Tag Archive | Serial

FF/S/Nuna’s Diary (page 163-168) Special Taemin’s 20th birthday

= Nuna’s Diary =

page: 161-162 (special Taemin’s 20th birthday)
Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Pintu depan tertutup di belakangku.
“aku pulang~” ujarku lemah sambil melepaskan sepatu. Taemin sedang duduk di atas sofa, sedang melakukan sesuatu dengan handphone-nya—entah sedang apa. Dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Aku sedikit kecewa. Padahal aku berharap mendapat senyumannya begitu aku masuk ke dalam rumah.
“taeminie, aku pulang~” ujarku lagi. Taemin langsung menoleh.
“eo! Wasseo? Nuna sudah pulang?”
Sedetik saja rasa kecewaku langsung hilang karena melihat senyumnya. Lucu sekali.
“ne~ capek sekali~” keluhku sambil duduk di sebelahnya. Aku lepas tas pundakku dan kuletakkan begitu saja di lantai. Aku lalu menyelonjorkan kakiku dan kurebahkan kepalaku pada sandaran sofa di sebelah kiriku. Dengan sudut mata, aku melirik jam dinding di atas televisi. Ulang tahun taemin kurang dari satu jam lagi.
“di sini saja, nuna~” tiba-tiba taemin menarikku dan merebahkan kepalaku di atas pangkuannya. Suaranya barusan terdengar dewasa. Aku jadi was-was. Posisi kepalaku dekat sekali dengan…
“tidak, di sini saja” aku kembali memindahkan kepalaku ke kiri, kembali berbantalkan sandaran sofa. Bahaya sekali rasanya tadi. Jantungku masih berdebar.
“di sini saja~!” kali ini taemin menarikku dengan sedikit merengek. Kepalaku sekarang kembali berada di atas pangkuannya, “bogo shipheo~” ujarnya lagi. Aku tersenyum mendengarnya. Kalau dia aegyo begini aku sama sekali tak khawatir, tapi kalau suaranya dewasa seperti yang tadi beda lagi ceritanya.
“kan aku sudah di sini sekarang” ujarku.
“tapi tetap saja aku masih rindu~~” bantah taemin. Tangannya yang berada di lenganku terasa canggung. Mungkin dia mau memelukku, tapi bingung karena keadaanku sekarang sedang berada di atas pangkuannya.
“taeminie, aku haus. Bisa ambilkan minum?” pintaku sambil menegakkan badan. Taemin langsung tersenyum dan mengangguk.
Aku melihat jam lagi. Waktu ulang tahun taemin makin dekat.
Taemin datang dengan membawa sebotol kecil banana uyu di tangannya. Dia kemudian duduk lagi di sebelahku, menancapkan sedotan di bagian atas botol susu dan kemudian meminumnya. Aku kaget sekaligus bingung. Kukira susu itu diambilkannya untukku.
“ini, nuna” tiba-tiba taemin menyerahkan botol susu tersebut padaku. Aku mengambil botol itu. Taemin hanya minum sedikit, botol susu itu masih terasa berat di tanganku. Dan satu lagi, susunya dingin seperti baru diambil dari kulkas. Padahal tenggorokanku sedang sakit dan aku sedang tidak ingin minum yang dingin-dingin sekarang. Tapi tidak enak rasanya kalau menolak susu yang sudah diambilkannya untukku itu.
“kalau kau haus juga kenapa tak ambil satu lagi?” tanyaku sebelum mulai menyeruput susu pisang itu. Saat airnya mengaliri tenggorokanku terasa segar, tapi setelah itu sakit di tenggorokanku sepertinya tidak semakin membaik. Aku berdehem untuk menghilangkan kesan tidak enak itu.
“aku sedang tidak haus, kok” jawab taemin sambil memperhatikanku.
“terus, kenapa kau minum punyaku?” tanyaku. Aku berdehem lagi.
Taemin tidak menjawabnya, hanya tersenyum polos sambil terus menatapku. Aku membiarkannya saja seperti itu dan terus menghabiskan susu di tanganku. Aku haus sekali. Terserah nanti tenggorokanku mau bagaimana.
“sudah habis semua?” tanya taemin setelah aku menyeruput sisa terakhir banana uyu itu.
Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa tidak enak.
“nuna, tanya lagi dong yang tadi~” pinta taemin kemudian.
“tanya apa?” aku mengerutkan kening dan berdehem lagi.
“tadi itu~ pertanyaan yang terakhir nuna tanyakan~” katanya lagi.
Aku berpikir sebentar.
“oh, kenapa kau minum banana uyu-ku kalau tidak haus?” akhirnya aku mengingatnya.
“hehe” taemin nyengir lebar, “supaya bisa kiseu-tidak-langsung dengan nuna”
Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum. Lagi-lagi, aku tidak mengerti jalan pikiran taemin.
“tapi aku jadi ingin minum susu pisang sekarang.” Ujar taemin kemudian.
“ya sudah, ambil saja lagi.”
“itu tadi yang terakhir, di kulkas tidak ada lagi.” jelas taemin.
“kalau begitu kenapa yang tadi itu tidak untuk kau saja? kan kau bisa mengambilkanku minuman lain~” aku sengaja membuat suaraku sedikit aegyo. Aku sangat capek dan tenggorokanku sakit, tapi taemin malah bertele-tele begini. Tapi aku tak mau marah dengannya.
“bukan itu..” kata taemin tiba-tiba.
“jadi apa?” tanyaku. Sekali lagi aku melirik ke jam dinding. Sepuluh menit lagi.
Taemin tidak menjawabnya. Dia malah memajukan bibirnya, seperti ingin di-ppoppo. Aku langsung tertawa lepas.
“hahaha, jadi kau ingin di kiseu betulan setelah kiseu-tidak-langsung yang tadi?” tanyaku sambil tertawa. Taemin mengangguk, masih dengan mulut yang dimajukan.
“tapi ulang tahunmu masih sepuluh menit lagi.” ujarku iseng. Kali ini aku tidak sembunyi-sembunyi menunjuk jam.
“gwaenchanha, pemanasan~” jawab taemin sesukanya.
Pemanasan??, aku mengulang dalam hati.
“mana bibir nuna? aku tutup mata, ya~ nanti nuna yang kiseu aku, hehe” ujar taemin kemudian. Dia menutup matanya sementara bibirnya masih dimajukannya.
Aku nyengir sebentar sebelum kemudian mendekatinya.
Ccuk!
Aku hanya mengecupnya sekilas, tak lebih.
Taemin membuka matanya dan terlihat marah. Kedua alisnya membentuk kerutan dan kali ini bibirnya maju karena kesal, bukan karena minta ppoppo.
“kan aku bilang kiseu!” protes taemin.
Aku hanya nyengir saja.
“yah, bibirmu maju begitu, bagaimana bisa kiseu~” ujarku sambil lalu. Aku sambar remote tv yang ada di atas meja di depan kami dan menekan tombol power untuk menghidupkannya.
Tiba-tiba taemin menarikku lebih dekat. Diarahkannya wajahku menghadap ke wajahnya. Wajahnya sudah berubah dewasa lagi.
“jadi bagaimana? Dibuka sedikit?” bisiknya di depanku.
Aku menelan ludah. Taemin dekat sekali. Bibirnya hampir menyentuh bibirku.
“nuna juga buka dong” Dia kemudian menarik daguku sedikit ke bawah hingga mulutku sedikit terbuka. Aku mematung. Napas hangat yang keluar dari mulutnya terasa di bibirku. Taemin tak menempelkan bibirnya, dia hanya menyentuhkan bibirnya di bibirku sebentar, kemudian melepaskannya lagi. Begitu terus.
“begini?” bisiknya lagi.
Aku menelan ludahku. Aku tak bisa membiarkannya mempermainkanku seperti ini.
“taemin, sudah.” Ujarku lemah. Satu hal yang membuat diriku marah adalah bahwa aku menutup mata sambil berkata demikian. Sebagian diriku menginginkan lebih, tak hanya sentuhan-sentuhan bibirnya tadi.
“sudah? Baiklah”
Di luar dugaan, taemin benar-benar melepaskanku. Dan entah kenapa aku merasa menyesal kenapa taemin tak melanjutkannya. Aku benci diriku yang berpikir demikian.
“tapi aku bohong”
Setelah berkata seperti itu, taemin menarikku ke badannya lebih dekat. Tapi dia tidak menciumku secara dewasa, dia meraih wajahku dengan kedua tangannya dan menempelkan bibirku di bibirnya dalam-dalam. Tapi hanya itu. Tidak lebih.
Ccuuu~~uk!!
“hehe, nuna, ucapkan ulang tahun kepadaku. Aku sudah 21!” kata taemin bersemangat setelah ciuman ringan itu.
Aku melirik ke jam dinding. Benar. Sudah jam 12.
Ccuk!
Aku menciumnya sekilas.
“saengil chukhahae, nae dongsaeng~” bibirku tertarik ke belakang, aku tak bisa menahannya. “dan kau 20! Bukan 21!” tambahku lagi, tapi kemudian senyumanku menyusul.
“hehe”
Ccuuuk~
Taemin nyengir dan kemudian menciumku sekali lagi.
“nuna mau hadiah apa?” tanya taemin kemudian.
Alisku berkerut bingung.
“bukannya aku yang harus memberimu hadiah?” tanyaku heran. Taemin senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“tapi pertama-tama aku mau memberi nuna hadiah dulu~ nah, nuna mau apa?” katanya lagi. imut sekali dia aegyo seperti itu.
“jinca?” tanyaku memastikan.
Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
“mm~,” aku berpikir sebentar.
Hal yang aku inginkan? Tapi tidak ada! Tunggu. Badanku sakit-sakit. Minta pijit saja!
“kau mau memijitku, taeminie?” pintaku.
Mata taemin melebar.
“pijit??” ujarnya tak percaya. Aku sedikit bingung dengan responnya yang seperti itu.
“ne, pijit. Kenapa memangnya?” balasku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat taemin menelan ludahnya.
“a-ani, gwaenchanha.” Ujar taemin ragu-ragu, dia kemudian menggaruk rambut belakangnya, “emm~ kalau dipijit itu lepas baju ‘kan, nuna?” tanyanya kemudian.
Mwo??? Oh, jadi itu yang dipikirkannya.. Dasar taemin!
“tentu saja” ujarku enteng. Sengaja aku mengisenginya. Tentu saja aku tidak akan buka baju, maksudnya.
Kali ini suara ludah yang ditelan lebih jelas terdengar daripada sebelumnya. Aku mencoba menahan senyumku.
Tiba-tiba taemin makin mendekatkan tubuhnya padaku dan sebelah tangannya kemudian membuka ujung bajuku.
“jadi, nuna mau di ma—“
“YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN???” aku langsung histeris dan menjauhinya. Kedua tanganku aku gunakan untuk kembali menurunkan bajuku yang setengahnya telah diangkat oleh taemin.
Berani sekali dia berbuat seperti itu padaku??!!
“wae?? Bukannya pijit memang harus buka baju? Nuna juga bilang begitu ‘kan? Ya sudah, aku bantu buka.” Jawab taemin sedikit kesal. Jawaban yang tak dapat kupercaya sebenarnya. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada anak ini??
“aku bercanda. Aku tidak akan buka baju, oke??” jelasku kemudian. Respon taemin selanjutnya lagi-lagi di luar dugaanku. Dia malah memajukan bibir bawahnya dan terlihat murung, padahal sedetik sebelumnya wajahnya sangat dewasa sekali.
“nuna bohong padaku, padahal ini hari ulang tahunku~” katanya kemudian dengan lemah. Sedikitnya aku merasa bersalah dengan kata-katanya itu.
“mianhae~” ujarku kemudian.
“eung” gumam taemin pelan sebagai respon, “aku mau memaafkan nuna, tapi buka baju dulu~”
PLAKK!
“YA!” tanganku ternyata bergerak lebih cepat daripada kata-kataku. Aku tidak menamparnya, hanya memukul lengan atasnya.
“huweee~ aku dipukul~~” kali ini rengekan taemin lebih keras.
Meski sedang kesal tapi tetap saja aku tak tahan. Aku malah menariknya masuk ke dalam pelukanku.
“mianhae, hehe” kataku sambil tersenyum. Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“makanya, buka baju~” pintanya lagi.
“shirheo.”
“buka~~~”
“ya sudah, pijitnya tidak usah saja.”
Taemin langsung melepas pelukannya dariku.
“geurae. Tidak usah buka baju. Ayo ke kamar.” Bibirnya masih membentuk rengutan saat berkata seperti itu.
Aku nyengir lebar.
“gaja!”
***
“nuna” taemin tiba-tiba memanggilku. Dia sudah memijit kaki dan tanganku dan sekarang dia baru saja mulai memijit punggungku.
“hm”
“bukan aku mesum atau apa, tapi aku tak bisa memijit dengan santai kalau nuna pakai baju seperti ini. Rasanya aneh.”
Aku berpikir sebentar. Taemin benar. Jangankan dia, aku juga merasa aneh dipijit dalam keadaan begini. Rasanya malah badanku makin sakit-sakit.
“kau benar” kataku akhirnya.
“hehe. Jadi?” ujar taemin sedikit bersemangat. Aku yang sedang telungkup dan tidak bisa melihat wajanya pun jadi ikut tersenyum.
“jadi kenapa?” pancingku.
“hehe,” taemin senyum lagi, “mau buka baju tidak~?” tawarnya.
Aku berpikir lagi.
“kau kecapekan tidak?” tanyaku.
“aku? Tidak.” taemin menjawab singkat.
“geurae.”
Tanpa mengucap apapun lagi, aku langsung mengangkat baju bagian belakangku ke atas. Sedikit aneh sebenarnya setengah telanjang di depan taemin seperti ini, tapi tak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Badanku benar-benar sakit-sakit, aku tidak bohong. Dan pijatan adalah hal yang paling aku butuhkan sekarang, paling tidak agar aku bisa tidur dengan nyaman malam ini.
“wow” ujar taemin tiba-tiba setelah aku membuka bajuku ke atas.
“sudah, taeminie. Pijit saja.” ujarku menahan malu.
“ne”
Hal yang aku rasakan selanjutnya adalah tangan taemin yang mulai memijit punggungku. Benar ternyata, begini lebih nyaman.
“nuna suka warna hitam, ya?” tanya taemin tiba-tiba saat kami terdiam sebentar.
“hitam? Ani. Wae?” aku bingung dengan pertanyaannya.
“ini hitam” ujar taemin kemudian, aku bisa merasakan jari telunjuknya menyentuh tali bra-ku.
Aku tak tahu harus merespon apa, jadi aku diam saja. Sementara itu, taemin terus memijitku.
Aku sudah hampir tertidur saat taemin memanggil lagi.
“nuna”
“hm” gumamku.
“aku buka, ya? Susah yang bagian tengah~”
“hm”
Aku setengah tak sadar berujar demikian. Dan hal yang aku sadari selanjutnya adalah taemin melepas tali bra-ku. Aku panik, tapi aku tidak memperlihatkannya. Tapi mungkin taemin sadar dari punggungku yang tiba-tiba menegang, dia langsung protes.
“nuna! bagaimana aku bisa pijit kalau punggung nuna tegang seperti ini?!”
Aku tak menanggapinya, aku hanya menarik napas panjang dan mencoba rileks.
“nah, begini kan lebih baik” ujar taemin kemudian tanpa sedikitpun merasa tidak enak padaku. Kadang-kadang aku merasa adikku ini luar biasa.
Taemin terus melanjutkan memijitku. Aku sudah tidak bisa tidur lagi. Tidak dalam keadaan seperti ini. Taemin di atasku, sementara tali bra-ku terbuka dan dibuka olehnya. Tidak mungkin bisa tidur.
“nuna”
Taemin memanggil lagi.
“wae”
“hehe” taemin tak menjawab, hanya nyengir sebentar.
“nuna” dia kemudian memanggil lagi.
“mwo?”
“hehehe”
Aku tidak bisa mengerti taemin, apalagi kalau dia yang seperti ini.
“nuna”
Kali ini aku tidak mau menjawabnya. Aku biarkan saja dia terus memijitku.
“nuna nuna nuna”
“ne~” akhirnya menjawab dengan malas.
“nuna marah tidak, ya?” tanya taemin kemudian.
“marah kenapa?” tanyaku lagi, masih dengan nada yang sama.
Taemin tak menjawab, dia malah diam. Aku biarkan saja dia bertindak aneh begitu. Aku menutup mataku lagi.
“sebentar saja kok, nuna, sebentar saja” kata taemin lagi beberapa lama kemudian.
Lagi-lagi aku tak menggubrisnya.
“ya, nuna, ya?” tanya taemin setengah memaksa.
Aku tak menjawabnya. Aku tak mengerti maksudnya apa.
“nuna!” taemin memanggil lagi dengan nada keras.
“hm!”
“boleh ya, nuna? sebentar saja kok~”
Aku kembali diam.
“nuna~~”
“hm~”
“boleh, ya~?”
“hm”
Pijitan taemin tiba-tiba berhenti.
“boleh??”
“hm~”
Terserahlah maksudnya apa, aku tak peduli.
Tak ada gerakan lain dari taemin setelah itu. Dia diam, begitu juga tangannya di punggungku. Dan tiba-tiba punggungku terasa dingin.
“taem—“
“jeongmal nuna benar-benar tak akan marah?? Jinca~??”
Baru saja aku mau menoleh dan memanggil namanya, taemin tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata demikian.
Canggung, itu yang kurasakan saat itu, dengan tangan taemin yang berada di atas punggung telanjangku dan wajahnya yang dekat seperti ini, di atas tempat tidur pula, lengkap sudah. Aku menelan ludahku diam-diam.
“memang kau mau apa?” tanyaku pelan.
Taemin tak menjawab, hanya tersenyum dan mulai mendekatkan kepalanya ke kepalaku. aku tak bisa berbuat apapun selain menutup mata dan menunggu bibirnya.
Aku tahu ciuman ini tak seperti ciuman biasanya. Aku tahu ciuman ini pasti berakhir bukan hanya sekedar aku menahan tangannya agar tidak kemana-mana—seperti yang sering dia lakukan. aku tahu pasti akan lebih dari itu. Dan aku benar. Taemin memang melakukan lebih dari itu—lebih dari biasanya. Aku tak mau menyebutkan bagaimana, tapi dengan hal itu aku akhirnya mengerti bahwa taemin sudah benar-benar menjadi dewasa. Tapi tidak, kami tidak melakukannya. Aku ternyata masih cukup waras untuk menghentikannya. Dan untunglah taemin mengerti. Untunglah dia cukup dewasa untuk mengerti.
Setelah itu terjadi, taemin tidur di sebelahku. Tapi aku masih tidak bisa tidur sampai dua jam berikutnya. Aku ingin melupakan hal yang tadi itu. Benar-benar ingin melupakannya sampai-sampai aku tak mau menuliskannya.
= = =
Posted by Taemznuna

FF/S/Nuna’s Diary (page 154-160)

= Nuna’s Diary =

Page: 154-160

Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Jalanan di sekitar area rumahku sepi saat aku berjalan pulang sendirian sambil menarik koperku dengan tangan kiri sementara sebelah tanganku yang lain menjinjing tas tanganku. Aku merapatkan coat panjangku untuk melawan hawa dingin. Musim dingin masih belum berakhir.
Saat sampai di stasiun tadi, aku sengaja tidak memilih naik taksi untuk pulang ke rumah. Memakan waktu tak sampai sepuluh menit jika berjalan dari halte bis terdekat ke rumahku, makanya itu aku lebih memilih naik bis. Lagipula kalau naik taksi, suara mesinnya akan membuatku ketahuan kalau sudah pulang oleh taemin. Aku ‘kan mau mengejutkannya, hihi.
Omong-omong taemin, aku jadi ingat pembicaraan kami di telpon kemarin.
“nuna kapan pulang? Besok sudah sebulan~” kata taemin kemarin saat aku menelponnya. Nada sedih bisa aku tangkap dari suaranya. Aku tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaannya.
“besok aku pulang” kataku.
“JINCA?????” suara taemin yang naik tiga oktaf memekakkan telingaku. Spontan aku menjauhkan handphone dari telinga kiriku.
“jangan berteriak begitu! Telingaku jadi sakit!” gerutuku.
“jinca nuna besok pulang?? Jinca??? Hahaha!” taemin sepertinya tak memedulikan telingaku yang sakit. Dia malah tertawa bahagia begitu. Tapi meski telingaku sakit, mendengar tawa riangnya itu memaksa diriku untuk tersenyum. “besok nuna pulang naik apa? kereta lagi? aku jemput, ya?” kata taemin kemudian menawarkan diri dengan antusias.
“andwae! Kau tak boleh menjemputku!” tolakku tegas.
“Waeyo~~” nada taemin berubah sedih lagi. Aku menghembuskan napas berat.
“pokoknya tidak boleh. Kau tunggu saja aku di rumah, arachi?” ujarku lagi.
Tak ada respon dari taemin. Dia diam saja.
“taeminie~?” aku memanggilnya lagi, setengah memaksa agar dia mendengar kata-kataku.
“tapi kenapa tidak boleh~?” tanya taemin lagi dengan suara pelan.
“aku cuma ingin pulang sendiri saja. Besok kau jangan kemana-mana ya, tunggu aku di rumah. Kau mengerti, taeminie?” ujarku lagi memastikan.
“eung,” suara taemin masih lemah, “ppoppo dulu” tambahnya.
“ccuk!” aku mengabulkan permintaannya.
“hehehe~” tawa kecilnya terdengar dari ujung telpon. Aku bisa membayangkan dia nyengir lebar di sana.
“kau tak mau ppoppo aku juga?” pancingku iseng.
“mm..” taemin bergumam sebentar, “aku mau ppoppo tapi nuna ppoppo juga. Di hitungan ketiga ya, nuna. Hana.. Dul.. Set!”
“ccu~uk”
“ccu~~~~uk!!”
Kami ppoppo dalam waktu yang bersamaan, tapi ppoppo taemin lebih panjang dari punyaku. Aku langsung tergelak. Begitu juga taemin di ujung sana.
“wah, nuna! Kita kiseu di telpon! Hahaha!” ujarnya sambil tertawa. Perutku juga jadi geli. Kadang-kadang taemin memang aneh. Aku juga sih.
“hahaha! Sampai jumpa besok, taeminie~” ujarku memutus pembicaraan.
“eung! Sampai jumpa besok, nuna! ccuk!”
“ccuk!”
“ccu~~uk! Ccuk ccuk ccuk ccuk ccuk!!”
Taemin ppoppo bertubi-tubi di telpon begitu terdengar lucu sekali.
“sudah ah, taeminie. Hahahaha!”
“ccuk! tunggu saja besok, nuna. Aku akan melanjutkan ppoppo yang ini. ccu~uk!” ancam taemin.
“haha. aku matikan, ya” ujarku akhirnya. Kalau dibiarkan, kami akan begini terus sampai dua jam ke depan.
“ne! ccuk~!”
“ccuk!”
Aku tersenyum lagi mengingat kata-kata taemin kemarin. Sekarang aku sudah berdiri di depan pintu rumah. Kurang dari lima menit lagi aku sudah bisa melihat wajahnya.
Aku merogoh handphone yang ada di tas tanganku dan menghubungi taemin. Hanya sekali terdengar nada sambung sebelum taemin mengangkat telponnya. Aku membayangkan dia seharian menunggu telpon dariku. Bayangan ini membuatku tersenyum sendiri.
“yeoboseyo? Nuna?” ujarnya dari ujung telpon.
“taeminie, kau di rumah?” tanyaku.
“ne. nuna di mana?” tanya taemin tak sabar.
Aku tersenyum kecil.
“aku di depan.” Jawabku singkat.
Telpon langsung terputus setelah itu, digantikan oleh suara derap kaki yang semakin terdengar jelas dari balik pintu di depanku. Sambil tersenyum aku masukkan lagi handphone-ku ke dalam tas.
Dua detik kemudian pintu depan terbuka lebar dan memperlihatkan taemin yang berdiri di baliknya.
“annyeong” sapaku sambil tersenyum padanya.
“nuna!!”
Taemin langsung menghambur memelukku. Satu yang aku sadari, dia tidak main-main saat bilang akan langsung menciumku saat kami pertama kali bertemu. Dia benar-benar langsung menyambar bibirku. Taemin benar-benar memelukku dengan erat sampai badanku terangkat ke atas. Maklum, aku jauh lebih pendek darinya. Aku hanya berharap tidak ada tetangga yang melihat kami saat keadaan kami seperti ini.
“nuna, aku rindu, aku rindu, aku rindu!” kata taemin setelah dia melepas bibirnya dari bibirku. Kedua tangannya berada di kedua belah pipiku dan wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Setelah dia berkata seperti itu, dia menciumku lagi. Tapi tidak lama seperti yang tadi.
“ne, ne, aku tahu. Sekarang biarkan aku masuk.” Kataku akhirnya setelah mencoba melepaskan diri dari taemin.
“hehe. Deureogaja, nuna! Nuna pasti kedinginan.” Kata taemin sambil menyambar tanganku dan menarik koperku dengan tangannya yang lain.
Kedinginan apanya. Sudah panas gara-gara bibirmu, gerutuku dalam hati.
Kami masuk ke dalam rumah yang jauh lebih hangat daripada di luar. Taemin membantu melepas coat-ku.
“nuna capek?” tanya taemin kemudian.
“eung,” gumamku pelan. Leher dan pinggangku memang sedikit sakit. Beberapa jam di perjalanan cukup menguras tenagaku.
“mau istirahat di kamar?” tanya taemin lagi.
“eung” aku tersenyum padanya.
“biar aku antar”
Aku setengah sadar saat taemin tiba-tiba menggendongku dengan bridal style.
“taeminie! Ya ampun—taeminie! Turunkan aku!” aku meronta-ronta di dalam pelukannya. Aku tahu taemin laki-laki dan dia kuat, tapi tidak begini juga caranya.
“tenang saja, nuna. sudah lama aku ingin melakukan ini.”
Taemin tak menggubris penolakanku dan berjalan santai menuju kamarku. Aku tak bisa berbuat apapun kecuali memeluk lehernya. Namun sebenarnya aku benar-benar merasa tak nyaman.
Aku tak sempat mengontrol napasku saat taemin menaruhku dengan lembut di kasurku karena taemin lagi-lagi menyambar bibirku.
“nuna, aku benar-benar rindu~ jeongmal bogoshipta~” kata taemin setelah kecupan lembut itu. Dia memelukku lagi saat kami dalam keadaan duduk.
“mianhae sudah meninggalkanmu.” Ujarku meminta maaf.
Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“jangan pergi-pergi lagi, nuna~” erangnya.
Aku hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya yang sudah mulai panjang dibanding saat aku tinggalkan sebulan lalu.
“kau benar-benar kesepian, ya?” tanyaku sambi melepas pelukannya. Aku ingin melihat wajahnya puas-puas sekarang.
Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. Imut sekali.
“ppoppo~” pintanya.
Sudah berapa kali ppoppo coba dari tadi, pikirku dalam hati.
Ccuk!
Aku mengecup bibirnya sekilas.
“uung~ lagi~~” rengek taemin.
“memangnya mau berapa kali?” tanyaku padanya.
“hitung saja sudah berapa malam nuna tidak ppoppo aku sebelum tidur. Hutang nuna padaku sudah banyak.” Jelas taemin masih dengan bibir memberengut. Ternyata meski sudah berapa lama pun aku tinggal dengannya, pemikiran taemin masih belum bisa aku tebak. Tapi pemikirannya juga ada benarnya.
Aku melihat bibir taemin yang tebalnya masih sama dengan saat aku meninggalkannya. Tentu saja sama, memangnya aku berharap bibirnya berubah seperti apa?
Aku tersenyum sendiri. Kalau aku ikut arus pemikiran taeminie, memang benar hutangku padanya sudah banyak.
“sini lidahmu” ujarku setengah sadar. Dan aku memang bodoh sekali berujar seperti itu. Tak perlu aku jelaskan bagaimana, yang pasti taemin menciumku lama sekali. Bibirku sampai kebas. Beberapa kali aku harus menahan tangannya agar tidak kemana-mana.
“sudah?” tanyaku setelah kami selesai. Taemin nyengir. Kedua tangannya masih aku pegangi.
“hihi, sudah. Bibirku kebas, nuna” kata taemin jujur masih dengan senyum terkembang.
“nado,” balasku, “sekarang aku boleh istirahat?” tanyaku lagi.
“tentu saja! nuna istirahat yang cukup siang ini, nanti malam kita jalan-jalan, ya!” kata taemin kemudian.
“hah? Kau mau kemana?” tanyaku heran.
“aku ketemu tempat bagus. Kai yang memberi tahu. Nanti nuna aku ajak kesitu. Sekarang nuna tidur dulu~” taemin membaringkan badanku dan menyelimutiku sampai ke leher.
“mau pergi dengan kai juga?” tanyaku bingung.
“ani!! Tentu saja tidak!” jawab taemin cepat, “kita berdua saja, nuna~”
“oh, oke” kataku setengah paham.
“jal ja, nuna! ccuk!” taemin mencium keningku.
“kau mau kemana?” tanyaku saat taemin beranjak. Rasanya aku masih rindu padanya.
“molla. Nuna mau aku berada di mana?” taemin malah bertanya balik.
“kalau kau bilang nanti malam kita pergi, berarti kau juga harus istirahat. Sini, tidur di sebelahku.” Ajakku.
“tapi aku peluk nuna, ya?” tawar taemin dengan muka isengnya.
“terserah” ujarku tak peduli.
“yey~!” taemin langsung menghempaskan tubuhnya di sebelahku, menarik selimut dan langsung memelukku. Kami tidur berhadapan, tapi tak terlalu dekat. “ppoppo sebelum tidur?” pinta taemin kemudian.
“tidak. Ini bukan malam hari.” Tolakku.
Ccuk!
Tiba-tiba taemin menciumku.
“aku tak peduli. Jal ja, nuna!”
Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali tersenyum dan mencoba menutup mataku.
***
Malamnya, taemin ternyata mengajakku ke salah satu café kopi di tengah kota. Taemin bilang selama aku pergi, dia sering pergi ke café kopi itu bersama kai. kadang-kadang dia juga pergi sendirian, katanya. Makanya dia sangat ingin mengajakku ke sana.
“biar nuna tahu di mana aku selalu menghabiskan waktu saat nuna pergi.” Jelasnya lagi saat aku tanya lebih lanjut.
Tidak kurang selama empat jam kami berada di café itu. Kami banyak bercerita mengenai apa yang dilakukan masing-masing selama sebulan. Sudah hampir jam sebelas saat taemin mengajakku ke tempat yang lain.
“memangnya mau kemana lagi?” tanyaku heran. Aku merapatkan jaketku ke badanku. Malam dingin begini si kecil ini malah mengajakku pergi entah kemana.
“ke tepi sungai Han.” Jelas taemin singkat. Dia menarik capuchon jaket bulu-ku ke atas kepalaku sehingga kepalaku tertutup.
“mau apa kau kesana malam-malam??” tanyaku lagi setengah protes, “di sana kan dingin sekali kalau malam, taeminie~” kali ini aku setengah merengek.
Taemin malah tersenyum mendengar kata-kataku. Tulus sekali senyumnya. Tampan.
“akan hangat kalau bersamaku,” ujarnya lembut padaku, “lagipula selama nuna tak ada aku juga selalu kesitu kok habis minum kopi. Nanti kalau nuna kedinginan, aku yang akan menghangatkan nuna. Gaja!”
Taemin langsung menarik tangan kiriku setelah berbicara seperti itu. Aku tak bisa melakukan hal lain selain mengikutinya.
“untuk apa kau ke sana malam-malam sendirian, taeminie? Kenapa tidak langsung pulang?” tanyaku bermenit-menit kemudian. Aku sedikit khawatir membayangkan taemin duduk sendirian di tepi sungai Han. Untung sampai sekarang dia tidak kenapa-kenapa.
“aku malas pulang. Habis minum kopi kantukku hilang. Lagipula kalau aku pulang juga tidak ada nuna di rumah. jadi aku pergi saja kesana sambil membayangkan nuna duduk di sebelahku.” Jelas taemin panjang. Langkahnya kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan denganku, “dan hari ini bayanganku itu bisa terwujud, nuna. Hihi”
Bibirku otomatis tertarik ke belakang mendengarnya. Aku luluh dengan kata-katanya. Tulus, polos dan jujur. Ternyata adikku memang tidak berubah. Meski sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa, tapi ternyata di dalam dia tidak berubah.
“panggil aku ‘nyunya’ dong, taeminie?” pintaku. Entah kenapa tiba-tiba aku merindukan taemin yang sering melakukan aegyo padaku.
Selama dua detik taemin terlihat bingung.
“nuna” katanya kemudian.
“bukan ‘nuna’, tapi ‘nyunya’. Ayo coba panggil!” ulangku lagi.
“nu~na” taemin malah mempermainkanku. Dia memajukan mulutnya pada suku kata ‘nu’ dan membuka mulutnya lebar-lebar pada suku kata ‘na’.
“taeminie~!” ujarku manja. Ahaha. Jarang-jarang aku manja padanya. Tapi ternyata seru juga.
“kalau aku lakukan, nuna mau kasih aku apa?” pancingnya.
“kau mau apa?” aku malah memancing balik.
Sepertinya kebiasaanku memancingnya di telpon belum hilang. Dan kebiasaan ini malah merugikanku sekarang.
Taemin langsung mengetuk-ketukkan jari telunjuknya di bibirnya. Matanya disipitkannya, tampak sedang berpikir. Tapi wajahnya terlihat nakal sekali.
“kalau kiseu sudah biasa…” gumam taemin lebih kepada dirinya sendiri. Ekspresi nakalnya masih belum hilang.
Aku jadi ngeri sendiri. Ternyata benar kebiasaanku selama di telpon itu sekarang harus dihilangkan.
“aku akan memberimu ppoppo” tawarku cepat.
Aduh! Ppoppo juga pasti sudah biasa…, sesalku dalam hati.
“ppoppo-nya di mana? Kalau di bibir sudah biasa~” taemin terlihat meremehkanku.
Alisku berkerut bingung.
“jadi mau ppoppo di mana?” tanyaku.
Ekspresi taemin berubah nakal lagi.
“di……..” taemin memutus kata-katanya, “ehehehehehehehehe~~~” kemudian dia senyum lebar. Matanya menyipit dan tiba-tiba pipinya memerah, “aa~ malu~!!” taemin kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Demi apapun, adikku imuuuuuuttt~~~!!!!!!
Setengah malu, setengah geli, aku memukul lengan taemin dengan pelan.
“apa sih kau, taeminie!” ujarku pura-pura marah. Tapi tetap saja aku tak bisa menahan senyumku.
“hihihihi~” taemin masih melanjutkan cengirannya, “ya sudah, kiseu saja. nanti di sungai Han dekat orang-orang ramai. Ya, nyunya~?”
Taemin mengabulkan permintaanku dengan menambahkan ‘nyunya’ di akhir kalimatnya.
“sekali lagi” suruhku.
“apanya? Kiseu-nya?” taemin terlihat bingung.
Benar-benar pikiran adikku ini…
“ani! Bilang ‘nyunya’-nya”
“nyunya”
“lagi”
“nyu~nya”
“lagi, hihi”
“dengan yang ini empat kali loh kiseu-nya, nyunyaa~~” taemin menutup matanya pada kata ‘nyunya’.
Ccuk! Ccuk! Ccuk!
Tiga kali aku mengecup bibir taemin dengan cepat.
“yang keempat nanti di dekat orang ramai” ujarku.
Taemin langsung memberengut.
“nuna curaaaang~!!” katanya.
“hehe, gaja!” tanpa mempedulikan rengekannya, aku menarik tangannya.
***
Aku benar. Udara benar-benar dingin saat kami sampai di tepi sungai Han. Bahkan napas dari hidung yang aku hembuskan pun beruap sekarang.
“Taeminie~ dingin~ ayo pulang~” aku mencoba menahan dingin dengan menyilangkan tanganku di depan dada, tapi sepertinya tak ada bedanya. Malam-malam berada di sungai Han pada musim dingin memang bukan ide bagus. Aku tak bisa membayangkan taemin sendirian berada di sini malam-malam sebelum ini.
Taemin tersenyum iba padaku. Namun tiba-tiba dia melepas pegangan tangannya padaku dan menyelipkan tanganku di balik punggung jaketnya, tepat di belakang pinggangnya.
“Nuna peluk aku saja ya, biar hangat. Nanti kalau kita sudah duduk, aku akan lebih menghangatkan nuna lagi” kata taemin.
Duduk?? Berarti kami akan lama di sini? Ya ampun, aku benar-benar kedinginan~, erangku dalam hati.
Aku menahan gigiku sekuat tenaga agar tidak bergemeletukan sambil mengimbangi langkah taemin. Aku memang ingin pulang, tapi aku juga tak mau memupuskan harapan taemin untuk berada di sungai Han bersamaku malam ini. Mungkin aku akan demam, tapi sudahlah. Derita besok akan aku hadapi besok, yang penting aku bisa melihat senyum adikku malam ini.
“Di sini, nuna” kata taemin di depan sebuah bangku tanpa sandaran yang berada di dekat jembatan. “Ayo duduk” kata taemin lagi.
Aku menurutinya dengan sebelumnya melepas plukanku di pinggangnya. Taemin ikut duduk di sebelahku. Tangan kirinya memeluk pundakku, memaksaku untuk duduk lebih dekat dengannya.
Aku menyandarkan kepalaku di pundak taemin. Meski dingin tapi ternyata cukup nyaman duduk di sini bersamanya.
Mataku menerawang melihat pantulan lampu jembatan di permukaan sungai, dan entah mengapa aku jadi mengantuk. Tapi kepalaku yang mulai berdenyut keras tak membiarkanku tertidur.
“Terrnyata benar, duduk berdua dengan nuna lebih hangat.” Celetuk taemin tiba-tiba. dia kemudian melingkarkan tangannya di depanku dan memelukku lebih erat lagi, “Uung~ nuna~”
Aku tersenyum lemah. Kepalaku jadi makin berat. Sepertinya benar aku akan sakit.
“Aku susah membayangkan bagaimana kau bertahan berada sendirian di sini,” ujarku setengah sadar, “biasanya berapa lama kau berada di sini, taeminie?”
“Mm.. paling lama waktu itu hampir dua jam” jawab taemin jujur.
Mwoooo??? , teriakku dalam hati. Hanya dalam hati, kepalaku makin sakit dan badanku lemas. akhirnya, aku hanya bisa mencubit pipi kiri taemin.
“Kau nakal, taeminie~” ujarku sambil mencubit pipinya. Sepertinya suaraku kecil sekali.
Taemin kemudian menatap mataku dengan senyum di bibirnya.
“Tangan nuna dingin sekali,” katanya sambil menggamit tanganku yang mencubitnya, “aku hangatkan, ya?”
Aku hanya pasrah saat taemin mendekatkan wajahnya. Dibandingkan suhu malam ini, bibir taemin terasa hangat. Dia tidak bohong tadi saat mengatakan akan menghangatkanku.
Mataku terbuka perlahan setelah taemin menyudahi ciuman hangatnya. Taemin hanya diam melihatku. Bibirnya terlihat kering. Aku ingin membasahi bibir tebal itu. Aku mendekat padanya sekali lagi.
Ccuk!
Taemin tak mengizinkan aku menciumnya. Dia hanya mengecupku singkat.
“Badan nuna hangat. Ayo pulang.” Katanya tiba-tiba. Lagi, dipasangkannya tudung jaketku menutupi kepalaku.
Aku tak mau beranjak saat taemin sudah berdiri sambil memegangi tanganku. Mataku masih terpaku pada bibirnya.
“Sekali saja,” pintaku, “sekali lagi saja”
Bibirnya hangat. Aku hanya menginginkan itu.
Taemin tak menunggu waktu lama. Dengan sedikit membungkuk, dia menciumku lagi.
“Sudah, nuna. Ayo pulang.” Ujar taemin setelah itu.
Aku berdiri dan mulai berjalan di sebelahnya. Aku kesusahan mengimbangi langkahnya yang besar-besar.
“Taeminie, jangan cepat-cepat..” erangku lemah. Kakiku sudah lemas sekali. Sepertinya aku terkena demam parah.
Taemin berhenti. Dia melihatku sebentar dan kemudian membungkukkan badannya di depanku.
“Naik, nuna” suruhnya sambil menyodorkan punggungnya.
Aku tak bisa berbuat apapun selain menurutinya. Kalau aku paksakan terus berjalan, mungkin aku akan pingsan.
“Hari ini mau berapa kali kau menggendongku?” Tanyaku mencoba bercanda saat taemin membenarkan posisiku di punggungnya dan mulai berjalan.
“Tidurlah, nuna. saat nuna bangun kita sudah akan ada di rumah.” Kata taemin. Saat berada di punggungnya begini aku baru sadar dari tadi nada suara taemin serius. Aku tak meresponnya. Kesadaranku perlahan menghilang. Yang aku ingat hanya taemin yang berulang-ulang berujar “mianhae” sebelum aku jatuh tertidur.
= = =
Posted by Taemznuna
Made by Taemznuna

FF/S/Nuna’s Diary (…-…) [Forgotten Pages]

= Nuna’s Diary =

Page: …-… (Forgotten Pages)

Cast:
– Nuna
– Taemin
– Chen
Genre: Family, Incest

= = =
Aku mengintip lewat pintu kamar.
Taemin tak ada di ruang keluarga. Bagus. Aku bisa keluar sekarang.
Dengan mengendap-endap aku keluar dari kamar. Namun, baru saja aku mencapai sofa, pintu kamar taemin yang berada di sisi kiri terbuka lebar.
“nuna mau kemana?” mata taemin menyipit menatapku. Satu tangannya masih memegang kenop pintu. Taemin memakai baju kaos merah dan kemeja kotak-kotak biru di luarnya.
Aku memperbaiki letak tali tas sampingku.
“mau keluar” jawabku sekenanya.
“kemana?” taemin bertanya lagi, wajahnya masih berkesan menginterogasiku.
“pergi.” Jawabku lagi.
“dengan siapa?”
Aduh…
“err.. teman?” aku menjawab ragu-ragu. Tak tahu harus menjawab apa kalau taemin bertanya siapa orangnya.
“teman yang mana?” tanya taemin lagi.
Nah, benar kan..
“memangnya kenapa sih, taeminie?” aku mencoba balik bertanya padanya.
Mata taemin makin menyipit melihatku. Bibirnya ikut mengerucut.
“chen, ya?” tebaknya
Glek!
Aku menghembuskan napas panjang, mulai menyerah dengan percakapan ini. Sekali lagi aku merapatkan tas sampingku ke tubuhku.
“memangnya kenapa kalau Chen?” tantangku. Wajahku sedikit kudongakkan untuk menambah kesan sombong. Benar-benar tak nyaman kalau punya adik yang jauh lebih tinggi dari diri sendiri begini.
Taemin tak menjawab, hanya saja bibirnya makin tipis gara-gara dikerucutkannya. Dia terlihat marah, anak kecil ini.
“aku ikut” ujarnya tiba-tiba setelah keheningan yang cukup lama. Mataku langsung terbelalak lebar mendengarnya.
“andwae!!” ujarku cepat.
“pokoknya ikut!” taemin bersikeras.
“tidak!” balasku.
“aku ikut.” Taemin langsung menutup pintu kamarnya dari luar.
“tidaak~~” aku segera berlari keluar secepat mungkin.
Jangan macam-macam anak ini. Masa dia mau ikut aku kencan??
BLAMM!!
Pintu depan menutup keras di belakangku. Aku langsung berlari menyusuri jalan. Awas saja kalau taemin mengikutiku.
Aku sudah hampir mencapai belokan gang saat aku dengar teriakan di belakangku.
“tunggu, nunaaa~~~!!!”
Aduh, dia benar-benar mengejarku…
Aku segera berbelok dan makin mempercepat laju lariku.
“nuna, tungg—AA!!”
Brugh!!
Aku langsung berhenti berlari. Suara apa itu barusan?? Taemin jatuh? Masa?
Tak mungkin aku tak memeriksanya, kalau benar taemin jatuh bagaimana?
Aku mengintip dari tembok tinggi yang berada di sudut jalan. Saat aku lihat, taemin sedang menepuk-nepuk bagian lutut celananya yang kotor, sementara sebelah tangannya menyentuh bibirnya. Taemin kemudian menjauhkan tangannya dari bibirnya. Dari jarak segini aku bisa melihat sesuatu berwarna merah terang di bibirnya. Sepertinya itu darah.
“taeminie?” aku berlari mendekatinya.
Saat aku mendekat, taemin menatapku dengan pandangan nanar. Benar ternyata bibirnya berdarah.
“nuna, sakiit~~ huwee~~~” taeminie mulai menangis. Airmatanya bercucuran ke pipinya.
“kenapa kau bisa jatuh? Aduh~~” aku segera mengambil tissue yang selalu ada di dalam tasku.
“sini menunduk sedikit, biar aku lihat.” Ujarku lagi.
Bibir sebelah dalam taemin mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“kenapa bisa begini, sih?” tanyaku gusar sambil terus menekankan tissue ke bagian bibirnya yang luka.
“tadi tergigit saat aku jatuh~” erangnya.
Jawabannya membuatku tersenyum. Dasar anak kecil.
“terus, kenapa kau bisa jatuh?” tanyaku lagi. Aku singkirkan sedikit pasir yang menempel di pipinya.
Tanpa menjawab, taemin melihat ke bawah. Aku mengikuti pandangannya. Ternyata tali sepatunya masih belum terikat.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian menunduk untuk mengikat tali sepatunya.
“kenapa tadi tak kau ikat?” tanyaku saat mengikat tali sepatunya.
“kalau aku ikat nanti nuna keburu meninggalkanku~” jawabnya pelan.
Aku menghembuskan napas panjang. Ternyata gara-gara aku dia jadi jatuh begini.
“kau benar mau ikut?” tanyaku lagi. Aku berdiri dan menatap dalam matanya. Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. “tapi jangan bikin masalah, arachi?” tegasku. Taemin mengangguk lagi. “jangan manja padaku, jangan merengek, jangan melakukan hal yang tidak-tidak seperti yang kau lakukan saat jonghyun oppa datang ke rumah waktu itu.” Tambahku lagi.
Taemin menatap ke langit, terlihat sedang mengingat pada saat kapan jonghyun datang ke rumah. Tak lama kemudian dia menatapku lagi dan mengangguk.
“yaksok?” aku mengangkatjari kelingkingku.
“yaksok” taemin mengaitkan jari kelingking kami berdua.
“geurae, gaja” aku berjalan duluan. Namun, baru dua langkah aku berjalan, suara rengekan yang familiar terdengar dari belakang.
“nuna, pegang tanganku~”
Aku menoleh kebelakang. Taemin sedang menjulurkan tangannya ke depan. Wajahnya imut sekali dengan bekas air mata seperti itu.
Aku meraih tangannya dengan senyuman.
“nanti kalau sudah sama Chen lepas, ya~” ujarku lembut. Taemin tak merespon, dia hanya makin mendekatkan diri padaku.
***
Wajah Chen tampak bingung saat aku dan taemin berjalan mendekatinya. Aku nyengir padanya dengan perasaan bersalah. Chen masih tersenyum bingung padaku saat kami sudah berada di depannya.
“ini adikku taemin, taemin ini chen.” Tanpa basa-basi, aku langsung memperkenalkan mereka. Mereka berdua saling memberi salam.
“ceritanya panjang, tapi apa adikku boleh ikut kita hari ini?” ujarku memelas pada chen. Dalam hati, aku mulai gelisah, takut kalau chen marah padaku gara-gara hal ini.
Chen tertegun sebentar, namun sedetik kemudian dia sadar kembali.
“oh, geurae. Tentu saja boleh. Ya. Boleh.”
Aku tersenyum menatapnya, sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
“benar, tidak apa-apa? kalau tidak, biar dia aku suruh pulang.” Aku melirik taemin saat berkata seperti itu. Taemin langsung melihatku dengan pandangan tak suka, mulutnya memberengut. “hehe” aku nyengir melihatnya.
“tidak apa-apa, kok.” Ujar chen, dia melirik taemin yang memang sedikit lebih tinggi dari dirinya. “maaf, tapi kalian tidak mirip.” Tambah chen sambil tersenyum melihat kami berdua.
“banyak yang bilang begitu.” Jawabku cepat. Aku dan taemin berpandang-pandangan setelah itu. Kami sama-sama tidak suka jika ditanyai hal seperti ini sebenarnya, seperti membuka luka lama yang sudah sembuh.
“mau pergi sekarang?” ajak chen setelah hening sebentar.
“o—oh, baiklah” aku menarik bibirku agar bisa tersenyum.
***
Taemin menepati janjinya. Dia benar-benar tidak macam-macam saat kami pergi bertiga tadi. Taemin bahkan menawarkan dirinya untuk mengambil foto kami berdua di depan patung Raja Sejong tadi. Tapi aku tahu senyumnya tidak tulus selama sepanjang hari ini. Kadang-kadang dia tertangkap olehku sedang menatap chen lama-lama. Entah apa maksudnya. Sekali-dua kali chen juga sepertinya merasa dirinya sedang diperhatikan taemin, tapi setelah itu dia hanya tersenyum padaku seperti tidak terjadi apapun.
Kami sudah berada di depan rumah sekarang. Meski aku bersama taemin, tapi chen bersikeras ingin mengantar kami sampai depan rumah. Katanya dia mau menginap di rumah sepupunya yang kebetulan dekat dengan rumah kami.
“terima kasih sudah mengantar kami.” ujarku sopan, aku melihat taemin sebentar kemudian melihat chen lagi sambil tersenyum, “hari ini menyenangkan.”
“aku juga merasa begitu.” Bibir chen makin menipis karena senyumnya, “sampai jumpa.”
“jal ga.” Aku membalasnya.
Chen terlihat ragu saat membalikkan badannya. Dia sudah setengah berbalik, tetapi wajahnya masih dihadapkan padaku. Senyum tipis terukir di bibirnya. Tapi kemudian dia melihat taemin, mengangguk sedikit dan melambaikan tangannya padaku.
Aku melirik taemin. Matanya masih terpaku pada punggung chen yang semakin menjauh.
“chen!” sengaja aku keraskan suaraku agar dia mendengarnya. Chen berhenti di tempatnya dan membalikkan badannya.
“ne?” katanya sambil menaikkan alis dan sedikit tersenyum.
Aku berlari kecil mendekatinya dan mengecup pipinya sekilas.
“terima kasih hari ini.” bisikku.
Chen tampak terkejut, tapi sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar.
“gomawo” katanya kemudian. Dia lalu membalikkan badan lagi dan kembali berjalan menjauh.
Aku menghembuskan napas panjang. Kini saatnya berhadapan dengan taemin. entah apa yang akan dilakukannya padaku setelah kejadian barusan.
Pelan-pelan aku membalikkan badanku. Taemin masih berdiri di tempatnya tadi, tapi tangannya terlipat dan matanya lurus menatapku.
Aku sedikit takut-takut saat mendekatinya. Sengaja aku tundukkan kepalaku dalam-dalam. Pandangan taemin sangat menusuk. Aku tak mau melihat matanya sekarang.
Aku berhenti satu langkah di depan kakinya, masih tak berani menatap wajahnya.
“chen sudah pergi ‘kan, nuna?” tanya taemin dengan berbisik.
Aku menelan ludah dan mengangguk singkat.
Terdengar dengusan napas panjang setelah itu.
“aku mau menggigit bibir nuna” ujar taemin tegas.
DEG.
Aku menutup mata dan menelan ludah lagi, masih menunduk.
Tiba-tiba taemin menarik pinggangku mendekat ke arahnya. Secara refleks aku melihat ke atas, ke wajahnya. Pandangan taemin masih menusuk. Dia menatapku lama sebelum akhirnya jari tangannya meraba bibirku.
“bibir nakal ini…”
Tidak ada kata-kata lagi setelah itu karena taemin sudah mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dia benar-benar menggigit bibir bawahku. Dia menggigitnya dengan kuat, sampai aku mengeluarkan erangan karena sakitnya.
Aku memukul lengan taemin saat dia melepas gigitannya di bibirku.
“sakit! Aigoo~~” erangku sambil menutup mulutku. Bibir bawahku berasa kebas. Aku menutup mataku rapat-rapat sambil menunduk. Sepertinya aku akan menangis.
“siapa suruh nakal!” bela taemin terhadap dirinya sendiri, “kalau lain kali nuna begitu lagi, aku akan langsung mencium nuna di depan chen, membuka baju nuna dan—“
PLAKK!!
Kali ini aku memukul kepala taemin.
“apa yang ada di dalam kepalamu itu!!” bentakku.
Taemin hanya tertegun sebentar melihatku. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget.
“nu-nuna menangis? Apa benar-benar sakit?” taemin bertanya takut-takut. Mungkin dia melihat genangan air mataku.
“kau kira aku bohong! Sini bibirmu biar aku gigit juga!” ujarku setengah berteriak pada taemin.
“eomo!” sebuah suara terdengar dari sebelah kiri kami. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata tetangga kami, seorang anak perempuan berumur belasan tahun. Kedua tangannya menutup mulutnya dan dia tampak benar-benar terkejut. Saat ketahuan sedang mendengar pembicaraan kami, dia cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya sambil menunduk.
Aku mengutuk dalam hati. Pasti dia mendengar kata-kataku barusan. Entah apa yang dia pikirkan tentang kami setelah ini. ‘sini bibirmu biar aku gigit juga’? ya ampun, aku bodoh sekali.
Taemin nyengir saat aku menoleh lagi padanya. Melihat senyumnya itu membuat bibir bawahku kebas kembali.
“ck!” aku mendecak keras dan menarik tangan taemin untuk masuk ke dalam rumah.
Taemin tergelak saat pintu rumah sudah tertutup.
“mau gigit bibir bawahku, nuna? nih!” taemin menggodaku, kemudian dia tergelak lagi.
“sudah, diam!” kataku sambil lalu. Aku segera berjalan cepat ke kulkas di dapur untuk mengambil es supaya aku bisa mengompreskannya ke bibirku. Masih dengan sedikit kesal, aku kembali berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sofa. Satu kantong plastik kecil es batu menempel erat di bibir bawahku. Rasanya bibirku tambah kebas.
“sini, nuna, biar aku bantu.” Taemin ikut duduk di sebelahku dan menyambar kantong es yang sedang aku pegang itu. Aku membiarkannya saja. Aku hitung perilakunya ini sebagai bentuk tanggung jawab.
“mianhae. Bibir nuna benar-benar jadi merah” ujar taemin pelan setelah beberapa lama menempelkan es-es itu di bibirku.
“eung.” Aku hanya bergumam pelan. Aku mencoba menggerak-gerakkan bibirku. Masih terasa sedikit kebas, tapi sepertinya sudah tidak apa-apa.
“benar-benar merah…”
Sebelum aku sadar apa yang sedang terjadi, taemin sudah lebih dulu menempelkan bibirnya lagi di bibirku. Kali ini dia tidak menggigit, tetapi menciumku.
Saat aku merasakan jemari taemin di kulit pinggangku, aku langsung mendorongnya kuat.
“whoaa—apa yang kau lakukan??” tanyaku dengan suara keras dan sedikit menjauhkan diri dari taemin.
Aku kaget taemin menyelipkan tangannya di balik bajuku seperti itu. Apalagi dia tadi sedikit meremas pinggangku. Kaget setengah mati.
Taemin hanya melihatku dengan mulut sedikit terbuka dan bibir basah seperti itu.
“aku tidak mau keduluan chen.” Ujarnya pelan.
Aku masih belum mengerti maksudnya apa.
“a-ap—maksudmu apa???” tanyaku.
“aku tidak mau keduluan chen!”
Sebelum taemin kembali menyerangku, aku sudah berlari menuju kamarku.
“aaaaa~~~~!!” ujarku sambil berlari.
“nuna, jangan lari~!!” taemin mengejarku.
“andwaaeee~~ jangan ikuti akuu~~!!”
BLAMM!! Cklek!
Saat aku masuk, aku langsung membanting pintu kamarku dan menguncinya. Dadaku berdegup kencang.
Tidak ada suara lain dari balik pintu. Aku menghembuskan napas lega dan menghempaskan tubuhku di kasur.
Apa maksudnya dengan ‘aku tidak mau keduluan chen’?? Anak itu benar-benar…
Selagi berpikir begitu, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Sms masuk.

Aku cuma bercanda, nuna hehe^^;;
Jangan takut begitu

Dari taemin.
Aku menatap isi sms itu lama-lama. Kemudian jariku menari-nari di atas layar.

Kau mengerikan.

Terkirim.
Tak sampai semenit kemudian handphone-ku bunyi lagi.

Mianhae, tadi juga aku gigit bibir nuna mianhae
Apa aku boleh masuk?

Dia meminta masuk ke kamarku setelah kejadian tadi. Enak saja. Entah apa yang akan dilakukannya nanti kalau aku mengizinkan.

Tidak.

Balasan taemin lebih cepat dari sms sebelumnya

Tapi kan belum ppoppo sebelum tidur 😦

Oh iya, aku lupa yang satu itu. Sambil tersenyum aku membalas sms taemin.

Ccuk!

Setelah terkirim pun aku masih tersenyum.
Balasan taemin sedikit lebih lama dari perkiraanku.

Ccuk!
Hehehehe ^////^
Aku sayang nuna. saranghae saranghae saranghae!
Jal ja! Ccuk!
Coba kalau nuna tadi membiarkan tanganku sedikit lebih ke atas… :p

Mataku melebar saat membaca bagian akhir sms.
“TAEMINIIIIEEEE!!!!!!!” aku berteriak keras. Suara gelak taemin terdengar dari luar.
= = =
Posted by Taemznuna

FF/S/Nuna’s Diary (page 146-153) Special Nuna’s 20th Birthday

= Nuna’s Diary =

Page: 146-153

Cast:
– Nuna
– Taemin
Genre: Family, Incest

= = =
“nuna”
Taemin memanggilku malam itu. Kami baru saja selesai makan malam. Aku sedang mencuci piring saat taemin memanggilku dengan suara dalam seperti itu. Karena aku bisa menduga ada yang aneh dari suaranya, jadi aku menjadi sedikit antusias.
“wae?” tanyaku sambil menolehkan kepala ke belakang. Taemin masih duduk di tempatnya yang tadi. Dia tampak gelisah, memandangku dan kemudian menunduk seperti itu.
Aku mematikan keran, menaruh piring terakhir yang kucuci di rak piring, dan mengeringkan tanganku.
“ada apa?” tanyaku lembut sambil duduk di sebelahnya.
Sambil menunduk, taemin melirikku.
“mm.. nuna besok ulang tahun, ‘kan?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Apa lagi yang akan dimintanya tahun ini?, batinku.
“mm..” taemin bergumam lagi, sepertinya dia benar-benar bingung. “tadinya aku mau menemani nuna seharian, tapi…” taemin menggantung kata-katanya.
Aku tak mau memotongnya dan terus menunggunya sampai dia menyelesaikan kalimatnya sendiri.
Taemin melirikku sekali lagi.
“mianhae, nuna. Besok aku ada urusan. Mianhae aku tidak bisa main dengan nuna..” taemin akhirnya menyelesaikan kalimatnya dengan suara yang benar-benar pelan.
“oh…”
Suaraku pelan sekali. Aku merasa bodoh tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku.
“mianhae…” suara taemin bahkan lebih kecil dari suaraku dan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“gwaenchanha.” Aku berusaha kembali ceria, “urusannya jam berapa?” tanyaku pura-pura antusias.
“jam sembilan pagi,” jawab taemin masih dengan lesu, “mungkin aku baru bisa pulangnya malam, nuna” tambahnya.
“oh, geurae.” Kataku, “mau aku buatkan bekal?” tawarku.
Taemin mengangguk, tapi wajahnya masih belum ceria. Sepertinya dia benar-benar merasa bersalah.
“nuna jinjja gwaenchanha?” taemin bertanya lagi.
Aku mengangguk berkali-kali sambil tersenyum. Berusaha meyakinkan dia bahwa aku memang tidak apa-apa.
“tentu saja tidak apa-apa.” aku menarik senyumku agar lebih lebar, “mau tidur di kamarku malam ini?” tawarku.
Taemin langsung tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya cepat. Akhirnya wajahnya kembali ceria.
“baiklah. Ayo nonton dulu!”
Taemin mengikutiku berjalan ke ruang keluarga.
***
Aku terbangun dan hal yang kulihat pertama kali adalah wajah taemin. Dia tidur di kamarku malam ini.
Saat aku lihat jam dinding di kamarku, waktu sudah menunjukkan pukul 1.10 pagi. Sudah masuk hari ulang tahunku.
Dengan hati-hati aku turun dari tempat tidur dan menyeret langkahku ke kamar mandi.
Saat aku kembali, taemin masih tidur pada posisi yang sama. Aku naik kasur pelan-pelan, takut taemin terbangun gara-gara gerakanku.
Aku menarik selimut sampai bawah leherku dan menoleh ke kanan, melihat taemin yang tertidur nyenyak. Bibirnya sedikit berkedut.
Hihi, lucu.
Aku tersenyum sendiri. Karena terus melihat taemin yang sedang tidur begitu aku jadi ingin menciumnya.
Aku bergerak maju mendekati taemin dan menciumnya sekilas.
Ccuk!
“selamat ulang tahun, diriku. Hehe” aku nyengir lebar. Nuna macam apa aku ini yang mencium adiknya saat dia sedang tidur.
Tiba-tiba taemin memajukan bibirnya dan menggerak-gerakkannya. Hampir tawaku lepas, untung aku bisa menahannya. Sepertinya anak ini mimpi sedang kiseu. Hahaha. Ya ampun lucunya adikku ini.
Ccuk!
Aku menciumnya sekali lagi dan kembali tidur.
***
Paginya, aku menyiapkan sarapan dan bekal untuk taemin. Tadi dia masih tidur di sebelahku saat aku bangun.
Saat sedang asyik memotong sandwich untuk sarapan kami, tiba-tiba suara taemin terdengar dari belakangku.
“nuna”
Aku menoleh ke belakang dan melihat taemin yang sudah berdiri di belakangku. Aku memutar badanku agar berhadapan dengan taemin dan bersandar pada meja di belakangku. Aku tersenyum lebar padanya, menunggu ucapan selamat ulang tahun darinya.
“nuna, aku sudah gosok gigi.”
Aku tak sempat memikirkan kenapa dia mengatakan kalau dia sudah gosok gigi padaku. Taemin langsung merangkul pinggangku dan menciumku dalam-dalam.
Ccuuuuuuukkk~~~~~!!!
Oh, jadi ini maksudnya kenapa dia bilang sudah gosok gigi. Kalau belum, pasti aku marah dia kiseu aku seperti itu.
“selamat ulang tahun, nuna” katanya akhirnya dengan senyum lebar. Taemin menyodorkan sebuah kalung padaku. Masih dengan senyum yang mengembang, dia memasangkan kalung itu di leherku.
Aku tertegun. Baru kali ini taemin memberikan hadiah ulang tahun berupa perhiasan untukku. Aku memandang kalung yang kini sudah terpasang di leherku dengan takjub.
“gomawo~” aku memeluknya erat-erat.
“uung~~” taemin membalas pelukanku dan menggoyang-goyangkan badanku yang ada di dalam dekapannya.
“hahaha” aku melepas pelukannya dengan masih tersenyum lebar padanya. Taemin menggembungkan pipinya. Lucu sekali. Aku mencubit pipi berisinya.
“ayo makan!” ajakku.
Taemin ikut duduk di sebelahku. Sebelah tangannya mengambil sandwich yang sudah aku siapkan.
“nuna mau kemana hari ini?” tanya taemin setelah memasukkan satu suap sandwich ke dalam mulutnya.
“main dengan kai” jawabku asal.
“UHUK! UHUK!!” taemin tersedak. Aku langsung mengambil segelas air untuknya dan menepuk-nepuk punggungnya pelan selagi dia meminum air itu.
“hahahaha! Ya ampun, taeminie!” aku tak bisa menahan tawaku sementara taemin memandang sinis padaku, “aku cuma bercanda! Hahaha!”
Taemin memajukan mulutnya lagi dan menggigit suapan kedua dengan kesal. Matanya masih memandang sinis padaku.
“aku hari ini tidak main dengan kai, tapi dengan chen” ujarku iseng.
“OHOKK!!”
Kali ini tersedaknya lebih hebat dari yang tadi. Aku memberinya minum lagi. Tapi meski dia sudah minum, batuknya masih tidak hilang. Sementara mata taemin sudah berair karena batuk-batuk terus, aku malah tertawa terbahak-bahak. Jahat sekali aku ini.
“NUNAA!!” teriak taemin setelah bisa mengontrol batuknya.
“hahaha! Aku bercanda, aku bercanda.” Mataku ikut berair karena tertawa terlalu keras.
Taemin meletakkan sandwich-nya di piring dan memelukku erat.
“jangan kemana-mana~ di rumah saja~ nuna tidak boleh kemana-mana~ tunggu aku pulang~” pinta taemin dengan setengah merengek.
“ne, ne. arasseo” ujarku masih dengan tersenyum lebar. Lucunya taeminie merengek begitu.
“sebagai gantinya hari ini, besok aku akan menemani nuna seharian.” Ujar taemin sambil lalu. Dia mengambil sandwich-nya dan mulai makan lagi.
Aku terdiam.
Besok tidak bisa. Besok aku akan pergi sampai sebulan ke depan. Karena itulah aku merasa kecewa saat tahu taemin tak bisa bersamaku hari ini. Padahal aku kira aku bisa bermain dengannya seharian sebelum aku pergi. Taemin masih belum tahu ini. Dia tak boleh tahu sampai urusannya hari ini selesai. Aku tak mau mengganggu konsentrasinya.
“hmm” aku hanya bergumam pelan sebagai respon.
Taemin menoleh padaku dengan senyum mengembang. Aku membalas senyumnya.
Tiba-tiba taemin menyodorkan sandwich-nya padaku.
“nuna, aa~” taemin menyuruhku membuka mulutku.
Senyumku mengembang dua kali lebih lebar, kemudian aku menggigit sandwich itu
***
Aku berada di sebuah ruangan yang tak aku kenal. Ruangan ini terkesan sudah lama ditinggalkan, dindingnya berwarna abu-abu semen karena belum dicat. Ruangan ini berbau apek. Tidak ada perabotan apapun dalam ruangan ini, kecuali sebuah kursi kayu biasa yang berada di tengah ruangan. Taemin duduk di atas kursi kayu itu, matanya tertutup dan kedua tangannya terikat di belakang kursi. Dia memakai kemeja putih yang dua kancing paling atasnya terbuka, celana berbahan kain warna hitam, dan tidak beralas kaki. Kepalanya menunduk, terlihat sedang tidur. Aku hanya melihatnya dari tempat aku berdiri sekarang. Di belakangku adalah satu-satunya pintu yang ada di kamar ini. Sebuah jendela petak kecil berada sedikit jauh di depanku. Dari jendela, terlihat cahaya matahari yang mulai condong ke barat.Taemin duduk membelakangi jendela itu sehingga dia terlihat hampir seperti siluet.
Aku yang mengikat taemin, menutup matanya dan mendudukkannya di kursi itu. Akulah yang dengan sengaja membiusnya, dan meletakkannya di dalam ruangan kosong ini.
Suara langkahku bergema saat aku berjalan mendekati taemin yang berada di tengah ruangan. Saat aku hanya tinggal beberapa langkah lagi darinya, taemin terbangun. Aku berhenti untuk melihat bagaimana reaksinya.
Taemin menggeliat sebentar dan sedetik kemudian sadar dengan apa yang terjadi. Dia menggerakkan kepalanya ke kiri-kanan, atas-bawah, kemudian tangannya mulai bergerak-gerak, mencoba melepaskan diri. Cukup lama dia bergelut dengan dirinya sendiri sampai akhirnya dia menyerah. Napasnya tersengal-sengal dan aku bisa melihat tetesan keringatnya mengalir dari bawah dagunya dari tempat aku berdiri sekarang.
“apa-apaan ini?” taemin bertanya pada dirinya sendiri. Sekali lagi dia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi kemudian dia menyerah lagi.
Aku berjalan mendekati taemin. Suara langkahku memberitahunya bahwa dia tidak sendirian di ruangan ini.
“siapa itu?” tanya taemin.
Aku berhenti lagi, tepat satu langkah di depannya. Aku tak mau menjawabnya. Kalau taemin mendengar suaraku, pasti dia langsung tahu itu aku.
“siapa itu?? Aku di mana? Kau siapa??” taemin bertanya bertubi-tubi. Lagi-lagi dia menggerakkan tangannya. Seberapa kuatnya pun dia mencoba melepaskan diri, dia tak berhasil.
Aku membungkuk agar wajahku sejajar dengan wajahnya. Aku pandangi wajahnya dari dekat. Keringatnya mengalir di bagian samping wajahnya. Aku mengambil tisue dari dalam kantongku dan mencoba untuk menghapus keringat taemin. Saat sentuhan pertama mengenai wajahnya, taemin menghindar. Tentu saja, dengan mata tertutup semua orang pasti akan lebih waspada. Aku memegang dagunya agar dia tidak menghindar lagi dan mulai menghapus keringatnya dengan tisue-ku. Kali ini taemin tidak berontak, dia membiarkanku melakukan itu.
“kau siapa?” tanya taemin untuk ketiga kalinya. Suaranya tidak terlalu keras dibanding yang tadi.
Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya. Sebaliknya, aku malah berjalan menjauhinya.
“jawab aku!! Kau siapa?? Apa yang kau lakukan kepadaku??” taemin berteriak. Aku tetap tak menggubrisnya dan terus berjalan lurus ke arah pintu.

Cahaya di luar sudah mulai gelap saat aku kembali ke ruangan itu. Taemin masih berada di tengah ruangan, duduk di atas kursinya dengan tangan terikat dan mata tertutup. Hanya saja kursinya bergeser sedikit ke kanan dibandingkan dengan saat aku tinggal tadi. Mungkin saat aku pergi taemin mencoba melepaskan diri lagi.
“lepaskan aku” pinta taemin saat didengarnya aku masuk ke dalam ruangan.
Tidak, sampai besok pagi tidak akan aku lepaskan, batinku.
Aku berjalan mendekati taemin dengan nampan yang berisi makanan dan minuman di tanganku. Aku letakkan nampan itu dekat dengan kursinya, mengambil cola dengan sedotan dan menempelkan ujung sedotan itu di bibir taemin agar dia bisa meminumnya.
Taemin mengerti maksudku dan langsung meminum cola itu. Aku sedikit kecewa sebenarnya. Bagaimana kalau yang membius dia bukan aku dan orang itu malah memberikannya racun, bukan cola?
Taemin baru minum beberapa teguk saat aku mencabut sedotan itu dari bibirnya.
“aku haus!” protes taemin.
Aku tak menggubrisnya. Tentu saja dia haus, tapi dia juga pasti lapar. Dan makanan cepat saji yang aku beli ini akan dingin kalau tidak segera di makan.
Aku tersenyum kecil saat taemin mencium daging ayam yang aku sodorkan di depan bibirnya. Sesudah taemin mencium aroma daging itu, mulutnya terbuka lebar, minta disuapkan.
Aku mendengus karena menahan tawa. Kurasa penculik paling sangar manapun tak akan tahan dengan keimutan adikku ini.
Taemin makan dengan lahap. Sampai sekarang, aku berharap taemin masih belum bisa menebakku. Tadi taemin terlihat penasaran saat mendengar dengusanku. Mudah-mudahan dia tidak tahu.
Saat aku memberinya cola lagi, sebagian cola itu tumpah dan mengalir dari mulutnya sampai lehernya.
Aku kesal sendiri. Adikku ini minum dari sedotan saja tidak bisa.
“ck!”
Aku mengutuki diriku sendiri karena tidak bisa menahan decakanku barusan. Aku melirik taemin dan entah kenapa barusan sepertinya aku melihat dia tersenyum sekilas.
Lagi, aku mengambil tisue dan membersihkan tumpahan cola dari leher taemin. Saat aku membersihkan cola dari bagian kiri lehernya, taemin menelan ludahnya. Adam’s apple-nya naik kemudian turun lagi. Aku mencoba mengacuhkannya dan terus membersihkan aliran cola sampai dagunya. Taemin menelan ludahnya lagi.
“cium aku” bisiknya.
Kali ini aku yang menelan ludah. Gerakan tanganku berhenti. Aku langsung berdiri tegak, tidak lagi menunduk agar wajahku sejajar dengan wajahnya. Taemin menyadari pergerakanku dan mencondongkan badannya ke depan.
“cium aku!” suruhnya lagi. Dia memajukan bibirnya, mencari-cari di udara.
Aku menelan ludahku lagi. Mataku terpaku padanya.
“kumohon! Cium aku!” pinta taemin lagi.
Aku seperti tak punya pilihan lain selain mengangkat dagu taemin dengan tangan kiriku dan menciumnya. Aku hanya menempelkan bibirku ke bibirnya tapi ternyata taemin meminta lebih.
Saat ciuman itu selesai, aku menjauhi wajahnya dengan napas sedikit terengah-engah. Kami berciuman cukup lama. Kemeja putih taemin terlihat kusut dan aku mencoba merapikannya.
“nuna”
Jantungku memompa darah lebih cepat saat kudengar suara itu.
Dia tahu aku! Bagaimana ini? Dia tahu aku!
“aku tahu itu nuna. Nuna tak bisa bohong padaku. Aku tak mungkin salah merasakan bibir nuna.” taemin berkata seperti itu sambil tersenyum. Dia kemudian membasahkan bibirnya.
Aku mundur beberapa langkah.
Aku ketahuan!
Aku membalikkan badan dan berjalan cepat menuju pintu.
“nuna mau kemana??” taemin berseru lebih keras.
Cklek! BLAMM!
Pintu terbanting keras. Tapi tidak, aku tidak keluar. Aku hanya berpura-pura keluar. Aku melirik taemin yang terdiam di kursinya.
“nuna?” panggilnya lagi.
Aku tak menjawabnya, hanya melihatnya dari jauh.
Kepala taemin terkulai lemas di depannya. Dia menghembuskan napas panjang.

Sudah larut malam saat aku terbangun karena suara seretan kursi dari tengah ruangan. Aku mencoba duduk dan menyesuaikan mataku dengan kegelapan yang remang-remang. Cahaya hanya ada dari jendela kecil yang membiaskan sinar bulan. Hanya itu.
Taemin bergoyang-goyang di kursinya. Kedua kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan gerakan cepat. Aku bisa mendengar desisannya yang seperti ‘ssh’ dari sini.
Aku langsung berdiri, takut terjadi apa-apa dengan adikku. Aku kemudian berjalan mendekati taemin, lupa bahwa aku tadi berpura-pura sudah keluar.
Taemin tampak sedikit kaget karena mendengar suara sepatuku.
“nuna? nuna masih di sini??” tanya taemin tiba-tiba. Aku tidak menjawabnya, tapi sepertinya taemin juga tidak menunggu jawabanku, dia langsung berujar cepat setelahnya, “nuna, aku mau pipis, sudah tidak tahan lagi~”
Pipis! Ya ampun, aku lupa soal yang satu itu!
Aku mengutuk dalam hati karena melupakan hal penting begitu. Aku jadi panik sendiri.
“ti—tidak ada tempat—“ tanpa sadar aku mengeluarkan suaraku. Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat.
“tempat cola tadi, nuna! palli!”
Masih dengan panik, aku mengambil gelas kertas cola kosong tadi. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa, mau memberikannya kepada taemin pun, tangannya terikat di belakang.
“i—ini.. bagaimana—“, aku bergumam bingung.
“buka saja celanaku, nuna! aku tidak peduli!”, bentak taemin.
Tanganku gemetar saat mencoba membuka tali pinggang taemin. Aku tak percaya aku melakukan ini. Salahku sendiri mengikatnya seperti ini.
Tanganku masih bergetar saat aku memasang tali pinggang taemin lagi. Jantungku berdegup kencang karena aku sudah benar-benar ketahuan. Aku tak punya pilihan lain selain membuka penutup matanya.
Taemin mengedip-ngedipkan matanya saat penutup matanya aku buka, mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan ruangan.
Wajahnya mengadah ke atas, melihatku yang berdiri di depannya.
“APA-APAAN INI, NUNA??!” bentaknya keras. Aku menelan ludahku. Belum pernah aku melihatnya semarah ini.
Taemin masih melihatku dengan tajam sementara aku hanya bisa berdiri diam sambil melihatnya.
“cium aku!” suruh taemin lama setelah itu.
Lagi-lagi aku menurutinya. Aku mendekatinya dan mengecup bibir tebalnya. Taemin menyambutnya dengan gerakan di bibirnya.

Taemin berada di atasku. Dia sedang menciumku.
Sedetik kemudian aku baru sadar kalau yang tadi itu adalah mimpi. Dan kali ini taemin yang nyata menciumku selagi aku tidur.
Dan apa ini?? Jadi sekarang aku yang diserang??
Aku langsung melepas ciuman taemin dengan menolehkan kepalaku ke samping. Saat itulah taemin sadar kalau aku sudah bangun.
“kau ngapain?” tanyaku sambil duduk dan bersandar di kepala kasurku. Suaraku masih serak.
“mencium nuna” jawab taemin polos.
Aku masih mencoba mengumpulkan kesadaranku. Dari luar jendela tidak ada lagi cahaya matahari. Sepertinya aku ketiduran dari tadi sore.
Aku melihat taemin lagi. Dia duduk di pinggir kasur. Kakiku yang kuselonjorkan ke depan berada di antara dua tangannya. Penampilannya sedikit berubah.
“potong rambut?” tanyaku dengan mata masih menyipit.
“hm” taemin menjawab singkat. Dia sudah menutup matanya dan mencondongkan badannya ke depan untuk menciumku lagi. Bibirnya bergerak-gerak di seberang bibirku.
Ini tidak benar. Taemin terlihat makin dewasa dengan potongan rambutnya yang sekarang. Ditambah lagi dengan mimpiku barusan.
Aku mencoba melepaskannya, tapi taemin meraih wajahku lagi dengan lembut dan menciumku lagi.
“kenapa menciumku terus?” tanyaku setelah taemin melepas bibirnya.
“Cuma ingin saja.” jawab taemin singkat.
Kau kira aku apa??, rutukku dalam hari.
“sudah makan malam?” tanyaku lagi. Aku malas marah-marah hari ini.
Taemin mengangguk sebagai jawaban.
“aku membawa makanan untuk nuna.” Mata taemin terpaku di leherku. Dia meraba kalung hadiah darinya dan kemudian menciumku lagi.
“besok kita mau kemana?” tanya taemin setelah itu.
Aku mengambil napas panjang. Sepertinya aku harus memberitahu taemin sekarang.
“besok tidak bisa, aku mau pergi.” Aku memulai dengan perasaan khawatir. Apa taemin akan marah karena aku akan pergi?
“oh,” taemin terlihat sedikit kecewa, “kalau begitu besoknya lagi saja.” tawarnya.
Aku menggeleng.
“besoknya lagi aku masih belum pulang.” Ujarku dengan suara lemah.
Alis taemin langsung berkerut. Sepertinya dia mulai sadar kalau aku serius.
“nuna mau pergi berapa lama?” alisnya masih berkerut saat bertanya seperti itu. Taemin terlihat marah.
Aku menghembuskan napas panjang, ragu-ragu untuk menjawabnya.
“aku pergi sebulan” kataku akhirnya.
“ANDWAE!” suara taemin meninggi.
“aku harus pergi. Ada kewajiban yang harus aku jalankan.” Terangku. Aku tahu akan begini akhirnya. Pasti dia marah. Tapi aku memang harus pergi.
“masa nuna mau meninggalkanku sendirian??” protes taemin, “tidak boleh!!”
Aku meletakkan kedua tanganku di kedua belah pipi taemin. Matanya sudah berair. Sebentar lagi pasti airmatanya jatuh.
“kau harus mengerti. Aku benar-benar harus pergi.” Ujarku pelan. Aku tatap matanya dalam.
Taemin menutup matanya dan dua butir airmata jatuh dari masing-masing matanya.
Aku memeluknya dan membiarkannya menangis di pundakku.
“kenapa tidak bilang dari dulu kalau nuna mau pergi?” tanya taemin masih sambil menangis.
“aku tak mau mengganggu konsentrasimu” jawabku. Aku mengelus pelan rambutnya.
“nuna jahat padaku.” ujar taemin kemudian setelah membersitkan hidungnya.
“mian” aku hanya bisa berujar pelan.
Taemin melepas pelukannya.
“telpon aku tiap hari.” Suruh taemin sambil melihatku. Matanya merah karena menangis.
“tidak bisa tiap hari, aku akan sibuk selama sebulan itu,” ujarku, “tapi aku akan langsung menelponmu kalau aku ada waktu kosong.”
Airmata taemin jatuh lagi.
“kalau begitu sms aku tiap hari, nunaa~ huweee~” tangisnya pecah lagi. Aku memeluknya lagi. Aku tersenyum lebar meskipun airmataku juga sudah keluar.
Selama sebulan aku tak akan bisa melihat wajah imut ini. Mendengar suaranya pun pasti juga tidak akan sesering biasanya. Aku pasti sangat merindukannya.
“aku mau tidur dengan nuna malam ini, aku mau peluk nuna” kata taemin setelah tangisnya berhenti.
Aku mengangguk. Aku juga ingin peluk dia malam ini. Aku menghapus airmataku dan setelah itu menghapus airmata taemin dari pipinya.
“temani aku makan, yuk!” ajakku setelah itu. Taemin mengangguk. Dia menggenggam tanganku dan kami sama-sama berjalan keluar dari kamarku.
= = =

FF/S/Nuna’s Diary (page 141-145)

= Nuna’s Diary =

Page: 141-145

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Cklek!

“Nunaa~”

Pandanganku ke televisi teralihkan karena suara serak Taemin. Aku memutar kepalaku dari balik sofa agar bisa melihatnya yang baru keluar dari kamar.

“Sudah bangun?” tanyaku basa-basi. Sekilas aku lirik jam dinding di sebelah pintu kamar mandi. Sudah jam sembilan lewat sepuluh.

“Eung,” jawab Taemin seadanya, matanya masih setengah tertutup. Sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya, “Aku lapar~ Mau masak ramyeon~” katanya lagi. Taemin mulai menyeret langkahnya ke arah dapur.

“Jangan pakai susu, Taeminie” ujarku mengingatkan. Kembali aku menatap layar televisi yang berjarak kurang lebih dua setengah meter di depanku. Terakhir kali Taemin mencoba membuat ramyeon, dia menambahkan susu ke dalamnya. Rasanya tak terkatakan.

DUGH!

“Aigoo~~~”

Aku langsung menoleh ke samping kiri begitu kudengar erangan Taemin. Saat kulihat, dia sedang mengelus-elus keningnya dengan tangan kanannya.

“Aigo~ Sakit, Nuna~ Huwee~~” rengeknya.

“Kau kenapa?” tanyaku. Sedikit geli juga melihat dia memukul kusen pintu dapur setelah itu.

“Kusen pintunya nakal padaku!” ujarnya masih sambil memukul kusen pintu itu.

“Hahaha! Kau yang tidak lihat jalan. Sini!” aku menyuruh Taemin agar mendekat kepadaku supaya aku bisa melihat keningnya.

“Sakit, Nuna~~” Taemin berjalan mendekat dengan masih mengelus keningnya.

“Cuma merah kok. Siapa suruh tidak lihat jalan, hehe”

“Ppoppo dong, Nuna, biar tidak sakit lagi~” pinta taemin setelah itu.

Ccuk!

Aku mencium kening Taemin sekilas. Taemin senyum-senyum setelah itu. Dan tanpa mengucapkan apapun lagi, dia kembali berjalan ke dapur.

Tak terlalu lama sampai suara Taemin terdengar lagi.

“Nuna~~ Ramyeon-nya Nuna taruh dimana~?” tanyanya dari arah dapur.

“Coba lihat di lemari di atas kompor” jawabku dengan suara sedikit keras.

“Tidak ada~” sahut Taemin.

“Lihat dulu~” kataku lagi sedikit acuh. Film yang sedang kutonton sedang seru-serunya.

“Tidak ada, Nuna~ Ini pintu lemarinya sudah terbuka lebar tapi ramyeon-nya tidak ada~~” seru Taemin lagi.

Aku tak menggubrisnya. Sebentar lagi bomnya akan meledak kalau pemeran utamanya tak segera memutus salah satu kabel.

DHUAARR!!!

Bomnya sudah meledak dan pemeran utamanya mati. Hehe, lucu juga film ini.

“NUNAAA~~~” kali ini Taemin berteriak.

Sekarang kalau aku tak ke dapur, Taemin yang akan meledak. Rengekannya, maksudku.

“Neee!!” aku segera beranjak dari sofa untuk menyusul taemin ke dapur. Taemin sedang mencari sesuatu di kulkas saat aku tiba di sana.

“Tidak ada, nuna~ Di kulkas juga tidak ada~” ujar taemin saat melihatku. Di tangannya sudah ada sebotol susu pisang yang sedotannya sudah ditancapkan.

Orang babo mana yang meletakkan ramyeon di kulkas?, batinku.

Aku melihat ke dalam lemari gantung di atas kompor. Taemin benar, ramyeon-nya tidak ada.

“Wah, berarti ramyeon-nya sudah habis.” Ujarku pada taemin. Dia hanya mengangguk-angguk dengan bibir di pangkal sedotan susunya. “Beli yuk?” ajakku.

“Ayo! Persediaan susuku juga sudah habis.” Taemin langsung bersemangat.

Sruuut~

Sisa susunya diselesaikannya dalam satu tegukan.

“Beli di mana?” tanyanya kemudian.

“Mini market di dekat sini saja. Aku malas pergi jauh-jauh.” Jawabku.

“Aku pasang jaket dulu ya, Nuna~” dengan berlari kecil, Taemin menuju kamarnya. Aku juga mengikutinya keluar dari dapur untuk mengambil jaket di kamarku.

“Nuna, ayo~~!” Taemin muncul dari balik pintu kamarku saat aku sedang mematut diri di cermin. Aku meliriknya lewat pantulan cermin. Taemin datang mendekatiku.

“Lipbalm ya, Nuna?” tanyanya polos sambil melihat aku yang sedang mengoles lipbalm di bibirku.

“Eung” jawabku singkat, “Kau tak pakai?” aku balik bertanya.

“Ani. Punyaku habis~” jawab taemin. entah kenapa aku bisa menangkap sedikit nada sedih dalam suaranya.

“Ya sudah, nanti kita beli yang baru. Sini, mana bibirmu.” Ujarku. Tangan kiriku sudah menyentuh dagunya sementara tangan kananku sudah siap dengan lipbalm.

Mata taemin langsung menyipit karena senyumnya yang tiba-tiba mengembang lebar.

“Mau kiseu aku ya, Nuna?” tanyanya.

Cengiranku tak bisa ditahan begitu mendengarnya.

“Kalau tak dioles lipbalm, nanti bibirmu kering. Cuaca sudah mulai dingin, aku tak mau melihat bibirmu pecah-pecah dan terlihat jelek.” Ujarku panjang lebar sambil mengoleskan lipbalm milikku di bibir tebal taemin. Mataku fokus pada bibirnya saja sampai akhirnya aku sadar Taemin sedang menatapku. Sesaat aku menelan ludahku. Taemin terlalu dekat.

“Apa?” ujarku memecah keheningan.

Taemin tersenyum kecil, ujung bibirnya hanya naik sedikit.

“Aku kangen nuna.” bisiknya pelan.

Wajahku entah kenapa memanas. Taemin yang makin hari makin dewasa akhir-akhir ini sering membuatku salah tingkah. Apalagi sekarang dengan jarak sedekat ini.

“Kau ini ada-ada saja.” ujarku mengalihkan, “Ayo pergi”

Tiba-tiba Taemin menarikku dalam pelukannya. Aku masih kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Tanganku berhenti di udara, tak tahu apa harus membalas pelukannya atau tidak. Dan satu yang aku khawatirkan, aku takut Taemin mendengar detak jantungku sekarang. Menyebalkan sekali rasanya kalau aku dibuat berdebar-debar oleh adik sendiri seperti ini.

Cukup lama Taemin memelukku. Pelukannya erat, tapi nyaman. Sampai akhirnya aku merasakan pelukan Taemin makin erat dan dia meletakkan kepalanya di pundakku, baru aku sadar ada yang tidak beres.

Akhirnya aku membalas pelukannya dan menepuk sedikit punggungnya.

“Kau kenapa?” tanyaku. Kali ini tanganku mengelus punggungnya dari balik jaket tebalnya.

“Aku mimpi buruk.” Jawab taemin pelan, “Buruk sekali. Sampai membuat aku sangat rindu pada Nuna seperti ini.”

Ternyata mimpi lagi…, ujarku dalam hati.

“Memangnya bagaimana mimpinya?” tanyaku sekedar basa-basi.

Taemin tiba-tiba melepaskan pelukannya dan wajahnya berubah imut.

“Ceritanya nanti saja ya, Nuna~ Aku sudah lapar sekali~ Ayo beli ramyeon~” alis taemin berkerut saat berkata seperti itu.

Aku mencubit pipinya pelan sambil tersenyum.

“Baiklah~ Ayo!”

***

Saat aku sibuk berkeliling mini market, aku kehilangan Taemin. Meski memakai kata ‘mini’, tapi mini market di dekat rumah kami ini cukup besar. Tapi tidak cukup besar juga untuk disebut super market. Hampir seperti super market tapi bukan super market. Ah, pokoknya begitu. Aku jadi susah menjelaskannya.

Aku mencari Taemin sampai rak paling ujung. Ternyata dia di sana, berdiri di depan pendingin besar. Salah satu tangannya menimang-nimang sebuah sosis yang ukurannya lumayan besar.

Aku mendekati Taemin.

“Di sini kau rupanya.” Kataku. Mataku melihat isi dalam pendingin di depan kami. Ada banyak sosis dan nugget berbagai macam bentuk di dalam sana.

“Se-aku” gumam Taemin pelan, tapi masih bisa kudengar.

“Apanya?” tanyaku tanpa menoleh. Mataku fokus pada sebungkus nugget, bingung mau membelinya atau tidak.

“Ini” jawab Taemin. Dia mengangkat sosis besar itu hingga sejajar dengan mataku. Aku bingung, tak mengerti maksudnya.

“Kau mau sosis?” tebakku.

Taemin tak langsung menjawab. Dia malah meletakkan sosis itu kembali ke pendingin.

“Tidak. Sudah punya.” Jawabnya sambil ngeloyor pergi.

“Masa?” tanyaku sembari sibuk memeriksa keranjang belanjaan. Sepertinya aku belum melihat Taemin memasukkan sosis ke dalam situ. Dan setelah kuperiksa memang tidak ada. Aku melihat punggung Taemin yang semakin menjauh, dia berjalan ke pendingin berisi es krim sekarang. Mungkin dia lupa kalau belum memasukkan sosisnya.

“Nuna, aku mau ini!” katanya kemudian sambil mengangkat seember es krim ukuran sedang.

Terkadang aku heran sekali dengan Taemin. Kalau sedang musim dingin, pasti dia ingin makan es krim. Tahun lalu saat aku ulang tahun juga begitu.

“Rasa apa?” kataku akhirnya. Mau tak mau aku harus maklum dengan keanehan adikku. Aku menghampirinya setelah mengambil sosis yang Taemin pegang tadi dan memasukkannya ke dalam keranjang.

“Aku bingung vanila atau cokelat. Nuna mau yang mana?” Taemin bertanya balik.

“Vanila saja.”

“Kenapa tidak cokelat saja?”

Anak ini benar-benar…

“Terus kenapa kau tanya aku mau rasa apa?? Ya sudah, cokelat!” ujarku sedikit ketus.

Taemin tampak berpikir sebentar.

“Vanila saja deh,” ujar taemin sambil memasukkan sekotak es krim vanila ke dalam keranjang. “Nuna beli ini??” suara Taemin sedikit meninggi saat dilihatnya sosis yang tadi aku ambil.

“Ne. Barangkali kau mau.” Jawabku enteng.

“Sudah dibilang aku sudah punya.” Sanggah Taemin.

“belum, kau belum memasukkannya ke keranjang. Lihat saja.” Aku mengangkat keranjang belanjaan sedikit  lebih tinggi.

Taemin tak merespon. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan meninggalkanku lagi.

“Beli buah yuk, nuna” ajaknya sambil lalu. Aku mengikutinya dari belakang.

***

Jalanan komplek sepi saat aku dan Taemin menyusuri jalan pulang.

“Jadi bagaimana cerita mimpimu?” tanyaku mengingatkan Taemin. Dari samping, aku bisa melihat Taemin yang menghembuskan napas berat. Taemin menunduk, sementara tangannya semakin menggenggam erat tanganku.

“Aku mimpi nuna pergi.” Taemin memulai ceritanya, “Lamaaa sekali, sampai aku terbiasa dengan ketidak-adaan nuna. Nuna sibuk, aku tak tahu Nuna pergi ke mana. Tapi yang pasti, Nuna terlalu sibuk sampai-sampai nuna lupa hari ulang tahunku. Baru kali itu Nuna tak mengucapkan selamat ulang tahun padaku.”

Aku tak menyangka dengan bercerita seperti itu saja, airmata Taemin mengalir turun. Aku menghentikan langkah kakiku. Taemin masih menunduk, dia tak berani menatap wajahku. Tapi untunglah tinggiku jauh lebih pendek darinya. Jadi meskipun Taemin menunduk, aku masih bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Kenapa kau menangis?” aku mencoba menggoyangkan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Taemin tak menggubrisku. “Taeminie?” panggilku lagi.

Akhirnya Taemin menatap mataku. Genangan airmata sudah membasahi pipi berisinya. Adikku menangis cuma gara-gara mimpi konyol. Baiklah, saat ini dia imut, imut sekali malah dengan potongan rambut barunya yang seperti itu. Tapi alasan menangisnya benar-benar tidak masuk akal.

“Aku tak mau kehilangan nuna. nuna pergi lama sekali. Aku tak suka sendirian.” Taemin menjawab dengan suara serak. Napasnya masih bisa dikontrolnya, tapi airmatanya tak bisa. Aku tak suka melihat airmata itu. Aku mencoba menghapus airmata itu dari wajah Taemin.

“Ya ampun, Taeminie. Cuma gara-gara mimpi kau jadi menangis seperti ini.”

Kejadian selanjutnya terjadi sangat cepat sampai aku tak sempat berkedip. Taemin menyambar tubuhku dan memelukku dengan erat. Erat sekali, sampai-sampai belanjaan yang aku pegang terjatuh ke jalan.

“Jangan bilang ‘cuma’. Aku tersiksa sekali di dalam mimpi itu, Nuna.” Taemin berujar di samping telingaku. Suaranya serak karena dia menangis.

Aku jadi merasa bersalah. Dengan gerakan pelan, aku membalas pelukannya.

“Mian.” Ujarku pelan.

Taemin masih memelukku. Entah berapa lama kami berpelukan. Aku menggigit bibir bawahku.

“Taeminie? Bagaimana kalau kita pulang? Aku kedinginan.” Aku menepuk punggungnya pelan dua kali saat berujar seperti itu.

Taemin tak membalas kata-kataku. Tapi dari gerakan dadanya di depanku aku bisa tahu dia mengambil napas panjang.

“Kiseu dulu.” Pintanya kemudian dengan masih memelukku.

Aku menelan ludah.

Jalanan memang sepi, tapi rada aneh kalau melakukannya di luar rumah seperti ini.

“Tidak ada orang kok, Nuna.” ujar Taemin lagi, seperti bisa membaca pikiranku.

Aku melepaskan pelukan Taemin dan melihat ke sekeliling. Ke samping kiri dan kanan, ke belakangku dan ke belakang taemin. Benar tidak ada orang.

Aku mendongak ke atas untuk melihat wajah Taemin. bibirnya sedikit cemberut sambil menungguku. Bagian bawah matanya masih basah karena airmata.

Aku menggigit bibir lagi sambil berpikir.

“Sini, sedikit menunduk.” Kataku akhirnya.

Taemin langsung tersenyum senang dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Bibir taemin dingin dan kering, sama seperti bibirku. Tapi setidaknya aku jadi merasa sedikit hangat melakukannya saat udara dingin begini.

Saat aku menarik kepalaku ke belakang untuk menyudahi ciuman, Taemin tak mau melepasnya. Dia malah mengikuti arah kepalaku.

Aduh, anak ini…

Plak!

Aku memukul pelan pipinya.

Taemin langsung melepas bibirnya dan terlihat sangat terkejut.

Aku memandangnya dengan sedikit marah.

“jangan macam-macam. Ayo pulang!”

Dengan gerakan cepat aku menyambar belanjaanku yang jatuh tadi dan dengan tangan satunya aku menyambar tangan taemin lalu aku berjalan cepat menuju rumah.

= = =