Tag Archive | (stuck)

FF ㅡ [Untitled 3 – Taemin/G] (stuck)

= FF =

Title: (Untitled)

Status: stuck

Rating: G (General)

Main Cast: (someone) & SHINee Taemin

Support Cast: f(x) Sulli as Jinri

Author: Taemznuna

= = =

“kulihat taemin sudah jarang main ke sini, ya?”

Langkahku terhenti begitu eonni-ku bertanya seperti itu. Salah satu kakiku mengambang di atas tangga yang hendak aku pijak.

“dia sudah punya pacar” jawabku.

“anak itu? Tentu saja. dia sudah jadi pria tampan sekarang. Malah aneh kalau dia belum punya pacar.” Eonni mendelik padaku, “kau kapan mau menyusulnya?”

Aku memandangnya sinis.

“bukan urusanmu”

Dengan setengah berlari aku menaiki tangga dan meraih pintu kamarku secepat yang aku bisa. Agak sulit rasanya menahan diri untuk tidak membanting pintu kamar. Aku menghempaskan tas sekolahku di atas karpet. Dengan lemas, aku membaringkan tubuhku di atas kasur empukku, memandangi langit-langit kamar. Tanganku kurentangkan lebar-lebar agar paling tidak bebanku sedikit berkurang

Tadi aku melihat mereka di depan pintu gerbang sekolah. Taemin dan Jinri. Pasangan baru yang menggemparkan hampir seluruh isi sekolah. Jinri tampak cantik dengan rambut coklatnya yang dikepangnya menyamping tadi. Dan aku tak bisa melupakan taemin yang wajahnya tampak benar-benar bahagia saat jinri menghampirinya.

“hahh~”

Aku mendesah pelan.

Di dalam rasanya sakit. Sudah tak bisa dipungkiri lagi kalau aku menyukainya. Lee taemin. tetanggaku sekaligus temanku sejak kecil. Sampai sebulan yang lalu dia masih sering main ke kamarku. Tapi tidak lagi setelah dia melihat anak itu. Anak perempuan yang posturnya seperti boneka dengan wajah menawan. Kalau aku laki-laki pun aku yakin aku akan menyukainya. Sayang aku terlahir sebagai perempuan yang menyukai teman masa kecilku. Dan sayang juga ternyata teman masa kecil yang aku sukai itu ternyata menyukai gadis cantik seperti jinri, bukan aku.

Haha. Aku? Siapa aku? Gadis tidak cantik dan pendek dengan rambut sebahu yang tampak kasar. Aku bahkan tak pernah memakai make-up. Gadis seperti ini yang akan disukai taemin? tidak mungkin.

 

-flash back-

“jinra-ya. Aku boleh menceritakan sesuatu padamu?”

Aku langsung menoleh pada taemin. nada suaranya berubah drastis seperti itu. Pasti dia ingin membicarakan masalah serius.

“ceritakan saja” ujarku. Sebelah tanganku membetulkan lipatan sprei.

Sebentar kemudian, aku mendengar hembusan panjang napas taemin. aku langsung menoleh padanya lagi. Sepertinya benar-benar serius.

Aku duduk di pinggiran kasur dan menyambar boneka teddy bear-ku. Boneka yang diberikan taemin sebagai hadiah ulang tahun untukku tahun lalu.

“cerita saja. aku mendengarkan.” Ujarku sambil memeluk boneka itu dalam pangkuanku.

Taemin yang tadinya menunduk dengan perlahan mengangkat wajahnya. Tangannya masih menampu badannya di atas kakinya yang terbuka lebar. Taemin kemudian tersenyum.

“sepertinya..” katanya, senyumnya tak hilang dari wajahnya, “aku jatuh cinta”

Deg!

Detakan jantungku tak bisa aku hentikan. Tak pernah sebelumnya aku melihat wajah taemin yang seperti ini.

“oh ya?” ujarku sedikit terkejut, aku betulkan sedikit posisi dudukku, “pada siapa?”

Taemin menghembuskan napas lagi.

“jin…” taemin menatapku lekat-lekat, “ri. Hahahahaha~!” tiba-tiba dia tertawa keras.

Aku sedikit terperanjat melihatnya.

“kenapa kau tertawa?” tanyaku heran.

“wajahmu tegang sekali. Hahahaha~”

Aku memajukan bibirku.

“sudah diamlah. Siapa kau bilang tadi? Jinri?”

Taemin mencoba menghentikan tawanya.

“ne, jinri. Memangnya kau kira tadi aku akan menyebutkan apa? Jinra? Hahahahaha~”

Taemin tertawa lagi.

Namaku jinra dan nama yeoja yang disukainya itu jinri. Hanya beda tipis ‘kan? Lagipula mengapa dia harus memecah dua suku kata itu tadi?

Aku terus melihat taemin yang tertawa dengan memangku wajahku di tanganku.

“sudah tertawanya?” tanyaku.

Bahu taemin masih berguncang saat dia melihatku. Garis matanya saat tertawa masih terlihat.

“baiklah. Kau ini jadi yeoja tidak ada manis-manisnya, jinra-ya~” katanya menggodaku. Aku memutar bola mataku.

“sudah diam saja. sekarang katakan padaku, siapa jinri ini?”

Taemin membersihkan tenggorokannya.

“anak baru di kelasku. Kau tidak tahu dia? Padahal kedatangannya tadi cukup heboh”

Aku mencoba mengingat. Pada pelajaran pertama tadi memang terdengar suara cukup riuh dari kelas taemin yang kebetulan berada di sebelah kelasku. Ternyata karena ini alasannya.

“aku belum melihatnya. Secantik apa dia?” tanyaku lagi.

Taemin memandang jendela kamarku, bibirnya membentuk senyuman.

“benar-benar cantik. Aku tak bisa mendeskripsikannya lagi.”

Pandangan mata taemin menerawang.

Secantik itukah anak itu?

“lalu?” tanyaku.

“aku ingin memilikinya” ujar taemin singkat.

Aku mengangguk-angguk pelan.

“kau nyatakan saja cintamu.”

Taemin langsung menatapku dengan pandangan marah.

“tidak semudah itu! Banyak yang mengincarnya! Kau tak tahu secantik apa dia!” ujarnya sedikit keras.

“kenapa kau jadi marah padaku? Aku hanya memberi saran. Kalau katamu dia cantik, berarti tinggal tunggu waktu sampai kau dapat berita kalau dia sudah pacaran dengan yang lain. Kalau tidak cepat-cepat kau yang rugi. Babo”

Taemin tampak merenungi perkataanku.

“kau benar juga” katanya sambil menjentikkan jarinya. Setelah itu dia melipat tangannya.

“tapi aku yakin tidak akan berjalan semudah itu. Tapi aku akan mencoba mendekatinya besok”

(stuck)

= = =

Advertisements

FF ㅡ [Untitled 1 – Key/PG] (stuck)

= FF =

Title: (Untitled)

Status: stuck

Rating: PG

Main Cast: (someone) & SHINee Key

Author: Taemznuna

= = =

“hah! Menyebalkan sekali!”

Untuk kesekian kalinya Key menggerutu. Sudah dua belas kali dia berujar seperti itu terhitung dari lima menit yang lalu.

“kalau tak suka ya sudah pulang saja!” bentakku sambil terus mengayunkan tangkai sapu. Aku lap setetes keringatku di pelipis.

Tak ada respon darinya. Dengan sedikit penasaran, aku melirik ke arahnya.

Dia sedang berdiri dengan menopang dagunya di ujung tangkai sapu. Pandangannya lurus menatap tajam ke arahku.

“apa?!” ujarku sedikit jengah.

Lagi-lagi tak ada jawaban, hanya tatapan tajam yang kudapat.

“hihi, wajahmu merah” Key malah nyengir beberapa detik kemudian.

Aku kehabisan kata-kata. Oh, jadi dia hanya mempermainkanku?! Sialan!

Key masih terus terbahak sementara aku mulai lagi menyapu lantai kelas yang kotor.

Huh! Kenapa sih harus aku yang jadi pengurus kelas?? Dengan dia lagi! Argh, menyebalkan!

Baiklah, sekarang aku yang menggerutu. Tapi paling tidak aku tak mengeluarkannya dari mulutku seperti yang dilakukan makhluk yang sedang berdiri diam di depanku ini.

Keringatku menetes lagi.

“YA! Tak bisakah kau ikut membantu?! Kau juga pengurus kelas, ‘kan?? Lihat, setengah kelas sudah aku bersihkan dan apa kerjamu??! Aiish~!!”

Aku tak perlu menunggu respon, kalau dia punya otak dia akan mulai menggerakkan gagang sapu yang dipegangnya itu atau melakukan hal lain yang bermanfaat—dan membuat pekerjaan kami segera selesai dan aku bisa pulang. Oh, aku rindu rumah…

Baiklah, tak ada suara pergeseran sedikitpun setelah itu. Dan saat aku lirik dia lagi, dia malah manyun-manyun sendiri, berdiri membelakangi meja dan masih memegang gagang sapu. Sungguh, kalau aku yang jadi sapu itu aku sudah akan memohon padanya untuk menggunakanku.

“kau namja bukan, sih??” kemarahanku sudah hampir memuncak sepertinya. Melihat dia yang hanya diam dan membiarkan yeoja yang sendirian bekerja itu benar-benar membuatku geram.

“YA!! Apa maksudmu??”

Oh, akhirnya dia buka mulut juga…

“kalau kau namja, kerja!!” bentakku lagi. Gagang sapuku menggantung di tangan kiriku, menunggu untuk dilemparkan ke arahnya.

“aku tak mau. Ini bukan kerjaku” Key berkata dengan acuh-tak-acuh.

MWO?? Bukan kerjanya—??

“bukan kerjamu—YA!! Kau pengurus kelas, ‘kan?? Sudah jadi tanggung jawabmu membersihkan kelas setelah pelajaran usai—“

“bukan aku yang meminta jadi pengurus kelas” Key menekankan kata ‘aku’ di dalamnya.

“kau kira AKU mau jadi pengurus kelas, hah??” tantangku. Enak saja alasannya begitu, kalau bisa memilih juga aku pasti langsung mengundurkan diri begitu ditunjuk tadi.

Key melempar pandangannya ke jendela dengan mendengus pelan. Wajahnya benar-benar tampak menyebalkan.

“masih untung aku tinggal”

MWO—??? Anak ini benar-benar…

“kalau kau tak membantu lebih baik kau pulang” ujarku dingin. Percuma menghabiskan waktu berdebat dengannya dengan menggunakan emosi. Aku juga yang capek.

Aku menunggu responnya setelah itu.

Tak ada. Dia hanya berdiri di tempat yang sama dan menatapku tajam.

Baiklah, jika itu yang dia inginkan. Terserah.

Aku melanjutkan mengayunkan gagang sapuku. Kali ini dengan emosi yang teredam yang menyebabkan aku mengayunkannya sedikit lebih kasar dari sebelumnya. Bunyi gagang kayu yang menyenggol meja dan kursi sangat tak enak didengar, tapi aku tak peduli.

Aku terus menyapu ruangan kelas sampai ke depan, sampai ke dekat Key. Key sedang berdiri menyandar di meja guru, dari tadi dia seperti itu. Dia sedikit menghalangiku.

“minggir” ujarku ketus tanpa menoleh ke arahnya. Dan aku terus mengayunkan gagang sapuku ke kolong meja, samping kursi. Ada sisi yang sulit dijangkau, jadi aku mengayunkan gagang sapu lebih jauh dan dengan kasar menarik gagang sapu itu lagi.

DUG!!

“AHH!!”

Jantungku tersentak. Gagang sapuku mengenai sesuatu di belakangku.

Aku langsung menoleh cepat ke belakang dan menemukan Key yang sudah terduduk dengan bersandar pada meja guru.

“MWO—apa yang kau lakukan di san—gwaenchanha?”

Aku langsung khawatir begitu tahu bagian apa-nya yang terkena gagang sapuku. Bagian itu. Dia sedang menutupi bagian itu-nya, tentu saja bagian itu yang kena.

“gwaenchanha?” tanyaku khawatir. Gagang sapuku sudah kulempar seolah-olah menghilangkan barang bukti dan aku langsung jongkok di sebelahnya.

Key terus mengerang dengan menutup bagian itu-nya. Apa sebegitu sakitnya sampai dia tak bisa marah padaku?

“gwaenchan—“

“AIGO, I YEOJA JEONGMAL!! Sudah diamlah! Aigoo~~” key mengerang lagi setelah meledak sedikit barusan.

Aku menelan ludahku. Kali ini aku yang salah, meskipun yang tadi itu tidak sengaja.

“mianhae~” ujarku pelan.

Key tak merespon, dia masih terus mengerang.

Apa sesakit itu?

Aku menggigit bibir dan hanya bisa menatapnya saja. Apa lagi yang bisa aku lakukan??

“gwaenchanha? Pasti panas sekali itu, mianhae~” ujarku takut-takut setelah Key sepertinya sudah bisa mengontrol dirinya dan mencoba duduk untuk menatapku.

“kau sengaja atau tidak?” ujarnya dingin.

Aku langsung membelalakkan mataku.

“sengaj—YA!! Aku tak sengaja! Tak mungkin aku sengaja mengenai.. bagian… itu…” suaraku makin lama makin pelan. Aku yang salah, ya ampun aku yang salah. Seharusnya aku bisa mengontrol emosi. “mianhae, Key-ya~” tambahku.

“ssh~” Key mendesah saat dia mencoba meluruskan kakinya, “ah, apha~” erangnya lagi.

“apa sesakit itu? Boleh aku lihat—ya ampun, tak boleh! Oh, kepalaku~” aku hilang akal dan tak tahu harus berbuat apa. Apa tadi aku bilang? ‘boleh aku lihat’?? Kurasa otakku sudah rusak.

“lihat saja”

Aku tak akan percaya itu suara Key kalau tak melihat gerak bibirnya.

Apa dia bilang?? Lihat saja?? Dia sudah gila??

“mwo?? Kau bilang apa??”

“aku bilang, kau boleh lihat”

“kau gila??”

“ani”

“lalu kenapa kau bilang ‘boleh lihat’??”

“itu menjadi hak-ku mengizinkan siapa-siapa saja yang boleh melihat daerah sensitif-ku,” ujar Key tenang, “ara?”

Aku menatapnya tak percaya.

“kau tak bercanda?” tanyaku lagi.

Key mendengus lagi. Dan dengan cekatan, dia membuka ikat pinggang dan kancing tarik celananya.

“ya!! Jamkkan—jamkkanman!!” aku sudah menutup mataku dengan sebelah tangan. Baiklah aku masih sedikit mengintip.

“apa aku terlihat bercanda?” tanya Key kemudian.

(stuck)

= = =

Leave Comment !
Thank You 🙂

FF ㅡ Minho/Don’t push me any far (stuck)

annyeong~

ini ff ke 2 yang tadi saya bicarain di sini

ga mau banyak ngmg lagi, ini ff stuck dan sialnya saya terlanjur suka ama ceritanya tapi ga tau mau lanjutin gmna~ T^T saya kebiasaan mulai bikin ff dari adegan apa yg saya penginin ada d ff itu sih, bukan bikin alur ama plot nya dulu =_=~ ini ff ceritanya kepotong gitu di tgh2, jadi rada gaje. mudah2an rider ngerti yee maksut nya ini cerita apa

sekali lagi, ini ff stuck, dan saya ga tau bakal bisa lanjutin ato nggak. dimohon kritik dan sarannya. kalo uda baca harap komen mengenai ini ff yang ga seberapa. gomawo~~ *bow*

oh beneran deh saya suka ceritanya

-Taemznuna-

= FF =

Title: Don’t push me any far

Status: stuck

Rating: PG

Main Cast: (someone) & SHINee Minho

= = =

-Someone PoV-

Minho menatapku lekat.

“aku pulang, ya” ujarnya. Aku mengangguk meng-iya-kan.

Minho tak bergeming. Dia masih terus menatapku.

Minho pov—

Apa aku tak bisa mengecupnya sekali saja sebagai salam perpisahan untuk hari ini?

Aku ingin sekali. Rasanya benar-benar ingin turun dari motor ini dan melangkah ke arahnya. Ciuman singkat di pipi pasti sudah akan membuatku puas. Sayang, pasti dia tak akan mau. Tapi kenapa bibirku ini rasanya seperti ingin mencium sesuatu? Baiklah, udara kosong mungkin sudah cukup.

 -Someone PoV-

“muah”

Minho memajukan bibirnya seolah-olah mengecup udara. Setelah itu dipasangnya helm-nya dan pergi.

Aku menghembuskan napas berat.

Sebenarnya hatiku tergerak untuk memberinya sedikit kecupan, benar-benar ingin. Tapi itu tak boleh.

 -Someone PoV-

“kau tahu ‘kan, kalau wanita itu memiliki nafsu Sembilan kali lebih banyak dari pria?” tanyaku padanya.

“yeah, aku tahu.”

“jangan pancing kalau begitu” ujarku singkat.

“apa kau juga merasakannya?”

“merasakan apa?” tanyaku meyakinkan.

Minho memperbaiki posisi duduknya. Dia membersihkan tenggorokannya.

“kau tahu,” katanya, dia tampak sedikit tidak nyaman dengan pembicaraan ini, “saat kita bersama—kita sedang berdua, maksudku, entah kenapa rasa ingin menyentuhmu begitu besar.” Minho membersihkan tenggorokannya lagi, “yah, rasa seperti itu maksudku.” tambahnya dengan sedikit canggung.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“tentu saja ada. Nafsuku Sembilan kali lebih besar dari nafsumu, ingat?”

Minho mendelik padaku.

“itu berarti kau Sembilan kali lebih ingin menyentuhku?”

“emm..” aku berpikir sebentar, mencari kata yang cocok, “mungkin tidak sembilan, tapi ya, sepertinya yang aku rasakan lebih besar daripada yang kaurasakan.”

Minho memperbaiki posisinya lagi dengan canggung.

“kenapa tak kita coba saja, kalau begitu?” tanyanya sedikit ragu.

“coba apa?”

Minho tampak sedang merangkai kata untuk dikatakan selanjutnya.

“mencoba melakukan hal yang lebih dalam, ciuman misalnya?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

Aku tertawa ringan.

“apa kau yakin kau bisa menahannya agar tak terseret ke tahap selanjutnya?” tanyaku.

Minho mengangkat bahunya.

“kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu—“

“kalau kau tanya pertanyaan itu padaku, jawabanku adalah: aku tak bisa,” potongku, minho tampak sedikit terkejut dengan perkataanku. “mengerti? Aku tak bisa melawannya. Jadi, daripada aku terlanjur meneruskannya, lebih baik kita tak memulainya sama sekali. Setuju?”

Minho menggeleng tidak yakin.

“dengar, kalau kita membatasi diri mungkin kita bisa—“

“ya ampun, minho! Nafsuku Sembilan!” aku memotong kalimatnya lagi. Nadaku meninggi, aku tahu itu, “aku bisa saja sekarang menerjangmu dan melumat habis bibirmu itu, kalau aku mau. Kau tak pernah tahu bahwa bibirmu benar-benar menggoda di mataku! Aku selalu mengira-ngira bagaimana rasa bibirmu, apakah kenyal, sedikit basah atau apa! Kau tak pernah tahu betapa aku susah menahan perasaan itu. Dan rahangmu—ya ampun!” aku berhenti sebentar untuk menunduk. Susah payah aku menahan emosiku, menahan mulutku untuk tidak mengatakan semua yang aku pikirkan tentangnya. Aku menghembuskan napas panjang dan menatapnya lagi.  Saat bicara, nada suaraku yang tinggi sudah jauh berkurang, “kalau aku teruskan, kau akan terkejut karena mengetahui bahwa otakku ternyata sedemikian kotor. Dan aku tak mau itu terjadi.”

Minho tersenyum sambil menatapku.

“aku senang kau jujur,” katanya, “sedikit terkejut sebenarnya, mengenai pikiranmu terhadapku—kau benar ingin melumat habis bibirku?” minho tampak kehabisan kata-kata dan jelas kali terlihat di wajahnya kalau dia sedikit tak percaya dengan yang aku katakan. Minho mencoba menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan cepat, sebentar kemudian dia menggeleng kecil sambil tersenyum, seperti sedang menertawakan sesuatu yang lucu dalam kepalanya. “kau tahu? Sedikitnya, aku juga berpikiran sama tentangmu. Apa kau mau mendengarnya?” tambahnya lagi.

“tidak,” ujarku tegas sambil mengangkat sebelah tanganku, “beberapa pikiran kotor sudah lumayan mengisi otakku, aku tak mau menambahnya lagi. Terima kasih”

Minho tertawa makin keras begitu mendengar jawabanku.

“bisa kita lanjutkan belajarnya?” tanyaku setengah memaksa.

Minho mengangkat bahu. Sambil tersenyum dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap meja lagi.

“aku tak bisa mengalahkanmu untuk urusan seperti ini,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Aku hanya mendengus pelan. Menit-menit berikutnya, kami terlalu sibuk untuk bicara.

(stuck)

= = =

FF ㅡ Minho/Bite Me (stuck)

annyeong~~~

another stuck ff to publish.. ==

ini ceritanya uda lama ada d lptp saya, tapi baru keinget nya sekarang. dan berhub u/ bulan ini saya dikit nge-pablis ff, jadi nya saya pablis yang ini aja.. itung2 ngisi blog *elahhh~ ==”

ini ff masi stuck dan saya juga belum ada ide buat nyambungin nya. jujur sih belum ada niatan buat nerusin, tapi saya lumayan suka ide ceritanya sih, gmn dong? #autorgalau

mungkin waktu ntu saya lagi kesemsem ama abang mino kali ya, jadi nya saya bikin nya 2 ff yang ceritanya beda sangat. tadinya saya bingung apa 2 2 nya di pablis dalam post-an yg sama ato dibedain. akirnya setelah mikir dikit saya putusin d pablis nya dlm 2 post berbeda aja biar seru 😀 padahal kalo mau jujur nih, ntu ff 2 2 nya panjangnya ga nyampe 3 hlm word wkwkwk~ saya nge-galau sih jadinya d pablis aja 2 2 nya. kaga ade yang protes gini :p

mengenai ff yang ini, mungkin rider rada bingung ngebacanya soal nya ntar nya rider bakal nemuin kata2 ‘versi 1’ ama ‘versi 2’. itu maksutnya gini rider, saya kan bikin cerita noh, trus entah kenapa saya punya 2 cerita berbeda sbg sambungannya, jadi nya saya bikin 2 versi.. versi yg 1 cerita nya begini, versi yg 2 cerita nya begitu (apaan begini begitu yak?) pokoknya gtu deh. entar kalo uda dibaca, trus dikomen pada lbh suka versi yg mana yaa. mana tau saya jadi semangat lanjutin :p

okeh dah, kebanyakan ngomong sayanya.

eh iya 1 lagi, spt nya rate nya ini ff PG deh.. jadi yg belum cukup umur, panggil dulu orang tua nya sblm baca ini ff, okeey? 😉 /plakk

happy reading~ 🙂

-Taemznuna-

= FF =

Title: Bite Me

Status: stuck

Rating: PG

Main Cast: SHINee Minho (other casts are fake)

= = =

-Minho PoV-

Dia menatapku lama sebelum berkata, “aku ingin menggigitmu.”

Aku tersenyum simpul padanya.

“gigit saja.” kataku pura-pura tak acuh.

Dia tersenyum malu-malu mendengar pernyataanku. Aku jadi tak tahan untuk menjewer hidungnya yang merah. Dia menutup matanya sebentar karena kegelian dan kemudian memandangku lurus.

“aku benar-benar ingin menggigitmu, choi minho. Aku serius.”

Aku membulatkan bibirku, pura-pura berpikir. Detik berikutnya aku membalas tatapannya.

“gigit aku.” Ujarku singkat.

Dia tak berbuat apapun setelahnya, hanya menatapku dalam diam. Pandangannya menusuk pupilku, membuat dadaku makin bergemuruh karena bening matanya. Lingkaran hitam di sekitar matanya menggoda tanganku untuk menyentuh bagian itu dan mengecupnya. Aku kemudian menelusuri bagian wajahnya dengan bibirku. Aku tahu dia menutup matanya, merasakan tiap gesekan bibirku dengan permukaan kulitnya.

Aku berhenti di depan telinganya, menghirup napasku dalam-dalam dan berbisik, “gigitlah,”

Dia tak bergeming. Aku tersenyum puas.

“ayo gigit aku,” tantangku.

“jangan goda aku, choi minho,” ujarnya pelan.

Aku mengecup cuping telinganya.

“aku tercipta untuk menggodamu,” bisikku halus, “sekarang gigitlah aku. Jebal.”

Versi1:

Dia masih diam, tak merespon setiap kecupan yang kulayangkan ke tulang rawan telinganya.

“atau aku saja yang menggigitmu?” tawarku.

Suara dengusan pelan terdengar menyusul pertanyaanku barusan. Dengusan pelan yang terdengar meremehkan.

“kalau tak salah dari tadi kau sudah mencoba menajamkan gigi-gigimu dengan menggigit telingaku. Benar begitu, minho ssi?” katanya sambil memaksa wajahku untuk menghadapnya. Jarinya yang lembut dan dingin menyusuri kulit wajahku, mulai dari pelipis sampai pangkal rahangku. Sekali lagi kami beradu pandang.

“kau begitu.. sempurna untuk disia-siakan. Aku tak tega menggigitmu. Tak akan pernah tega. Kulit ini..,” dia berhenti untuk merapa pipiku dengan jempolnya, “begitu halus untuk ukuran manusia.” Dia berhenti sebentar, kembali meneliti wajahku dengan mata tajamnya yang lembut itu. “Aku selalu mencoba lebih keras untuk meyakinkan diriku bahwa kau bukanlah salah satu dari kami.

“buktikan bahwa aku manusia, kalau begitu. Gigitlah aku.”

Aku menatapnya dalam. Mencoba membulatkan setiap kata yang aku keluarkan agar terlihat benar-benar yakin. Sumpah, aku rela memberikan apapun untuk wanita ini. Bahkan darahku.

Versi2:

Bibir hangatnya yang kemudian aku rasakan di pangkal rahangku, dekat dengan telingaku. Aku menutup mata saat giginya menyentuh sedikit kulitku dan mulai menjepitnya. Dia tak terlalu kuat menggigit, hanya menjepit sedikit kulitku dan segera melepaskannya.

Dia mendorongku pelan agar bisa menatap wajahku.

“aku ingin menggigit hidungmu sebenarnya, atau bibirmu, atau lidahmu,” dia berhenti sebentar sebelum melanjutkannya, “atau lehermu, jika diperbolehkan.” Dia melirik leherku, hanya sepersekian detik dan kemudian menatap mataku lagi.

Aku mengecup bibirnya pelan.

“kau terlalu banyak minta,” ujarku sambil menyentil pelan hidungnya.

Dia memberengut manja. Aku tersenyum melihatnya.

“gigit semuanya, bagian apapun yang kau mau,” kataku kemudian. Senyumnya langsung mengembang.

“lidahmu saja,” ujarnya singkat. Aku tertawa mendengarnya. Pancingan yang aneh.

Aku menempelkan bibirku di bibirnya dan mengeluarkan lidahku di dalam mulutnya. Dia tak menggigitnya, hanya membalas menekan bibirku dengan bibir merahnya.

 (stuck)

===