itu senyumnya mengembang lebar dan matanya menyipit setelah satu dengusan tawa pelan. Tangan kanannya meraba dadanya.

“wah, aku terkejut,” Ujarnya sambil terus tersenyum lebar. Bagian samping matanya berkerut. “kukira nuna mau menciumku atau apa.”

Itu dia. Itu kata sandinya. Seperti yang sudah aku katakan, setiap lompatan kata yang keluar dari mulutnya menghasilkan sebuah dorongan dari dalam tubuhku untuk mendekatinya.

Kali ini bukan dengan tak sadar lagi. Kali ini otakku sendiri yang menyuruh tubuhku untuk sekali lagi mendekatinya, mendekati anak ini, menempatkan wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Lagi.

Lagi-lagi Chen terdiam. Namun tak ada sedikitpun rona terkejut yang terpancar di wajahnya. Anak ini malah tersenyum dengan bibir tipisnya itu. Seperti sudah siap.

Hanya sebentar sekali setelah senyum tipis itu, kami saling menyilangkan kepala. Aku hampir tak percaya bahwa orang pertama yang aku cium di antara ke-12 anak-anak ini adalah Chen, anak yang selama ini paling tidak aku perhatikan. Tapi bibir tipis ternyata lincah juga.

Kami bertatapan setelah ciuman itu selesai. Senyumku mengembang, meski kepalaku masih berkutat tentang bagaimana ini bisa terjadi. Semuanya seperti berjalan cepat sekali.

“selama ini hanya aku saja yang selalu memperhatikan nuna. Mulai sekarang, giliran nuna yang harus membalas semua perhatian dariku.” Bibir tipis itu mulai menari lagi di mataku, “arachi?”

Aku mendengus pelan, dan diikuti dengan senyumku yang mengembang makin lebar. Kata ‘arachi’ dengan alis berkerut dan mimik meminta persetujuan dengan setengah memaksa begitu, siapa yang bisa menolak?

“geurae, aku milikmu sekarang.” Ujarku sambil menaikkan salah satu alis. Anak ini ternyata benar-benar menarik. Tak butuh waktu lama bagiku untuk langsung terpaku padanya. “maaf karena aku terlalu cepat mencintaimu.” Tambahku lagi.

Senyum Chen mengembang lagi, kali ini dengan lidah yang digigitnya. Manis.

= = =

PPS: Komen yaaa~ 😀

FF ㅡ 나 어떡해? (What should I do?)

= FF =

Title: What should I do?

Rating: PG

Main Cast: Nuna & Kai & Taemin

Support Cast: Seora (someone) as Nuna’s friend

Author’s note:

salahkan kai yang tampan sangat di MV History (argh)

tapi saya ga selingkuh dari taemin, taemin tetap yg nomer satu kok^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin*

>tmin: nunaa~~!! huweee~~~ *cambuk kai pake benang*

ini saya bikinnya sebenernya sambil ngebayangin nuna+tmin di nuna’s diary, jadi ceritanya ff ini rada nyambung gitu, tapi saya ngarep nya rider sekalian pada ga bayangin hal yang sama, soalnya saya ga mau tmin ngambek beneran kalo saya terusin ceritanya nuna pacaran ama kai. jadi yah, 여기까지만 ff nyaa hehe^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin lagi*
oke dah,
happy reading 🙂

= = =

-Nuna’s PoV-

“nuna, cepat pulang~ aku bosan sendirian di rumah~”

Hatiku terenyuh mendengar rengekannya, jadi rindu adikku.

“ne, sebentar lagi aku pulang.” Jawabku dengan senyuman. Padahal aku tahu dia tak akan bisa lihat karena kami berbicara melalui telepon, tapi tetap saja aku tersenyum.

“sebentar itu berapa lama, nuna~?”

Dia merengek lagi.

Haah~ tak tega juga.

“ini aku sudah mau pulang. Seora sedang keluar kamarnya, kalau dia sudah masuk nanti aku langsung pamit—nah, itu dia sudah masuk. Aku akan segera pulang. Tunggu saja. Aku matikan, ya“

Klik!

Seora melihatku dengan sebelah alis terangkat.

“adikmu?” tanyanya sembari duduk di atas tempat tidurnya.

“ng” jawabku singkat. Aku meraih jaket-ku dan mulai memasangnya.

“sudah mau pulang?” tanyanya lagi.

“ne, dia menyuruhku pulang.” Jawabku lagi. Tasku sudah aku lingkarkan di badanku. “aku pamit. Gomawo tehnya” ujarku sambil melirik ke gelas di atas meja kecil di tengah ruangan. Seora menjawabnya dengan anggukan kecil.

“kapan kau mau main lagi?” tanyanya.

“molla.” Aku sudah memegang kenop pintu kamar seora, “nanti aku hubungi lagi”

“oke” seora mengikutiku keluar ruangan.

Setelah aku berpamitan dengan orangtua seora, seora mengantarku sampai pintu depan.

“kau tahu jalannya kan?” tanya seora saat aku memasang sepatu.

“mm,” aku berpikir sebentar, “mudah-mudahan aku ingat.” Cengiran lebar melengkapi jawabanku.

“ah, aku yakin kau bisa pulang dengan selamat.”

“baiklah. Aku pulang dulu. Daah”

Seora melambaikan tangannya saat aku membuka pintu depan rumahnya.

Udara di lorong apartemen terasa dingin. Di lorong ini tidak diberi penghangat.

Aku terus berjalan sendirian. Kompleks sekitar apartemen tempat tinggal seora masih terasa asing bagiku. Daerah ini cukup jauh dari rumahku.

Sambil merapatkan lenganku ke badan, aku menapaki jalan turunan dengan langkah yang dipercepat. Seram juga rasanya jalan sendirian di jalanan sepi begini. Kalau ada orang mesum bagaimana?

Tiba-tiba dari rumah di sebelah kiri, aku mendengar suara berisik. Rumah itu tak terlalu besar tapi tak bisa dibilang kecil juga dan masih sepuluh meter di depanku, tapi aku bisa mendengar suara teriakan perempuan dari dalamnya saat pintu depannya terbuka. Sedetik kemudian, pintu itu menutup dengan suara ‘blamm’ keras dan saat itu juga suara teriakan perempuan itu teredam dan kemudian disusul oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

Jantungku langsung berdetak cepat, mengira-ngira apa yang terjadi.

Sebuah sosok cepat-cepat membelok ke kiri, menjauhi dari mana arah aku datang dan tempat sekarang di mana aku berdiri mematung. Sosok itu baru saja keluar dari halaman rumah yang aku sebutkan tadi. Sosok itu seperti sosok yang kukenal. Aku tak mungkin lupa sepatu itu. Sepatu itu selalu bisa aku tandai karena modelnya sama dengan model sepatu kesukaan adikku, hanya saja beda warna. Postur tubuhnya juga aku sangat mengenalnya.

Aku coba menyusul orang itu dengan mempercepat langkahku. Saat sudah cukup dekat, baru aku berani memanggil.

“kai?”

Sosok itu berhenti dan membalikkan badannya. Ternyata benar dia kai.

Kai melihatku dengan pandangan nanar. Meski gelap, aku masih bisa melihat airmata di wajahnya.

Saat kai melihatku, ekspresinya perlahan melunak. Dia kemudian menunduk dan pundaknya bergetar makin kencang. Isakannya mulai terdengar. Dia hanya berdiri diam di sana, dengan tangan dan kaki rapat. Meski aku baru beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku tahu kalau saat ini anak ini butuh pelukan.

Aku mendekatinya dan memeluknya. Terkadang aku muak kenapa aku terlalu pendek dibandingkan orang-orang. Tapi paling tidak aku tahu kalau pelukanku meringankan bebannya dari isakannya yang makin keras.

Aku mencoba menepuk punggungnya dan membelai kepalanya.

Kai hanya menangis sebentar. Dia kemudian melepaskan pelukannya dariku.

“mianhae, nuna” ujarnya. Suaranya masih bergetar dan dia menunduk, tak berani melihatku.

Aku tak tega membiarkan anak ini sendiri. Dia sahabat adikku.

“kau mau cerita?” tanyaku.

~~~

Aku dan kai sedang berada di taman kecil tak jauh dari tempat aku bertemu dengan kai tadi. Kami duduk di salah satu bangku. Kai masih terus menunduk, dengan kedua siku di atas lututnya.

Tiba-tiba aku teringat pada adikku yang menyuruhku pulang cepat. Dia harus dikabari kalau aku mungkin sedikit terlambat.

 

Taemin, aku ada urusan mendadak. Mungkin aku pulang sedikit lebih lama

 

Setelah pesan itu terkirim, aku memasukkan handphone-ku ke tas dan memandang kai lagi.

“jadi, kau mau cerita dari mana?” tanyaku padanya.

Kai menceritakan semua keluh kesahnya padaku. Masalahnya cukup kompleks. Aku terus membiarkannya bercerita. Anak itu terlihat lemah. Saat dia tak tahan dan kemudian terisak keras lagi, aku kembali memeluknya. Aku percaya pelukan bisa meringankan beban batin seseorang. Pelukan selalu bekerja untuk taemin saat dia sedang sedih.

Kali ini kai menangis lebih lama. Mungkin setelah dia bercerita panjang lebar, dia merasa sedikit lebih dekat denganku.

Gara-gara hal ini aku jadi teringat taemin. Dua anak ini sama, pantas saja mereka bersahabat. Sok terlihat kuat, tapi sebenarnya lemah di dalam.

Aku terus menenangkan kai dengan menggosok punggungnya dengan perlahan. Isak kai sudah hilang, tapi sepertinya dia masih ingin seperti ini. Aku sudah bilang, pelukan itu ampuh.

Tak lama kemudian, kai melepas pelukannya. Paling tidak tadinya aku kira dia akan melepas pelukannya. Tapi kemudian, ternyata kai menciumku. Aku terkejut dan tak bisa berbuat apapun.

Ini begitu tiba-tiba. Bibir kai terasa dingin.

Apa yang harus aku lakukan? Membalasnya?

Kai menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mataku dan sedetik kemudian menatap bibirku, lalu kemudian kembali menciumku setelah memindahkan posisi kepalanya.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Getarannya sangat keras sampai bunyi getarannya terdengar.

Aku langsung menjauhkan diri dari kai dan meraih tasku.

Baru saja aku baru membuka tas untuk menjawab telpon, kai menggenggam kedua tanganku dan kemudian diletakkannya melingkar di pinggangnya.

Aku seperti terhipnotis saat kai sekali lagi menempelkan bibirnya di bibirku.

Getaran handphone-ku akhirnya berhenti. Digantikan oleh bibir kai yang mulai bergerak di seberang bibirku.

Terlalu hangat, aku tak bisa menolaknya.

Setelah beberapa lama, kai menjauhkan bibirnya dan dia memelukku lagi.

Aku membuka mata dan menatap jauh ke depanku. Pikiranku masih penuh dengan tanda tanya.

“nuna, kumohon jadi pacarku” bisik kai kemudian. Pelukannya di tubuhku semakin erat saat dia bicara seperti itu.

~~~

Aku baru ingat kalau tadi handphone-ku bergetar saat aku berada di atas kereta. Aku merogoh handphone-ku dan melihatnya.

Satu panggilan tak terjawab dari taemin. Lalu enam buah sms, juga darinya.

 

Nuna pulang jam berapa?? Jangan lama-lama~

 

Itu dikirim sebelum dia menelpon, sms-sms selanjutnya dikirim setelah dia menelponku tadi.

 

Nuna, kenapa tidak diangkat? Huwee~~

 

Nuna, kenapa tidak balas sms-ku? Urusannya penting sekali, ya?

 

Nuna, kalau urusannya sudah selesai dan sudah mau pulang, bilang aku yaa. Jangan lupa.

 

Nuna, ini sudah malam sekali. Urusan apa, sih?

 

Nuna, kenapa belum pulang juga?

 

Setelah membaca semua, aku segera membalas sms taemin.

 

Aku sudah di kereta. Sudah tidur?

 

Terkirim.

Aku menghembuskan napas berat. Pandanganku terlempar keluar jendela kereta. Hanya bayangan gelap yang ada karena ini kereta bawah tanah. Tapi di depan mataku sepertinya kejadian saat aku dan kai berdua di taman tadi terulang lagi.

Saat kai mengajakku berpacaran, aku menjawabnya dengan anggukan. Entah apa yang aku pikirkan tadi. Tapi anak itu sepertinya benar-benar butuh topangan. Aku tak bisa menolaknya pada saat seperti tadi. Tidak bisa.

Handphone yang ada di tanganku bergetar pelan. Taemin sudah membalas lagi.

 

Belum tidur, aku menunggu nuna. Nuna benar-benar membuat aku khawatir. Cepat pulang.

 

Aku membalas sms itu dengan ‘ne’ singkat. Kemudian aku memandangi lantai kereta.

Mungkin aku nuna terburuk yang pernah ada. Selama ini taemin berusaha berpacaran denganku. Dia sampai sakit entah berapa kali. Apa yang akan dia katakan kalau tahu aku berpacaran dengan kai?

Aku benar-benar bodoh.

= = =