Tag Archive | Super Junior

FF – 7 Years of Love (2/2)

annyeong lagi~^^

okeh, saya sadar nge-post 7 years of love ny antara part 1 ama 2 cuma beda beberapa menit.. 사실, nh ff jga uda komplit dari sono ny, berhub saya bru ngebuat nh blog plus masi blum ada isi ny, maka ny lgsg d post aja. biar sekalian rame gitu.. kikiki *nyengir kuda*

oke, baca aja dh klnjutan cerita Yesung-Byora 🙂

= 7 YEARS OF LOVE =

Length : 2 shots

Episode : 2 of 2 (end)

Main cast :

  • Super Junior Yesung
  • Park Byora (someone)

Genre : Romance

= = =

“setelah pulang kerja kita pergi?”, tanya jaeseo pada kami.

“terserah. Tapi aku pulang dulu sebentar, aku harus menyerahkan barang yang kupinjam dari temanku setelah itu, jadi aku mengambilnya dulu di rumah”, kata minje.

“taesan onni, kau ikut, ‘kan?”, kataku. Taesan onni menggeleng.

“mian, sepertinya tak bisa. Aku belum menyiapkan makan malam untuk anak-anakku. Lain kali mungkin aku bisa ikut”, jawabnya.

“bagaimana kalau sebelum itu kita mampir dulu ke mini market? Ada bagusnya kita membeli kue-kue kecil dulu di sana”, saran hyerim.

“bagus juga idemu”, kata jaeseo, menjentikkan tangannya pada hyerim.

“bagaimana dengan yeonha onni, mungi onni dan saera onni? Apa mereka ikut?”, tanyaku sambil menggaruk hidungku yang gatal.

“ne, aku sudah menelpon mereka. Dan mereka bilang oke”, jawab jaeseo, “sayang sekali eunji dan geumji tak bisa datang”, tambahnya.

“hh..”, keluh minje, “mereka itu kembar yang aneh. Sakit pun bersamaan”

“lho? Bukannya sudah biasa orang kembar sakit bersamaan?” tanya taesan onni. Minje mengangkat alisnya.

“oh, iya ya? Aku asal bicara saja sih sebenarnya”, kata minje sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aku nyengir melihatnya.

Kami sedang berkumpul di ruangan penata rias. Orang-orang yang kusebut di atas juga mempunyai jabatan yang sama denganku, bekerja sebagai penata rias permanen Super Junior. Kami sedang membicarakan rencana untuk pergi karaoke setelah jam kerja ini.

“menurutmu aku lebih cocok memakai warna pink atau orange?”, tanya minje padaku. Dia mengangkat dua lipstick yang berbeda warna di kedua tangannya. Dia memang sering bertanya tentang kosmetik yang cocok untuknya padaku. Kami cukup dekat, mungkin karena umur kami sama dan meja kerja kami bersebelahan.

“pink” kataku.

Tiba-tiba pintu ruangan menjeblak terbuka dan seorang pria berkemeja masuk ke dalam ruangan.

“annyeonghaseyo, yorobun..”, ujar pria itu. Kami menjawab sekedarnya.

“aku hanya menyampaikan info singkat. Ini berhubungan dengan penata rias yang ikut pergi ke Jepang selama konser KRY. Ini surat keputusannya.”, dia menyerahkan selembar amplop pada taesan onni selaku ketua penata rias kami. “baiklah, aku buru-buru. Kalau ada yang mau ditanyakan silakan datang ke kantorku. Annyeonghaseyo”, dia langsung pergi.

“dasar sok sibuk”, bisik minje. Aku melirik padanya dan tersenyum.

“baiklah, akan aku bacakan”, taesan onni membesarkan suaranya. Dia sudah membuka isi amplop itu. Kami langsung menoleh padanya. “berdasarkan rapat perundingan.. blablabla..selama penyelenggaraan konser Syupo..blablabla..maka kami memutuskan bahwa penata rias yang dipercaya mendampingi Super Junior KRY untuk penyelenggaraan konser mereka adalah..” taesan onni berhenti sebentar untuk menatap kami, lalu dilanjutkannya lagi, “Lee Minje, Gu Hyerim, Baek Yeonha, Yu Mungi dan Ahn Saera. Kami harapkan penata rias yang namanya disebut di atas dapat bekerja dengan sebaik-baiknya selama berada di Jepang dan kami juga berharap bagi penata rias yang tinggal dapat bekerja lebih baik lagi.”, taesan onni menurunkan kertas itu dan menatap kami semua. Tangan jaeseo terulur untuk mengambil surat itu dari tangan taesan onni.

“kau tak ikut?”, kata minje, menolehkan kepalanya menghadapku dengan pandangan tak percaya. Aku menatapnya sambil merebahkan kepalaku di punggung kursi. Aku pun masih belum percaya.

“aku tak tahu”, aku menggeleng.

“beritahu saera, yeonha dan mungi”, kata taesan onni pada jaeseo.

Aku termenung. Kenapa namaku tak dimasukkan dalam daftar? Apa kinerjaku menurun? Nama taesan onni tidak masuk tentu saja perusahaan mengkhawatirkan anak-anaknya yang ditinggal di korea jika dia pergi. Biasanya aku dipercaya jika ada acara penting. Apa benar kemampuanku merias sudah tidak memenuhi keinginan mereka lagi?

Pikiranku berkecamuk. Aku terus termenung sampai minje menepuk pundakku.

“sudah jam makan siang. Ayo”, katanya. Dari wajahnya tampak kalau dia prihatin melihatku. Aku mengangguk dan beranjak dari kursi. Tapi pikiranku masih penuh.

***

Tanganku sibuk merias wajah ryeowook. Super Junior akan menampilkan live performance di salah satu chart musik. Ruangan rias terasa sibuk karena seluruh member Super Junior, enam penata rias dan tujuh penata rambut ada di dalamnya. Belum lagi kameraman yang meliput member yang sudah siap dirias. Dan beberapa staff wanita yang masuk ke dalam ruangan hanya untuk menambah hiruk pikuk suasana.

“kyuhyun-ah. Berhenti dulu main game. Make-up mu jadi tak rata!”, ujar jaeseo kesal di sebelahku.

“sebentar. Musuhku hampir kalah”, kata kyuhyun. Aku melirik laptopnya dan menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum.

“kau tak berniat memotong rambutmu, ryeowookie? Bukankah sudah cukup panjang?”, aku berkata pada ryeowook yang sedang mengutak-atik handphone-nya. Dia langsung memandang wajahnya di cermin.

“apa iya?”, katanya, memegang ujung rambutnya. “apa terlihat jelek?”, tanyanya padaku.

“ani”, kataku, “modelnya sudah bagus, hanya saja kalau ponimu kepanjangan kau tak bisa melihat fans-mu dengan benar dipanggung”. Ryeowook nyengir mendengar perkataanku.

“nuna ini bisa saja”, katanya.

“sudah level berapa?”

Sebuah suara yang datang dari sampingku membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Jongwoon berdiri di sebelahku, memperhatikan kyuhyun yang sedang bermain game. Saat aku melihatnya, dia melirik ke arahku.

Deg.

Aku mengalihkan pandanganku lagi ke wajah ryeowook. Diam-diam menghembuskan napas panjang.

“ah, hyung” jawab kyuhyun, tak mengalihkan pandangannya dari monitor. Dia masih sibuk bermain.

“sudah” ujarku pada ryeowook.

“gamsahamnida~”, katanya sambil beranjak dari kursi, membawa serta dua handphone yang diletakkannya di meja rias. “sungmin hyung! Berfoto yuk!”

“ryeowook-ah! Sini dulu! Rambutmu belum ditata”, aku mendengar suara jihwang, salah seorang penata rambut, berujar tiga kursi di sebelah kananku.

Jongwoon duduk di kursi ryeowook. Aku memberinya bando agar dipakainya. Poninya sudah panjang dan pasti sangat menggangguku meriasnya jika tetap dibiarkan tergerai. Dia memakainya dan menutup matanya.

“aku benci memakai bando”, katanya.

Aku yang sudah mulai memolesi wajahnya tersenyum.

“apalagi di depanmu”, tambahnya. Gerakan tanganku yang sedang memolesi alas bedak di hidungnya berhenti. Sedetik kemudian, aku meratakan lagi alas bedak di hidungnya dengan keras, yah, bisa dibilang mencubit hidungnya.

“jangan menggodaku”, kataku. Kulihat bibirnya berkerut-kerut karena menahan senyum. Aku melanjutkan pekerjaanku. “jadi minggu depan kau pergi ke Jepang?” tanyaku. Alisnya berkerut.

“maksudmu? Kau tak ikut?”, katanya.

“namaku tak ada di surat keputusan” kataku, membalikkan badan untuk mengambil eye-liner di meja, “jadi, yah, aku tak ikut” kataku, menghadapnya lagi. Dia sudah membuka matanya dan sedang menatapku. “jangan buka matamu. Aku sudah ingin memberi eye-liner”, kataku padanya.

“tak perlu kututup”, katanya. Tatapannya menusuk sekali. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“kalau tak kau tutup nanti matamu berair” kataku. Jantungku sudah berdetak cepat lagi.

“akan lebih berair lagi kalau aku tak puas memandangmu sekarang”

Deg!

Aduh! Kenapa sih, jantungku ini?

Aku memandangnya dan menggigit bibir. Aku lalu menghembuskan napas dan berbisik, “nappeun”

Dia tersenyum lebar, menampakkan gigi putihnya dan matanya makin menyipit. Dia menutup matanya lagi, membiarkanku bekerja.

Aku mengambil pelembab bibir di atas meja dan menarik dagunya ke bawah agar bisa memoleskan pelembab bibir dengan rata di bibirnya. Matanya tiba-tiba terbuka. Pandanganku beralih dari bibirnya, matanya, lalu bibirnya lagi. Aku mulai memoleskan pelembab di bibirnya. Wajah kami dekat. Dari sudut mataku, aku merasakan pandangan matanya yang menusuk menatap wajahku. Grogi, pelembab bibir yang aku oleskan jadi melenceng jauh dari bibirnya. Aku berdecak sedikit dan menghapus pelembab bibir yang keluar jalur itu dengan tanganku.

“hehe”

Aku memandangnya kesal, “kenapa kau tertawa?” tanyaku.

Bibirnya berkerut lagi karena menahan senyum. Dia menggeleng, masih tersenyum.

“sudah” kataku.

Dia melepas bandonya.

“gomawo” katanya, kemudian pergi.

Aku melihat ke sekeliling. “sudah semua?”, aku keraskan suaraku agar terdengar. Ternyata yang mendengar hanya shindong yang sedang duduk di lantai. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

“ye! ye!”, dia memandangku saat mengatakannya. Aku mengangguk.

Aku menyusun perlengkapanku di kotak rias.

“super junior?”, sebuah suara berat memanggil dari pintu. Pria berbadan besar dan berseragam melihat seisi ruangan yang ramai. Dia salah satu staff.

“ye!”, jawab leeteuk oppa sambil beranjak dari sofa. Super Junior langsung bersiap-siap. Sebelum keluar ruangan, beberapa dari mereka ada yang mematut diri di cermin dan memperbaiki baju mereka, sebagian yang lain berujar “phaiting!” lebih kepada dirinya sendiri. Beberapa penata rambut memperbaiki rambut mereka sambil mengikuti mereka yang sedang berjalan. Aku bersandar di meja rias dan memperhatikan mereka. Jongwoon berjalan melewatiku.

“neo gatheun saram tto eobseo~”, dia bersenandung, melirikku. Aku terdiam, menatap kosong dinding di seberangku. Jantungku berdetak cepat.

Setelah keadaan sepi dan yang tinggal hanya beberapa penata rias dan penata rambut, aku mengambil napas panjang dan menunduk.

“jongwoon..”

***

Aku membuka pintu kamar apartemenku dan menghidupkan lampu-lampunya. Apartemenku kecil, bukan termasuk yang mewah, tapi paling tidak aku merasa nyaman berada di sini.

Aku meletakkan handphone-ku di atas meja dan segera mandi. Badanku sudah lengket. Seharian aku berada di luar.

Siraman air hangat membasahi tubuhku, membangunkan sel-sel yang kelelahan.

Rasanya segar sekali sehabis mandi. Aku menghampiri handphone-ku. Ada satu sms masuk. Terkirim sepuluh menit yang lalu. Aku membukanya.

 

sudah tidur?

 

Anonim. Aku membalasnya.

Nuguya?

 

Aku merebahkan diri di kasur. Sebentar kemudian handphone-ku bergetar. Sms balasan.

Jongwoon

 

Jantungku langsung berdegup kencang. Jariku cepat sekali mengetik.

Belum tidur.

Tau dari mana no ku?

 

Aku tak sabar menunggu jawabannya. Aku jadi mondar-mandir sendiri. Handphone-ku bergetar lagi. Cepat-cepat kubuka.

Aku di depan kamarmu

 

Jantungku seperti mau keluar. Setengah berlari aku menuju ke pintu depan. Sebelum membuka pintu, aku melihat diriku di cermin yang ada di dinding. Tak ada yang salah. Aku membuka pintu. Benar dia di sana.

“sudah lama?” tanyaku. Dia hanya menatapku.

“aku ingin melihatmu” katanya, tatapannya tajam sekali. Aku jadi salah tingkah.

“besok kau berangkat ke Jepang, ‘kan?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk dan tetap menatapku.

“ma-masuk dulu”, kataku. Kegrogianku membuat kata-kata yang keluar dari mulutku jadi tidak lancar. Dasar byora pabo!

“ani. Aku hanya ingin melihatmu. Aku akan pulang. Annyeong”, dia segera pergi. Aku bingung.

“mainlah kapan-kapan!”, ujarku padanya sebelum dia semakin menjauh. Dia berhenti dan membalikkan badannya.

“tunggu saja”, katanya sambil tersenyum. Dia berjalan lagi.

Aku tersenyum dan menutup pintu kamar. Senyumku masih belum hilang saat aku sampai di kasur dan langsung meraih handphone-ku. Aku ingin melihat sms-nya yang tadi sekaligus menyimpan nomornya. Aku merebahkan diri di kasur dan membuka handphone-ku. Ada satu sms masuk lagi.

Jalja

 

Aku tersenyum. Sepertinya mimpiku akan indah malam ini.

~flashback~

Aku melepas genggaman tangannya dan tersenyum padanya.

“gomawo telah mengantarku pulang” kataku, “annyeong”. Dia tersenyum. Aku membalikkan badan.

“byora-ya”, dia memanggilku. Aku membalikkan badanku lagi.

“hm?”

Dia berdehem.

“coba tutup matamu sebentar” katanya. Aku menatapnya dan menutup mataku.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat dibibirku. Aku membuka mata. Dia sedang menciumku. Matanya tertutup. Aku menutup mataku lagi.

Sesaat kemudian, aku tak merasakan lagi bibirnya. Aku membuka mata. Dia menunduk dan mundur satu langkah.

“jongwoon-ssi..” ujarku. Dia mengangkat kepalanya. Wajahnya yang terkena sinar lampu jalanan tampak memerah.

“masuklah”, katanya.

Aku tersenyum dan membalik badan lagi.

“byora-ya”

Aku menoleh ke belakang. Angin yang berdesir menerbangkan pelan rambutku.

“saranghaeyo”

~flashback end~

Aku terbangun karena bunyi alarm handphone-ku. Aku mematikannya. Kupandang langit-langit apartemen. Termenung memikirkan mimpiku barusan, saat dia pertama kali menciumku, tepatnya delapan tahun yang lalu. Aku tersenyum memikirkannya.

***

Teriakan-teriakan histeris sayup-sayup terdengar. Dan beberapa suara yang kukenal bergaung.

“yak! Bagaimana kalau kita keluar untuk melihat penampilan mereka?”, minje berkata dengan muka berseri.

Kami, para penata rias, berkumpul di ruangan rias yang cukup luas. Konser Super Junior Super Show 3 sedang dilaksanakan. Ini konser pertama mereka, dan diadakan di negara kami.

“bukannya kita disuruh menunggu di sini?” tanya saera onni. Beberapa dari kami mengangguk mengiyakan.

“kan sudah lagu terakhir..” kata jaeseo, memandang harap pada taesan onni.

“aku ingin lihat” gumam hyerim tak jelas.

“kami juga”, eunji dan geumji menjawab bersamaan. Aku melirik taesan onni. Taesan onni menghembuskan napas panjang.

“ya sudah, pergilah” katanya setelah itu. Minje, hyerim, eunji-geumji dan aku segera beranjak dari kursi. “tapi jangan lama-lama! Aku yang susah mencari kalian nanti” tambah taesan onni.

“jangan khawatir, onni..” kata minje sambil tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar. Si kembar dan hyerim mengikuti di belakangnya.

“jaeseo-ssi, kau tak ikut?” kataku pada jaeseo yang berada di sudut ruangan, handphone-nya di kupingnya. Dia menoleh padaku dan melambaikan tangan, lalu melanjutkan obrolannya di telpon. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sudah pasti dia sedang berbicara dengan pacar—yang katanya—tercintanya.

Gemuruh teriakan memekakkan telinga saat aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam stadion. Konser sudah mau selesai. Super Junior mulai bertingkah yang aneh-aneh di atas panggung. Biasanya eunhyuk menyebutnya sebagai ‘fans service’. Aku hanya mengangguk-angguk saat dia berkata begitu.

Aku memandang mereka dengan takjub. Mereka yang seperti manusia biasa di belakang panggung dan mengobrol denganku, sekarang berada di sana, dipuja-puja oleh ribuan orang yang hadir di sini. Nama-nama mereka terdengar dari berbagai penjuru, bersahut-sahutan, diteriaki oleh ratusan orang. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh stadion. Lautan light-stick biru yang terlihat. Beberapa wajah yang tertangkap mataku sedang menangis, bersimbah air mata. Seketika aku merinding. Begitu dicintainya mereka.

“URI SYUPEO JUNI~~”

“EO-EYO!!!”

Aku melihat lagi ke arah panggung. Konser sudah selesai. Super Junior memberi penghormatan terakhir dengan membungkuk dalam-dalam dan saling berpegangan. Hanya sosoknya yang terlihat di mataku. Jongwoon. Aku tersenyum melihatnya.

“gamsahamnida~”, leeteuk oppa membungkuk berkali-kali. Diikuti beberapa member lain.

“elphu~”, eunhyuk berkata sambil berjalan masuk ke belakang panggung. Ratusan orang berteriak histeris.

“saranghaeyo!”, jongwoon melambai ke penjuru stadion.

Aku terdiam. Kenangan-kenangan yang telah lalu meluncur di otakku.

 “byora-ya”

Aku menoleh ke belakang. Angin yang berdesir menerbangkan pelan rambutku.

“saranghaeyo”

 

Tiba-tiba aku tersadar. Aku bukan siapa-siapa. Jongwoon. Dia bukan milikku, tapi milik mereka. Mereka yang hadir di sini, dan puluhanribu lain di tempat yang berbeda. Dia tak lagi orang yang kukenal dulu. Dia yesung, bukan jongwoon. Dia ada untuk mereka. Mereka mencintainya, dan cintanya hanya untuk mereka. Cintanya bukan untukku.

Jantungku sakit memikirkan ini. Mataku terpaku ke lantai.

Aku bukan siapa-siapa.

“byora-ya! Ayo masuk! taesan onni sudah menelpon—kau kenapa??”, minje memegang bahuku. Aku menoleh padanya.

“kenapa aku?” ujarku dengan suara lemah. Tangan minje terulur ke wajahku. Jarinya menyentuh pipiku.

“ini..” katanya, “kau menangis?”

Aku meraba pipiku.

Basah.

“oh, ani. Aku hanya terbawa suasana” kataku sambil menghapus airmataku. Minje menatapku curiga.

“kau ini benar-benar aneh”, minje melangkah mendahuluiku, “yak kembar! Kajja!”

Aku berjalan mengikuti mereka. Seluruh badanku terasa kebas.

***

Aku menghindarinya. Jelas sekali aku menghindarinya. Semenjak konser waktu itu, aku tak mau bertatapan dengannya. Aku tak mau jatuh lebih jauh lagi dengan perasaanku. Aku tak mau rasa ini berkembang. Sudah cukup tujuh tahun. Aku tak mau menambah lagi.

Sudah tiga minggu sejak Super Junior Super Show 3 berakhir. Selama itu, aku tak pernah memandang wajahnya dengan benar. Pandanganku kualihkan ke tempat lain. Sejak saat itu tak pernah sekalipun aku meriasnya, atau berbicara dengannya. Di minggu-minggu pertama aku mengacuhkannya, beberapa kali dia mengirimiku pesan, bertanya kenapa sikapku berubah padanya, dan itu tak pernah aku balas. Setelahnya, dia tak pernah lagi mengirim pesan. Menambah kuat keyakinanku bahwa cintanya bukan untukku.

Aku duduk di meja kerjaku. Waktu pulang kerja sudah dua jam yang lalu. Aku tinggal sendiri di ruangan ini, teman-temanku sudah pulang daritadi. Aku beralih masih ada tugas yang harus diselesaikan saat mereka mengajakku pulang tadi.

Aku mengambil handphone-ku yang tergeletak di atas meja. Membuka inbox pesanku dan menemukan sebuah pesan yang terkirim empat jam yang lalu. Aku membukanya.

Aku menunggumu jam 7 malam di atap. Jangan menghindariku lagi

 

Dikirim oleh jongwoon. Tidak, maksudku, dikirim oleh yesung.

Aku melihat jam tanganku. Kurang sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Aku mengambil tasku dan melangkahkan kaki ke luar ruangan. Ini yang terakhir, batinku, meyakinkan diri.

Hembusan angin malam menerpa rambutku saat aku membuka pintu yang menuju ke atap. Aku melihatnya di sana, membelakangiku, melihat berjuta lampu di bawah. Aku melangkah mendekatinya. Bunyi suara sepatuku membuatnya membalikkan badan dan menoleh kepadaku. Ekspresi wajahnya tak menyiratkan apapun. Aku berhenti dua meter di depannya. Angin menerbangkan rambutku. Kami saling bertatapan.

“kau datang”, dia mulai bicara, “akhirnya..”

Aku tetap diam, melihatnya. Dia menghembuskan napas berat dan melihat lantai dibawah kakinya.

“apa aku menyakitimu dua kali?”, dia mengangkat kepalanya, menatapku lagi. Jantungku sakit. Aku menutup mata dan menggeleng. Hembusan napasnya terdengar lagi. Diam beberapa saat.

“lalu?”

Aku menikmati suaranya. Menanamkan suara merdunya itu di memori otakku. Mataku yang tertutup menambah ketajaman indra pendengarku. Aku tetap diam. Hanya terdengar suara angin setelah itu.

“byora-ya..”, suaranya terdengar pedih. Aku membuka mata. Menghirup udara dalam-dalam.

“aku hanya tak ingin bertemu denganmu” kataku akhirnya, menatapnya tajam. Jantungku sesak dan seperti ada yang mencekat kerongkonganku. Jangan menangis, batinku.

Ada perubahan di wajahnya saat aku mengatakan itu. Sorot kesedihan. Kerongkonganku makin tercekat. Aku bernapas dalam untuk menenangkan diri.

“apa kau begitu membenciku?” ujarnya lagi. Cahaya redup di sini, tapi aku dapat melihat matanya berkaca-kaca. Jantungku pedih.

“ani”, aku menggeleng. Kututup mataku. Kenapa airmata ini mendesak keluar? Aku menatapnya lagi, “saranghae”

Angin berhembus. Suara angin yang lembut terdengar di telingaku.

“kenapa kau menghidariku kalau begitu?”, dia melangkah mendekat dan berhenti satu langkah di depanku, “teruslah mencintaiku”

Aku tak tahan lagi. Airmataku jatuh lebih dulu sebelum aku bisa mencegahnya.

“UNTUK APA?? UNTUK APA AKU TERUSKAN?? MENGHARAPKAN APA AKU?? CINTAMU???”, suaraku bergema. Airmataku sudah membanjir, membasahi pipi dan bibirku. “sampai kapanpun aku tak akan mendapatkannya! Aku sadar akan posisiku!!”

Seperti gerakan lambat saat dia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibirku. Tangannya menekan tengkukku agar bibirku tetap berada di bibirnya. Bibirnya terasa hangat, tapi menyakitkan. Aku tak bisa menggerakkan kepalaku. Hidungku tersumbat, aku membuka mulut untuk mengambil napas dan saat itulah dia menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku mendorongnya. Batinku sebenarnya menolak, menginginkan sesuatu yang lebih jauh, tapi ini harus segera dihentikan.

Tubuhnya menjauh dariku karena doronganku, tak lagi menempel seperti tadi. Kedua tanganku berada di depan dadanya, menjaga agar tubuh kami tetap berjarak. Aku menunduk, tak berani menatap wajahnya.

“jangan mempermainkanku” ujarku lemah. Napasku menderu. Aku menurunkan tanganku dari dadanya.

“kau yang mempermainkan hatiku” ujarnya. Salah satu tangannya memegang daguku, memaksa wajahku melihatnya. Sorot matanya membekukanku.

“tujuh tahun..”, dia mulai berbicara, menatapku tajam, “..hanya kau”

Dia mendekatkan wajahnya lagi dan mulai menutup matanya.

 

“gamsahamnida~”, leeteuk oppa membungkuk berkali-kali. Diikuti beberapa member lain.

“elphu~”, eunhyuk berkata sambil berjalan masuk ke belakang panggung. Ratusan orang berteriak histeris.

“saranghaeyo!”, jongwoon melambai ke penjuru stadion.

 

Aku mendorongnya sekuat tenaga, tepat sebelum bibirnya menyentuh bibirku.

“CUKUP!! SUDAH CUKUP!!”, aku berteriak padanya dan segera lari. Berlari menjauhinya. Menjauhi wajahnya. Menjauhi tubuhnya dan bibirnya yang hangat.

Langkahku berdentum-dentum di lorong. Airmataku mengalir deras. Kakiku sakit karena sepatu hak tinggi. Tapi jantungku lebih sakit. Aku ingin lari dari ini semua. Aku tak tahan lagi.

***

Aku senang sudah mencapai akhir tulisan ini. Empat jam nonstop aku mengetik, agar kalian tahu bahwa aku mencintainya. Sudah cukup aku menjalani kehidupan. Sudah banyak hal yang aku pelajari dan rasakan. Kurasa itu semua sudah cukup. Ini saat untuk mengakhiri semua. Mengakhiri kehidupanku.

Dan untuk kim jongwoon jika kau membaca tulisan ini:

SARANGHAEYO

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-Author PoV-

[soundtrack: Super Junior – No Other]

 

Neo gateun saram tto eobseo

<There’s no one like you>

Juwireul dureubwado geujeo georeohdeongeol ,eodiseo channi

<Even if i look around it’s just like that, where else to look for?>

 

Yesung duduk di lantai kamarnya, bersandar pada dinding, handphone-nya di tangannya. Dia melihat layar handphone-nya dengan pandangan nanar.

@shfly3424 oppa SARANGHAE ❤ ^^

Annyeonghaseyo @shfly3424

@shfly3424 goodnight~^^

Still online oppa? @shfly3424

Oii @shfly3424 bales twit gue dong!

How are you @shfly3424 your wife is here, kkk

Saranghae saranghae saranghae saranghae @shfly3424

SUPER JUNIOR yesung @shfly3424 i put my heart only for him !!

Neo gateun saram tto eobseo @shfly3424

 

Airmata yesung jatuh. Dadanya sesak. Kabar buruk yang didengarnya tadi pagi benar-benar membuat runtuh dunianya. Byora ditemukan gantung diri di kamarnya.

Eonjena deo maneun geol haejugo shipeun nae mam neon da mollado dwae

<You don’t know this heart of mine, which always wants to do more for you>

Dia belum mengatakan apapun pada byora. Dia belum menyampaikan perasaannya pada byora. Selama tujuh tahun di pendamnya. Bahwa hanya byora yang ada dalam pikirannya, kemanapun dia pergi, dimanapun dia berada. Hanya wajah byora yang tertangkap oleh matanya.

Yesung menunduk, membiarkan airmatanya jatuh, membasahi baju yang dipakainya. Dia menggali memorinya. Memori delapan tahun yang lalu, saat byora masih menjadi kekasihnya.

~flashback~

“kita pergi kemana?” tanya byora pada jongwoon. Matanya tampak bercahaya. jongwoon menoleh padanya dan tersenyum.

“tempat yang akan kau sukai” jawab jongwoon. Byora menggenggam tangan jongwoon lebih erat.

“kau selalu penuh dengan kejutan” kata byora.

“benarkah?”, jongwoon berhenti. Langkah byora juga ikut berhenti.

“kenapa berhenti?”, tanya byora bingung. Dia melihat ke sekeliling dan tidak menemukan hal menarik.

“kita sudah sampai” kata jongwoon.

Byora mengerjap-kerjapkan matanya, dia masih bingung. Dia lalu tersenyum.

“jadi kau yakin bahwa tempat ini akan menjadi tempat yang aku sukai?” tanya byora. Jongwoon mengangguk. Mereka berpandangan dan saling mendekatkan wajah.

~flashback end~

Yesung memeluk lututnya. Tubuhnya lemas. Dia tak berhenti menangis dari tadi. Yesung kesusahan mengatur napasnya.

 

Saranghae, negeneun ojik neoppun iran geol babo gateun naegeneun jeonburaneungeol arajweo

<I love you, please know it that to me there’s only you, that i foolishly see you as my everything>

 

Dia belum mengatakan pada byora bahwa dia mencintai byora. Semua yang dia rasakan menekan dadanya sekarang.

Byora telah pergi.

Airmata yesung mengalir lebih deras. Foto byora yang diambilnya diam-diam waktu itu berada di tangannya.

“eottohke..” bisik yesung, dia menutup wajahnya, “eottohke..”

Neo gateun saram tto eobseo

<There’s no one like you>

Juwireul dureubwado geujeo georeohdeongeol ,eodiseo channi?

<Even if i look around it’s just like that, where else to look for?>

 

“byora-ya…”

= FIN =

Advertisements

FF – 7 Years of Love (1/2)

annyeong~^^

ini ff pertama saya yg uda komplit. laen ny ada, tapi masi ngegantung semua gtu kea jemuran =.=”

mungkin di ff ini ada beberapa kesalahan di sana-sini, abis ny saya malas edit si, hehe~ ^-^a

happy reading^-^

= 7 YEARS OF LOVE =

Length : 2 shots

Episode : 1 of 2

Main cast :

  • Super Junior Yesung
  • Park Byora (someone)

Genre : Romance

###

Aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan direktur. Suasana tegang dan grogi menyelimutiku. Direktur Hwang menatapku. Wajahnya tampak angkuh.

“annyeonghaseyo”, kataku canggung sambil membungkukkan badan.

Direktur Hwang mengangguk dan mempersilakan aku duduk dengan isyarat tangannya. Aku melangkah cepat dan duduk di kursi yang berada tepat di depan mejanya.

“kau Park Byora?”tanyanya, suaranya tegas.

“ne, sajangnim”aku memandangnya dengan pandangan tajam, padahal sebenarnya lututku bergetar.

Dia melepas kacamatanya dan menatapku lekat-lekat.

“kau tahu bahwa kau melamar pekerjaan ke sini TANPA melampirkan surat pengalaman bekerja?”ujarnya. Aku menelan ludah. Hatiku mulai resah. Sepertinya ini tak akan berhasil, pikirku.

“ne, sajangnim”, kataku akhirnya.

“kau tahu, PARK BYORA, bahwa ‘melampirkan surat pengalaman bekerja’ adalah salah satu syarat melamar pekerjaan di perusahaan ini?”, intonasi direktur makin tinggi. Nyaliku makin menciut.

“ne, sajangnim”. Aku menundukkan kepalaku. Benar-benar sudah pasrah. Sudah tak ada harapan sepertinya.

Direktur Hwang terdiam lama.

“baiklah, kau diterima”

Mwo??

Aku mengangkat kepalaku, menatap direktur dengan pandangan tak percaya. Dia balas menatapku.

“kau sudah mulai bekerja besok”, kata direktur Hwang sambil menulis sesuatu di sebuah kertas, “berikan ini pada sekretarisku di depan. Dia akan memberikanmu semua yang kau butuhkan untuk resmi menjadi pegawai perusahaan ini.”. Direktur menyerahkan selembar kertas itu padaku. Aku menerimanya. “selamat bergabung”, katanya lagi.

“gomapseumnida, sajangnim”, kataku, membungkuk dalam-dalam lalu bergegas pergi.

Hampir tak bisa dipercaya aku diterima. Aku kira aku akan berakhir menjadi mahasiswi biasa jurusan ekonomi, sesuai dengan yang orangtuaku inginkan jika tes wawancaraku ini tak membuahkan hasil. Aku mempercepat langkahku saat menghampiri seorang wanita muda yang di mejanya ada papan kecil yang bertuliskan ‘sekretaris’. Wanita itu tersenyum padaku.

“kau diterima?”katanya, mengambil kertas dari direktur tadi yang aku sodorkan padanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menghadap komputernya lagi.

“gomapseumnida”, kataku setengah sadar. Wanita itu menolehkan kepalanya padaku. dia tampaknya terkejut dengan jawabanku. Dia tersenyum.

“aku tak memberimu selamat” katanya setengah tertawa, alisnya yang berkerut membuatnya tampak lebih cantik, “tapi baiklah, chukhaeyo”, dia tersenyum lagi. Kertas yang aku berikan padanya tadi digoyang-goyangkannya. Dia lalu sibuk lagi dengan komputernya.

Aku memperhatikannya. Tubuhnya benar-benar bagus. Wajahnya cantik dan rambutnya pirang, panjang dan bergelombang. Kenapa dia tak jadi artis saja?

“bagaimana caramu diterima? Sepertinya kau cepat sekali di dalam”, tanya wanita itu tiba-tiba.

“a-aku tak tahu. Seingatku aku hanya menjawab ‘ne, sajangnim’ pada dua pertanyaannya dan tiba-tiba ‘kau diterima’”, ujarku, menirukan suara direktur Hwang pada dua kata terakhir. Wanita itu tertawa.

“kau lucu”, katanya. “Hwang sajangnim memang kadang-kadang aneh. Semua karyawan di sini tahu tentang itu dan kau juga harusnya tahu karena kau sudah resmi menjadi karyawan di sini”, wanita itu tersenyum sambil menyerahkan sebuah map kepadaku. Aku menerima map itu.

“ini sudah semua? Maksudku, aku sudah resmi menjadi karyawan di sini?”, tanyaku.

“tentu saja”, katanya, “datanglah besok, seperti keterangan yang ada di dalam map itu. Semuanya ada di situ. Baca baik-baik. Dan jangan terlambat. Kami sangat menghargai karyawan yang disiplin”

Aku mengangguk padanya dan tersenyum.

“gomawoyo” kataku dan membungkuk.

Langkahku ringan sekali. Aku mulai bekerja di tempat yang sudah aku incar dari tiga tahun yang lalu. Aku menimbang-nimbang apakah orangtuaku akan senang atau malah kesal karena aku mendapat pekerjaan ini. Haha, sudahlah. Yang penting, aku akan bekerja keras mulai dari sekarang. Phaiting!

———————–

Baiklah, itu ceritaku enam tahun lalu, saat aku baru diterima di perusahaan ini, perusahaan besar yang menerbitkan bintang-bintang muda yang bersinar. Waktu itu aku berumur 20 tahun. Eh? Aku belum memperkenalkan diri ya?

Aku Park Byora, lahir tanggal 2 November 1984, bekerja di perusahaan ** Entertainment <aku tak bisa menyebutkan nama perusahaannya. Aku menulis tulisan ini bukan untuk promosi, lagipula aku juga tak dibayar se-sen pun oleh perusahaan itu jika aku menyebutkan namanya> sebagai penata rias. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan besar yang sudah menerbitkan banyak artis terkenal di negaraku, Korea Selatan. Pekerjaanku ini cukup menyenangkan. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari aku melihat artis-artis populer berwajah cantik atau tampan, baik karena operasi plastik maupun yang tidak. Tapi tetap saja wajah mereka hampir sempurna.

Pada tahun ke-3 ku bekerja, aku dipercaya perusahaan untuk menjadi salah satu penata rias permanen bagi boyband baru yang mereka terbitkan tahun itu. Boyband besar yang beranggotakan dua belas orang <mungkin kalian tahu, ‘Super Junior’. Tau, ‘kan?>. Karena member boyband itu cukup banyak, penata rias permanen yang direkrut untuk mereka pun banyak. Aku sudah mengenal beberapa dari membernya saat itu. Tapi saat ini jumlah member-nya menjadi 13. Aku sendiri tak tahu rahasia apa yang ditutupi perusahaan karena berani memasang angka sial itu sebagai jumlah angka anggota boyband yang mereka terbitkan.

“byora-ya. Kau melihat kotak riasku?”, tanya temanku sesama penata rias, minje. Dia sedang mengaduk-aduk tasnya.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

“itu bukan kotak riasmu?”, tanyaku sambil menunjuk sebuah kotak rias besar di atas salah satu meja rias.

Minje melihat kotak yang aku tunjuk. Seketika mukanya mengerut.

“itu punya ‘mereka’. Maksudku punyaKU”, katanya sedikit kesal. Tentu saja ‘mereka’ yang dia maksud itu para member Super Junior.

“oh..” kataku, “molla”

Aku melanjutkan mengutak-utik handphone-ku. Kami sedang menunggu member Super Junior di ruang rias. Hari ini mereka akan menghadiri sebuah acara televisi dan kami ditunjuk sebagai penata rias mereka untuk acara itu. Yah, seperti biasa, artis selalu datang lebih lama daripada penata riasnya. Aku banyak belajar selama bekerja, dan itu salah satu pelajaran kecil yang kudapat.

“onni. Kau tahu siapa saja yang kita rias hari ini?”, tanya hyerim, penata rias lain.

Aku membuka buku agendaku dan mencari tanggal hari ini.

“leeteuk, yesung, eunhyuk, ryeowook dan kyuhyun”, jawabku sambil membaca agendaku. Di agendaku itulah aku menulis semua tugasku dan tugas kami sebagai penata rias.

“tak ada donghae oppa?”, tanya hyerim lagi.

Aku tersenyum jahil padanya. “ada, aku hanya memancingmu dengan tidak menyebutkan namanya”

“onni…”, hyerim merengek.

“kau itu maunya bertemu donghae terus. Sebenarnya niatmu bekerja di sini untuk apa, sih?”, tanya minje pada hyerim. Hyerim nyengir.

“donghae oppa..”, jawabnya dengan nada imut sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“mencariku?”, kata seseorang tiba-tiba. Donghae masuk ruangan rias diikuti dengan anggota Super Junior lain yang kami rias hari ini. Muka hyerim memerah karena malu.

“a-ani..”, kata hyerim menundukkan kepalanya.

“Cuma bertiga?”, tanya leeteuk oppa padaku.

“ne”, jawabku sambil membuka kotak rias, “karena acaranya santai jadi make-up kalian tipis saja dan tugas kami jadi tak banyak. Siapa yang mau duluan?”, tanyaku pada enam Super Junior.

“gunting batu kertas!”, kata leeteuk tiba-tiba. Kelima member Super Junior berkumpul membentuk sebuah lingkaran, kecuali kyuhyun.

“kyuhyun-ah?”, kata donghae. Semua yang ada di ruang rias melihatnya. Termasuk aku dan dua penata rias lainnya.

“hyung, aku nanti saja.”, kata kyuhyun, matanya sudah terpaku pada layar laptop-nya.

Aku melirik minje dan hyerim secara diam-diam kemudian kami tersenyum.

Leeteuk oppa, eunhyuk dan donghae mendapatkan kesempatan duluan di rias.

“aku dengan hyerim saja”, kata donghae sambil duduk di kursi yang paling dekat dengan hyerim. Senyum khasnya membuat muka hyerim memerah lagi. Leeteuk oppa sudah biasa dirias olehku jadi dia langsung duduk di kursi di dekatku, dan minje yang merias eunhyuk.

“sudah dari tadi datang?”, tanyanya padaku. Dia mematut-matut diri di cermin saat aku menyiapkan alat-alat rias.

“belum terlalu lama”, jawabku. Aku melihatnya yang masih mematut-matut, “potong rambut lagi ya?”, tanyaku.

“ne..”, ujarnya ringan, “bagus?”

“bagus”, kataku. Sebenarnya aku lebih suka potongan rambutnya sebelum ini, tapi sebagian tugas dari penata rias adalah untuk membuat artisnya percaya diri. Mengatakan hal yang sejujurnya belum tentu berakibat baik bagi mereka.

Beberapa menit kemudian keadaan menjadi hening. Kami semua sibuk dengan tugas masing-masing. Tanganku bergerak cepat di wajah leeteuk oppa.

“hahahahaha!”, tiba-tiba kyuhyun berteriak, mengagetkan aku yang sedang memberi lipstik pada leeteuk oppa dan menyebabkan lipstick itu jadi tercoreng sedikit di wajahnya. Aku segera mengambil tissue dan memperbaiki riasanku.

“apa lagi sekarang?”, tanya jongwoon dari seberang ruangan.

“aku menang hyung, akhirnya…”, kyuhyun meregangkan tangannya. Aku yang barusan melihatnya berpaling lagi ke wajah leeteuk oppa untuk melanjutkan riasanku.

“anak itu..”, gumam leeteuk oppa. Aku tertawa pelan.

“yak, sudah”, kataku.

“gamsahamnida”, ujar leeteuk, dia melihat tampilan dirinya di cermin. Dia lalu beranjak dari kursi.

Aku berbalik membelakangi kursi untuk memperbaiki letak alat-alat riasku di atas meja. “siapa selanjutnya?”, ujarku agak keras.

“aku”

Aku langsung melihat ke arah cermin. Lewat pantulannya, dapat kulihat jongwoon sudah menggantikan posisi leeteuk oppa duduk di kursi yang tadi. Jantungku berdetak keras. Lewat pantulan, pandangan tajamnya menusukku. Aku tersenyum padanya dan membalikkan badanku untuk menghadapnya.

“kau ini selalu muncul tiba-tiba”, ujarku.

Dia mendongakkan kepalanya, masih menatapku.

“aku tak merasa seperti itu”, katanya dengan nada tak bersalah.

Aku mulai mengolesi alas bedak di wajahnya. Dia menutup matanya. Aku melihatnya dan tertawa pelan. “kau tak pernah berubah”, kataku.

“begitu juga denganmu”

Jawabannya menghentikan gerakanku. Aku menatapnya. Matanya masih tertutup.

“jangan bicara seperti itu”, ujarku pelan, mulai mengoleskan alas bedak itu lagi. Dia tersenyum.

Dari awal aku mulai bekerja dengan mereka, tak pernah sekalipun aku merias jongwoon. Kemunculannya barusan benar-benar membuatku terkejut dan sedikit canggung. Baru kali ini aku menyentuh wajahnya untuk dirias. Kulitnya baru bagiku sehingga aku harus menyesuaikan riasan apa yang cocok untuknya.

Pembicaraan tidak dilanjutkan sampai aku selesai meriasnya. Selama dirias olehku, jongwoon menutup matanya. Aku memperhatikannya sebentar.

“sudah. Buka matamu”, kataku akhirnya setelah beberapa detik memandang wajahnya. Dia segera beranjak dari kursi dan pergi.

~flash back~

“kita putus saja”, kataku.

Angin menerbangkan rambutku dengan lembut. Aku menatap kekasihku yang sedang berdiri di depanku, pandanganku sedikit kabur karena bendungan airmata yang belum turun di mataku. Aku menangis karena keputusanku sendiri.

“kita putus?”, tanyanya. Air mukanya tak bisa ditebak.

“mianhae”, kataku.

Kami terdiam lama, hanya saling menatap.

“baiklah. Selamat tinggal”

Dia lalu berjalan menjauhiku. Suara burung terdengar dari atas pohon di mana aku berdiri di bawahnya. Angin terus berhembus. Aku menatap punggungnya yang makin menjauh.

“jongwoon…”

~flashback end~

“onni!”

Tangan hyerim yang bergerak-gerak di depan mataku membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya kesal.

“mwora?”

Hyerim saling berpandangan dengan  minje. Lalu mereka memandangku lagi.

“jadi dari tadi kau tak mendengarkan?”, kata minje.

Aku mengangkat alisku, “kalian tahu sendiri ‘kan kalau tadi aku termenung”, kataku enteng. Minje menggeleng-gelengkan kepalanya. “memangnya kalian tadi bicara apa?”, kataku, mengaduk-aduk isi tasku untuk mencari lipstick.

“tadi kami membicarakanmu..”, kata minje.

“..dan yesung oppa”, sambung hyerim.

Aku menolehkan pandanganku pada mereka dan berhenti mengaduk-aduk tas. Aku memandang mereka bergantian, jantungku berdebar. Tak mungkin mereka tahu, ‘kan?

“memang kenapa dengan yesung dan AKU?”, tanyaku, mencoba menenangkan diriku dengan berpura-pura mencari lipstick di dalam tas lagi. “lipstick-ku mana, sih?”, kataku mengalihkan pembicaraan. Tanganku masuk makin dalam ke dalam tas dan jantungku berdetak makin cepat. Jangan sampai mereka tahu.

“ini lipstick-mu”, kata minje, menyerahkan cerminku yang tergeletak di atas meja. Aku mengambilnya.

“onni, jangan mengubah topik”, kata hyerim.

Aduuh…

“maksudmu?”, kataku, masih pura-pura tak mengerti, berharap mereka mempercayaiku.

Minje berdehem dan memelankan suaranya, “kau dulu ‘ada apa-apa’ ‘kan dengan yesung?”

Aku menelan ludah dan memperbaiki posisi dudukku.

“info dari mana itu?”, tanyaku skeptis.

“jongmi onni”, kata minje dengan nada seperti berujar ‘nah! Tertangkap kau sekarang!’.

Jongmi onni. Yah, tentu saja dia. Dia dulu kakak kelasku dan sekarang dia juga bekerja di perusahaan yang sama denganku, tak mungkin dia tak tahu. Aiissh… mau bagaimana lagi?

Aku menghembuskan napas panjang dan memandang mereka bergantian.

“itu dulu”, kataku akhirnya.

Minje dan hyerim langsung memindahkan posisi duduk mereka menjadi lebih dekat denganku. Hyerim malah terlalu bersemangat sampai lututnya menabrak meja rias.

“bagaimana ceritanya, onni?”, tanya hyerim sambil menggosok-gosok lututnya yang terbentur.

Aku tersenyum melihatnya yang kesakitan. Minje membesarkan matanya, dan telinganya (?), bersiap mendengarkan ceritaku.

“aku tak mau cerita di sini. Nanti mereka datang”, kataku.

“jangan mengelak, Byora. Kau tahu sendiri mereka baru sepuluh menit yang lalu keluar, tak mungkin kembali secepat itu”, kata minje. Hyerim mengangguk-angguk mengiyakan. Aku melihat jam.

“baiklah”, kataku. “kami berasal dari sekolah yang sama. Lalu..”, aku mulai bicara dan mereka berdua duduk semakin dekat. “kami berpacaran selama satu setengah tahun. Saat itu dia belum debut dan sibuk sekali dengan latihannya”, aku berhenti sebentar untuk melihat reaksi mereka lalu melanjutkan lagi, “aku tak tahan karena karena dia selalu sibuk dan tak memperhatikan aku, akhirnya aku minta putus”.

Terdiam lama. Mereka tampaknya masih menunggu perkataanku selanjutnya. Aku memandang mereka.

“kenapa kalian diam?”, tanyaku sedikit kesal.

“lalu?”, kata hyerim.

“ya sudah begitu saja. Memangnya mau cerita apa lagi?”, kataku heran.

Mereka berdua mendengus.

“kau ini benar-benar”, kata minje.

“yak! Aku masih punya privasi. Kenangan manisnya cukup aku yang menyimpan”, kataku, tersenyum lebar melihat perubahan muka mereka.

“susah mendapatkan cerita bagus darimu!”, minje merias mukanya sendiri.

Aku nyengir dan mulai mematut diri di cermin. Suasana hening karena kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“pantas” kata minje tiba-tiba. Aku menoleh padanya. Dia masih mengoleskan lipstick-ke bibirnya.

“apanya yang ‘pantas’?” tanyaku. Minje menatapku.

“pantas selama ini yesung tak pernah dirias olehmu. Ada sesuatu yang mengganjal rupanya” katanya. Aku melihatnya sebentar dan mengalihkan pandanganku lagi ke cermin.

“tidak seperti itu juga..” kataku. Tapi bisa jadi sih, sambung otakku. Hening lagi.

“onni” panggil hyerim tiba-tiba, “kalian tahu kalau shindong oppa membuat account twitter?”

“makanan apa itu?” tanya minje. Aku menoleh padanya lalu memandang hyerim. Mulut hyerim ternganga.

“onni tak tahu twitter itu apa?” tanyanya tak percaya. Aku dan minje menggeleng. Hyerim memindahkan pandangan ke majalah yang dibacanya, mukanya berubah merah, “sebenarnya aku juga tak tahu itu apa. Tapi sepertinya heboh sekali”. Hyerim membalik majalah itu agar kami melihat isinya. Sebuah artikel dengan judul besar ‘SUPER JUNIOR SHINDONG MEMBUAT ACCOUNT TWITTER’.

“apa itu?”, tanya minje lagi, menyipitkan matanya. Aku mengangkat bahuku, memasukkan lipstick ke tas dan beranjak dari kursi.

“siapkan pembersih. Aku mau ke kamar kecil sebentar. Mungkin beberapa dari mereka akan datang sebentar lagi” kataku pada mereka berdua, berjalan cepat ke pintu keluar.

“kamar ‘kecil’ atau ‘besar’?”, celetuk minje. Hyerim menatapku, tersenyum. Aku nyengir sambil menutup pintu.

***

Aku melirik jonghwan, salah satu karyawan baru di perusahaan ini. Dari tadi entah sudah berapa kali dia melihat jam. Dia sedang membantuku menyusun daftar alat-alat rias apa saja yang harus dibeli.

“kau sudah ada janji?”, tanyaku padanya. Dia meringis.

“aku sudah janji dengan pacarku, dan handphone-ku bergetar dari tadi”, katanya, “tapi aku akan membantu sampai selesai”, dia membaca lembaran daftar lagi. Aku menatapnya.

“kau ini apa-apaan?”, kataku sambil merampas lembaran itu dari tangannya, “pergi sana, tak baik membiarkan pacarmu menunggu. Apalagi ini malam minggu. Aku bisa mengerjakan ini sendiri”

Dia menatapku, “nuna, aku tak menyangka kau bisa baik juga”, dia langsung membereskan peralatannya. Anak ini memang tak ada basa-basinya, pikirku.

“maksudmu?”, kataku pura-pura marah padanya.

“ani, nuna. Gamsahae. Semoga malammu menyenangkan”, katanya sambil beranjak pergi. Aku melihat ujung tangannya menghilang di balik pintu.

“menyenangkan?”, gumamku sendiri sambil melihat onggokan kertas yang masih berserakan di atas mejaku.

Entah sudah berapa jam aku duduk di ruangan ini. Mataku sudah capek melihat daftar alat-alat kosmetik. Suara dentuman musik terdengar sayup-sayup. Masih ada orang yang latihan. Aku melihat jam. Sudah hampir tengah malam. Tak hanya karyawan biasa, artis juga berusaha keras dalam pekerjaannya, karena itulah aku menghargai mereka.

Setengah jam kemudian pekerjaanku selesai. Aku menyusun lembaran-lembaran daftar itu dan membereskan perlengkapanku. Suara musik masih berdentum-dentum dari atas. Aku jadi penasaran siapa yang latihan. Tapi rasa kantukku lebih kuat.

Aku berjalan keluar ruangan, menuju ke arah lift. Mataku tertuju pada mesin pembeli minuman otomatis di depan lift. Aku melihat-lihat minuman yang ada di dalam mesin itu dan akhirnya memutuskan untuk membeli kopi. Kaleng kopi keluar dan aku segera membukanya. Setelah menghabiskan setengahnya, kantukku hilang. Aku jadi tergoda untuk ke lantai atas. Aku meminum sisa kopi tadi dan membuangnya di tong sampah.

“kau di sini?”

KLONTANG!

Kaleng kopi jatuh ke samping tong besi itu alih-alih masuk ke dalamnya. Aku memungut kaleng itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah, kemudian aku membalikkan badan untuk melihat siapa yang berbicara. Jongwoon berdiri di depanku. Jantungku mulai berdebar lagi.

“tugasku baru selesai” kataku sambil menggosok tanganku, “belum pulang?”.

Dia melangkah ke depan mesin itu dan menekan salah satu tombol. Saat kulihat apa yang dibelinya, ternyata kopi yang sama dengan yang aku beli tadi.

“aku latihan”, katanya sambil membuka kaleng kopinya dan meminumnya. Aku memperhatikannya.

“bukankah kopi tak bagus untuk suaramu?”, tanyaku, tak tahu harus berkata apa selain itu.

Dia menghabiskan isi kaleng itu dengan cepat lalu menyeka mulutnya dengan tangannya dan menatapku tajam. “suaraKU?”, katanya. Dia kemudian berjalan melewatiku untuk membuang kaleng kosong itu. Aku masih memperhatikannya.

“tubuhmu berubah”, kataku. Dia menyandar di dinding, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Dia menatapku lama sekali.

“aku latihan”, kata yang sama diulangnya. Entah kenapa jantungku makin berdetak keras saat dia mengatakan itu, entah mungkin karena tatapan tajamnya, aku tak tahu. “sudah malam. Kau tak pulang?”

“ah? Ne”, ujarku sedikit terbata. Sebagian hatiku ingin dia berkata ‘mau kuantar pulang?’ padaku. Dasar pabo. Tak mungkin dia berkata seperti itu. Apa aku masih mengharapkannya? “annyeong..”, ujarku sedikit membungkuk.

Aku menunggu pintu lift terbuka dan segera masuk ke dalamnya. Sebelum pintu lift menutup, aku sempat melihatnya yang masih memandangku.

Lift mulai bergerak turun. Tadi kalau tak salah dia berkata ‘kau di sini?’, apa dia mencariku?, pikirku. Tapi saat pintu lift terbuka, aku sudah tak memikirkan hal itu lagi.

***

“Byora-ssi!”, sebuah suara memanggilku. Aku membalikkan badan.

“ne” kataku sambil tersenyum, “ada apa sunbaenim?”

Dia lee seori, sunbae ku. Umurnya sudah kepala tiga. Dia yang mengawasiku saat aku baru bekerja di sini.

“byora-ssi, begini. Hari ini aku disuruh untuk merias yesung untuk penampilan solo pertamanya. Tapi aku tiba-tiba dapat telpon dari keluargaku bahwa ada urusan keluarga yang penting. Kau mau menggantikanku? Apa kau sibuk?”, jelas Seori sunbae.

“aniyo, sunbae. Tapi..”

“tolong gantikan aku ya?”, seori sunbae menggenggam tanganku. Tampangnya memelas. Aku jadi tak bisa menolak.

“baiklah. Dimana tempatnya?”, kataku akhirnya.

Seori sunbae memberikanku alamat tempat di mana jongwoon akan show.

“acaranya dimulai empat jam lagi. Kuharap kau bersiap-siap sekarang atau kau akan terlambat” kata seori sunbae, “jeongmal gamsahamnida, byora-ssi. Aku harus segera pergi sekarang. Annyeonghasimnikka”

“annyeonghasimnikka”, kataku sambil membungkuk.

Aku melihat alamat yang diberikan seori sunbae dan segera menuju ke parkiran. Waktunya tinggal sedikit, aku harus buru-buru.

***

Aku mencari ruangan rias jongwoon. Ternyata letaknya di sebelah selatan gedung. Banyak orang di sini dan semuanya tak aku kenal. Aku hanya tersenyum tipis pada mereka.

Akhirnya kutemukan ruangan itu. Aku mengetuk pintu dan membukanya. Aku melihat jongwoon yang sedang duduk di dalam, dia sedang memainkan handphone-nya. Dia duduk membelakangiku, menghadap ke cermin.

“mian, aku terlambat”, kataku. Dia mengangkat kepalanya dan memandang cermin. Mungkin melihat pantulan diriku di sana, dia segera membalikkan kepalanya.

“wae..?”, katanya sambil bangkit berdiri.

“seori sunbae tiba-tiba ada urusan mendadak. Aku diminta untuk menggantikannya” ujarku tanpa menatapnya. Aku meletakkan kotak riasku di atas meja rias di depannya dan mulai mengambil alat-alat yang aku perlukan. Aku meliriknya dari pantulan cermin dan jantungku berdegup kencang begitu tahu dia menatapku lewat pantulan itu. “bisa dimulai sekarang?”, tanyaku memecah keheningan. Tanganku sudah penuh dengan alat-alat make-up. Dia menutup matanya.

Tanganku mulai memolesi wajahnya. Ada getaran-getaran aneh saat tanganku menyentuh wajahnya. Untung dia menutup mata. Aku sudah mendengar lagu yang akan dibawakannya. Aku memberikan lebih banyak sentuhan gelap di matanya agar matanya terlihat lebih awas dan lebih cocok dengan lagu itu. Saat sentuhan terakhir, aku cukup puas dengan pekerjaanku.

“sudah”, kataku sambil menatap wajahnya. Dia membuka mata. Aku tersenyum melihatnya dan mulai membereskan perlengkapanku lagi. Dia diam.

“siapa penggantiKU?”, tanyanya tiba-tiba. Aku melihatnya. Lagi-lagi cermin menjadi perantara kami. Jantungku berdetak keras lagi. Kenapa di saat seperti ini..?

“tak ada”, kataku.

“sekarang?”, tanyanya lagi.

Aku menggeleng. Dia diam lagi. Tiba-tiba pintu terbuka.

“yesung-ssi? Giliranmu sebentar lagi”, kata seorang pemuda yang menggunakan headset di kepalanya. Jongwoon segera beranjak dari kursinya.

“aku juga”, bisiknya saat berjalan melewatiku. Seketika aku membeku.

Apa maksudnya itu??

=TBC=